Showing posts with label film. Show all posts
Showing posts with label film. Show all posts

Tuesday, July 2, 2024

Ampun Nyai (From "Darah Nyai")


"Ampun Nyai", lagu yang saya gubah bersama Wilman Anugrah (Bengkel Gemuruh) dan Woodgun Studio (Rizki Mulyadi dan Putra Seno), akhirnya muncul juga.

Ini bagian dari music score film "Darah Nyai", sebuah film horror-jagal-eksplisit besutan Yusron Fuadi dan skenario digarap oleh Hikmat Darmawan dan Azzam F Rullah.

Segera.

Nantikan music score dan OST lainnya dari kami.

Tersedia juga di Spotify

Monday, January 17, 2022

Sebagai Intelektual Publik di Tahun Pandemi Kedua


Sebagai seseorang yang pekerjaan utamanya adalah akademisi (tidak hanya dosen yang mengajar, tetapi juga riset, pengabdian pada masyarakat, pengembangan diri), saya sejak dulu tak mau di menara gading. 

Saya ingin ilmu saya bermanfaat dan berkah ke sebanyak mungkin orang. Karena itu, saya ingin menjadi intelektual publik. Istilahnya: Public Engagement, Beberapa langkah: Menulis di media massa/medsos, jadi pembicara/juri/kurator, diseminasi hasil riset dengan pendekatan popular, dll.

Berikut upaya saya berbagi ilmu di tahun 2022.

Silahkan klik link birunya untuk menonton.

Terima kasih.


Maret

Peluncuran dan diskusi buku Mujahid Film: Usmar Ismail.

Ada yang Unboxing segala nih


Mei

Webinar diseminasi hasil riset: Three "Ecological Monsters" in Bong Joon Ho's Film


Juni

Webinar Film FLP : Literasi, Ekologi dan Hati

Diseminasi hasil riset terkait isu lingkungan dan film, kali ini 

The (Anti)-Anthropocentric Perspectives in "Tarzan"

Juli

Menjadi Ketua Komite Film Dewan Kesenian Jakarta, yang di antaranya meliputi Kineforum, Madani Film Festival. Dan juga membantu Jakarta Film Week edisi perdana.

Diskusi Publik dilakukan di kanal YouTube DKJ. Di antaranya membahas Gelombang Kedua COVID19 dikaitkan dengan produksi film di era pandemi


Agustus

Darassinema


October

Webinar Indonesian Films (Programming) in Taiwan under New Southbound Policy Era

Oktober

Juri Nominasi FFI

Diwawancarai CNN Indonesia soal Layar Tancap


November

Board Festival Film Madani, salah satunya jadi pembicara 

MIFF 2021 - Discussion Asian Cinema: Sufism, Stories, Humour

Board Jakarta Film Week

Webinar: Teori dan Metodologi dalam Kajian Film di Indonesia: Tantangan dan Harapan


November-Desember

Kurator Dana Bantuan Pemerintah Pra-Produksi

Webinar 80th IRLS x FPCI Chapter BINUS University - Diplomacy Discourse: Film Diplomacy


December

Webinar Southeast Asian and Transnational Cinema bekerja sama dengan ASEACC (Association for Southeast Cinemas Conference).

Lagi-lagi membahas film B dan Eksploitasi Indonesia era Orde Baru. Diundang Universitas Airlangga.

Sunday, March 28, 2021

My newest Book, "Mujahid Film: Usmar Ismail", 5 Articles in English and 6 in Indonesian

My newest book, "Mujahid Film: Usmar Ismail" has 11 articles in it, 5 of them are in English. 

 Here's the table of content: 

 Chapter 1: Usmar Ismail: Sebuah Perkenalan  
  1. Introduction to Usmar Ismail
   2. Sang Mujahid Seni Indonesia

 Chapter 2:Ulasan Film 

 3. Tiga Menguak Usmar 

4. Tukang Obat dan Kampanye Caleg di Sinema Kita, 

 5. Harimau Tjampa: Kelindan Pencak Silat dengan Islam 

 Chapter 3:Lesbumi, Sensor, Politik 

6. Sensor dalam Film 

7. Lesbumi, Dari Jembatan Ulama-Seniman 

Chapter 4 :Warisan, Restorasi, dan Transnasionalisme 

8. Restoration of Lewat Djam Malam: The Importance, the Process, and the Obstacles 

9. Two Orphan Films by Usmar Ismail 

 10. Indonesia’s Three Sisters Movies, Cultural Importance, and the Legacy of Challenging the Society 

11. Revisiting Italian Neorealism: Its influence toward Indonesia and Asian Cinema or There’s No Such Thing Like Pure Neorealist Films 


You can buy the printed version (pre-oder) at Shopee, and the e-book version (you can by per chapter) at Storial.co. 


 BTW, Mujahid means people who are fighting againts/for something. Originally , it is an Islamic term. but I broaden the meaning, not only for Islamic purposes but for cultural/social/political ones as well. My book focuses on Usmar ISmail, considered as The Father of Indonesian Cinema, and his struggles for formulating the concept of "Indonesian cinema". it is important since Indonesia just got its independence in 1945 (and was acknowledged in 1949 by the dutch, the colonizer), and Usmar made his "first" film in 1950. Including his struggles between making his idealistic films and commercial ones, and defending for communist attempts (Paradoxically, he became the chairperson of "Traditional Muslim Cultural Institution", but later he owned the first night club in Indonesia).

Saturday, February 6, 2021

Budaya Film 1980an di Surabaya yang Membentuk Saya

Saat saya TK hingga kelas 6 SD pertengahan, saya ikut orang tua menetap di Surabaya. Secara tak langsung, budaya film yang ada di sana ikut membentuk saya mencintai film.


Salah satu pengalaman pertama tertua saya   menonton di Surabaya adalah Gundala Putra Petir (1981, tapi saya nontonnya beberapa tahun kemudian)  bareng-bareng teman se-kompleks saat kelas 4 atau 5. Beberapa yang tak terlupakan adalah seri Wali Songo, seperti Sunan Kaji Jogo vs Syeikh Siti Jenar (1985).   Tentu saja, tak ada yang mengalahkan pengalaman menonton Pengkhianatan G30S/PKI (1984)  di mana semua murid SD saya wajib untuk menontonnya--bayangkan seorang anak kelas 3 atau 4 SD menonton film yang penuh darah dan penyiksaan itu! Diwajibkan, berbondong-bondong, didampingi oleh guru secara resmi.

Hal lain adalah Surabaya Post, sebuah harian sore yang selalu saya nantikan, untuk dibuka di halaman belakang, yang berisi poster film dan jadwal bioskop. Ini rutin saya tunggu tiap petang, selain menunggi tukang video keliling yang menyewakan video-video dari pintu ke pintu.  Kami bisa beli atau sewa mingguan.

Beberapa video yang saya beli (atau, tepatnya: dibelikan) adalah Gaya Merayu (1980), dan kemudian Untung Ada Saya (1982, ingat Gepeng?)  dari Srimulat. Pilihan ini tentu tak lepas dari pengalaman saya diajak nonton pertunjukan Srimulat di THR--yang sepertinya turut mengasah selera saya di genre horor, mengingat mereka sering memainkan komedi horor.

Yang menarik, saya tak sengaja menyewa sebuah film yang rupanya ada adegan seks. Ini (selain membaca komik The New Teen Titans yang ada kisah Trigon ayah Raven, judulnya seingat saya The Terror of Trigon) adalah pengalaman saya menonton adegan porn seks, dimana sang penjahat menggilir wanita-wanita. Judulnya, kalau tak salah, Shaolin vs Lama (1983). Saat saya menonton dan kebingungan, orang tua saya tiba dan kaget. Saya juga kaget, "Oh ini gak boleh ditonton anak kecil, toh?

Budaya video ini menarik, karena memungkinkan seseorang, termasuk anak kecil seperti saya, bisa merekam acara dari TV, seperti Aneka Ria Safari (termasuk adegan lawak di tengah-tengahnya, sekitar 10-15 menitan), Operet Lebaran Papiko, dan...favorit kami semua: Paguyuban Lawak di setiap hari pertama Idul Fitri! Karena itu kami hapal lagu-lagu dan dialog-dialognya. Khususnya Warkop DKI-Bagito. Dengan budaya video, saya juga bisa mekloning video lain.


Tentu saja, tidak boleh dilupakan juga adalah ritual akhir pekan (selain ke Toko Nam atau Siola) adalah ke Trio Video Tara, toko rental video yang besar di dekat Hotel Hyatt Surabaya, dimana saya juga rutin diajak ke sana. Jauh sebelum ada istilah binge-watch, saya dan keluarga sudah menonton maraton serial silat seperti trilogi Legend of Condor Heroes/Sin Tiaw Eng Hiong (Kwee Ceng-Oey Young), Return of Condor Heroes/Sin Tiaw Hiap Lu (Yoko- Bibi Liong, debutan Andy Lau kalau tak salah), dan Demigods and SemiDevils/To Liong To (Tio Buki-Tio Beng). Di bulan Ramadhan, kami bisa menghabiskan waktu dari setelah shalat Tarawih hingga menjelang Sahur.

Tak lupa seri film-film robot dan tokukatsu seperti Voltus V, Megaloman hingga God Sigma.

Itulah beberapa hal yang secara langsung tak langsug membentuk selera dan kecintaan saya akan medium sinema. Tentu saja, sepertinya ini fenomena budaya pop yang terjadi di seantero Indonesia, khususnya kota-kota besar. Tapi saya mengalaminya saat di Surabaya.

Bagaimana dengan kalian?



 






Monday, March 9, 2020

"Pembunuh Meniru Film Horor (?)"

Apakah sebuah karya fiksi bisa mempengaruhi seseorang untuk melakukan kriminal seperti pembunuhan atau pemerkosaan?
Tentu saja saya sangat prihatin dan bersedih dengan adanya kasus pembunuhan seorang bocah 6 tahun yang dilakukan oleh seorang gadis yang mengaku terinspirasi dari film "Chucky" dan "Slender Man".
Tapi saya tidak lantas menelan mentah-mentah bahwa film sepenuhnya bisa mempengaruhi tindakan.
Saya termasuk yang sependapat dengan Asrul Sani. Seperti yang saya pernah kutip dalam tulisan yang tautannya saya sertakan di bawah ini, Asrul dalam “Film dan Sensor Ditindjau dari sudut Kreasi”, di majalah Aneka No. 25/VIII/1957 menyatakan bahwa ia menolak mitos bahwa film berbahaya dan menjadi salah satu sumber kejahatan. Ia mensitasi hasil penelitian dari Departmental Committee on Children and the Cinema, Inggris, yang mengkaji hubungan menonton film dan tindak kejahatan. Kesimpulannya, setelah peneliti banyak anak-anak di bawah 16 tahun, film tidak terbukti mempengaruhi mereka untuk berbuat kejahatan. Lantas, mereka meneliti 130 kriminal anak, dan kesimpulannya adalah:
” Sebab-sebab dari kedjahatan mereka itu dapat dikembalikan kepada keadaan rumah tangga jang djelek, kurangnja rasa kasih sajang orang tua mereka, dan kedjadian-kedjadian dalam hidup mereka jang menimbulkan sematjam ketakutan dalam diri mereka.”
Kedua, ia mengutip laporan tahunan dari Magistrates Association Inggris, 1948, yang menyatakan hal yang sama: tidak ada hubungan antara film dan kriminalitas anak muda. Terakhir, ia juga menjabarkan pendapat Bijdendijk (Ketua Panitia Sensor di Belanda) yang disiarkan di Utrech tahun 1956. Ia berkata: “Penjelesaian sebaik2 nja dari masaalah2 jang berhubungan dengan bioskop dan film terletak dalam pendidikan dan penerangan jang baik terhadap pemuda2, dan tidak terletak dalam tangan panitia sensor. Karena itu dalam bioskop djanganlah orang dengan penuh rasa ketakutan mentjoba mendjauhkan pemuda-pemuda kita dari hal-hal jang dalam kehidupan sehari-hari jang kedjadiannja tak bisa dielakkan.”
Bagi Asrul, yang saya amini, biang keladinya bukan pada film itu sendiri, melainkan pada pendidikan dan kehidupan berumahtangga.
Intinya adalah: film--sebagaimana musik, agama, negara, olahraga--ditafsirkan sejauh mana penafsiran orang terhadapnya. Ia bisa berubah menjadi hal yang positif, menyerukan kebaikan. ia bisa diubah menjadi virus kebencian dan kejahatan. Ia bisa menjadi alat pemersatu sekaligus alat pemecah belah. Dan peran orang tua dan guru serta lingkungan juga mempengarui perspektif seseorang terhadap film (dan musik, agama, negara, olahraga).
Saya termasuk yang setuju dengan sensor dalam bentuk klasifikasi usia yang diterapkan secara ketat dan terukur. Dan ini terkait dengan peran orang tua/guru/lingkungan dalam membentuk jiwa, akhlak, dan konsep diri seseorang. Bahwa diskusi sebelum dan setelah menonton film untuk film-film yang PG (parental guidance suggested) atau BO (bimbingan orang tua), adalah penting. Ini juga terkait dengan upaya peningkatan apresiasi dan literasi terhadap film: Bagaimana melatih anak-anak sedini mungkin untuk "melek film" dan menjadi "penonton aktif", tidak lantas melarutkan gejolak perasaannya dan mencari pembenaran dalam (dan mengkambinghitamkan) sinema.
Selama masih ada anak kecil menonton Deadpool atau ada yang marah-marah karena film Warkop Reborn (yang buat remaja) menampilkan adegan yang tidak layak ditonton balita (padahal itu bukan film anak-anak), dan/atau tidak ada diskusi yang proper kepada mereka, ya....begitulah.
Tentu saja banyak orang yang tidak sepakat dengan pemikiran saya. Tidak masalah. Beda pendapat itu lumrah. Mari kita diskusi dan mencari solusi terbaik soal ini.
Saya tutup status ini dengan mengutip formula dalam "Law and Order: Special Victim Unit" yang dulu saya rajin ikuti. Dalam banyak episode selalu ada perdebatan seputar hal ini:
- Berapa banyak orang yang menonton film porno, tapi berapa persen yang berubah menjadi pemerkosa?
- Berapa banyak orang yang menonton film horor dan pembunuhan, tapi berapa yang kemudian menjadi pembunuh?
Wallahua'lam.

Monday, November 5, 2018

"Bohemian Rhapsody" dan Sinema yang Magis

Demam film “Bohemian Rhapsody” melanda Indonesia. Para kritikus film pun mempertanyakan soal akurasi faktual (seperti perpecahan sebelum Live Aid, atau pengumuman Freddy Mercury kena Aids).
Menurutku, akurasi (khususnya yang terkait dengan cerita) tak terlalu penting di untuk konteks film ini. Memang cerita agak lemah. Tapi ini film fiksi dan ini bukan karya ilmiah. Dan film BUKANlah Realitas, dan tidak ada kewajiban untuk plek2an seperti realitas. Film adalah representasi, bukan gambaran realitas. Skenarionya pun sudah di-acc kedua anggota Queen lainnya.
Ysng jauh lebih penting adalah bagaimana film ini melibatkan penontonnya. Mereka bernyanyi (sing along), bertepuk tangan (di bioskop sekelas plaza senayan!), ikut terharu, tersihir oleh kekuatan magis sinema. Berapa banyak film yang mampu melakukannya?
Tak hanya itu, mereka membahasnya di media sosial. Dan menontonnya berkali-kali. Ini adalah contoh media cult: dirayakan, ditonton berulang-ulang, secara “militan”. Tentu yang cult adalah Queen, Freddy, dan lagu-lagunya. Apakah filmnya akan berstatus cult, hanya waktu yang dpt menjawabnya.
Kembali ke soal cerita yang “ banyak yang tidak akuratnya”: sutradara, penulis skenario, dan para produser (termasuk 2 anggota Queen) memilih dan memilah mana yg masuk dan yg tidak, juga soal sudut pandang dan penonjolan tema tertentu. Dan itu sah2 saja.
Tentu saya kecewa gak ada bicycle ride dan flash gordon, misalnya. Atau kurang dalamnya soal Freddy yg adalah “Great Pretender” (ada di salah satu dokumenternya). Tapi itu pilihan, mau mengambil “realitas” yg mana?
Bahkan dalam dokumenter pun, terjadi pemilihan dan pemilihan sudut pandang, tema, dll. Tidak ada yg benar2 akurat dalam konteks “menggambarkan kenyataan yg sebenarnya”.
Saya memilih untuk merayakan film ini dan menikmatinya, ikut terseret peduli dengan seorang anak yg misfits, minoritas dan sering dibully (imigran, non-putih, tonggos, gay, penderita AIDS), yang acap kesepian, tapi jenius dalam bermusik. Dan dicintai jutaan penggemarnya.
(Malek, dalam satu wawancara, pernah menyatakan betapa kesepiannya Freddy, yang tercermin dalam lirik-lirik lagu yang ia ciptakan. )
Saya bersama para penonton yang memilih untuk terpukau dan tersihir dengan film ini. Karena..it’s a kind of magic.

Monday, April 16, 2018

Film Tourism Indonesian Style: The Cases of Laskar Pelangi and Eat Pray Love

by Ekky Imanjaya & Indra Kusumawardhana

COMMUNICARE Journal Vol 3 No 2 (2016).
Published: 21/03/2018

Link: http://journal.lspr.edu/index.php/communicare/article/view/17 

Abstract
Film-induced tourism becomes a new emerging issue in tourism and scholarly research for the last 10 years. London’s “Harry Potter” series and New Zealand’s “Lord of the Rings” are among the best practices of the trend. On the other hand, Indonesia is a country with many beautiful places to visit by both local and international tourists. The number of visitors increases significantly every year. However, there is no contribution from film industry, both from local or international production, related to this increasing numbers of tourists, not before national movie production “Laskar Pelangi, 2008” (Rainbow Troops, 2008) by Riri Riza, and international box office movie production “Eat, Pray Love, 2010”. The study research will discuss about film induced tourism issues in Indonesia, particularly on why and how the two films--so far, until recently, only those two films--became phenomenon in film tourism--and why other films did not.

Download for free:  




















Saturday, May 20, 2017

Unduh Gratis: Buku "Menjegal Film Indonesia"


Judul: Menjegal Film Indonesia: Pemetaan Ekonomi Politik Industri Film Indonesia
Tahun: 2011
Penerbit: Perkumpulan Rumah Film Indonesia dan Yayasan TIFA
Tim  Peneliti dan Penulis: Eric Sasono,  Ekky Imanjaya,  Ifan Adriansyah Ismail,  Hikmat Darmawan

Abstraksi:
Banyak orang tak percaya bahwa industri film Indonesia
sudah ada. Belum ada  infrastruktur, riset dan pengembangan
dan berbagai lembaga  dalam perfilman kita layaknya
yang ada pada sebuah kegiatan  industri. Jika pun ada, bisa
dibilang bahwa industri film  Indonesia masih berupa industri
rumahan; sebuah industri  berskala kecil ke menengah dan
dikerjakan tanpa hubungan  kerja yang jelas.
Inilah sebuah tinjauan yang  mencoba melongok lebih jauh
ke tiga subsektor dalam industri  perfilman kita (jika ada) yaitu  subsektor produksi, distribusi  dan eksebisi. Tidak seluruh  aspek memang dijelajahi  mengingat luasnya subyek ini.   Namun apa yang tergambar di  buku ini bisa menjadi awal bagi sebuah tinjauah lebih dalam  untuk memahami film, yang tak hanya merupakan barang  hiburan, tapi juga merupakan barang publik yang bersentuhan  dengan orang banyak lewat  berbagai cara.

link: https://drive.google.com/drive/folders/0B4N-Lj-NTlIlc2lxMTM2Ul9PRWs?usp=sharing
Alternatif link: https://www.academia.edu/33119861/Menjegal_Film_Indonesia_Pemetaan_Ekonomi_Politik_Industri_Film_Indonesia 

Resensi dan berita:
1. Peluncuran Buku Menjegal Film Indonesia (Filmindonesia.or.id)
2.  Ssst...Ada yang Menjegal Film Indonesia! (Detikhot.com)
3. Peta Awal Industri Film Indonesia - Gatra
4. Bedah buku Menjegal Film Indonesia: Pemetaan Ekonomi Politik Industri Film Indonesia (Bekraf.go.id)
Dissecting the Indonesian Film Industry



Saturday, August 20, 2016

Bagaimana Mencari Film Jadul Indonesia?

 Ada banyak sumber cari film jadul indonesia asli 
(1) sinematek indonesia 
(2) Karyamas Vision (Hayam Wuruk Glodok Harco,021-6244789) & Navirindo Audio Visual (0214205444, navirindo@cbn.net.id) . Sekarang sudah makin jarang, dan adanya di Glodok dengan paket jumbo, misalnya 8 in 1, dan ada temanya: Film-Film Barry Prima, atau Film-Film Perjuangan

(3) sebuah toko kasud di chow kit, kuala lumpur punya vcd2 film indonesia asli dengan distributor dari malaysia 
(4) khususnya 16mm di berbagai pemilik layar tancap 
(5) film2 yang diekspor di tahun 1980an banyak bootlegnya dan diterbitkan ulang, antara lain oleh mondomacabrodvd dan troma team. 
(6) kadang ada yg dapat aja 35mm nya seperti "darna ajaib" diputar di pusan dan "duo kribo" di kineforum 
(7) ada yg sudah direstorasi seperti lewat djam malam, tiga dara, dan film2 warkop/benyamin/rhoma irama yg hak2nya ada di falcon.

Saturday, August 13, 2016

Sungguh Keterlaluan: Kesan Awal Buku "Sinema di Masa Sukarno"


SUNGGUH KETERLALUAN!




Mengutip film “Badut-Badut Kota”: Sungguh Keterlaluan buku “Sinema Pada Masa Sukarno”, Pak Tanete, Mas Seno, dan segala diskusinya. Sungguh keterlaluan, mengapa buku ini baru beredar sekarang, di tengah-tengah saya sedang dalam tahap akhir penulisan tesis saya. Kenapa tidak dari dulu-dulu?

 

Tentu saja saya belum baca buku ini. Tapi melihat diskusi itu, ada beberapa perasaan yang campur aduk. Pertama, tentu saja sangat bergembira setengah mupeng, ingin sekali membaca dan menelaahnya. Kedua, ingin berucap: Sungguh keterlaluan. Mengapa?

 

  1. Melihat dari diskusi itu, saya melihat bahwa salah satu sumbangan terbesar buku ini adalah dalam hal metodologi dan metode penelitian. Sumber primer dari mana saja, termasuk koran kuning. “tidak ada hirarki teks”, kata mas Seno.  Dan penelitiannya berfokus pada konteks, bukan lagi pada teks atau estetika film.
    Saya harus meraba-raba dari mana mulai, saat awal-awal riset dimulai. Akhirnya saya menemukan istilah “New Cinema History” yang mengupas film dari sisi ekstrinsik, bukan intrinsik. Misalnya, dibahas di buku Maltby (2011). Intinya, pendekatan semacam ini mempertimbangkan sirkulasi dan konsumsi dan untuk menelaah sinema sebagai situs sosial dan pertukaran budaya.
    Buku lainnya ditulis oleh James Chapman, Mark Glancy, and Sue Harper, berjudul The New Film History: Sources, Methods, Approaches.  Yaitu, investigasi empiris yang menganalisa sumber primer yang dikaitkan dengan produksi dan resepsi film.
    INTINYA, bagaimana film dibentuk oleh kombinasi dari proses sejarah.
    Eric Schaefer, misalnya, dalam Daring! Shocking! True! A History of Exploitation Films, 1919-1959, mnenyatakan metodenya sebagai  “Empirical Imperative”.

 Sebelumnya, ada juga  Thomas Elsaesser dkk yang mulai membuat metode ini ngetren.

Kini, sudah ada beberapa penelitian dengan pendekatan seperti ini, sebenarnya. Nah, mengapa bukunya pak Tanete penting: Karena (1)  ini ditulis 47 tahun lalu, sebelum gerakan ini terkenal, (2) dan tentang film Indonesia, (3) dan konteksnya adalah saat elit budaya sedang giat-giatnya menghegemoni dengan bingkaian konsep  “film nasional” versi mereka, (4) dan kajiannya (akademis, popular, jurnalistik) didominasi oleh estetika atau sisi intrinsik film.

Saya sendiri, sedang meneliti “Film di Jaman Suharto”, dengan amatan khusus ke film-film eksploitasi/B.  saya juga memakai majalah, koran, buku acara, dll. Dan sedikit banyak, analisa saya melawan arus pemikiran para elit budaya--para pemikir yang karya-karyanya saya baca dan  gemari.  Ini selaras dengan semangat akademis di kampus saya, University of East Anglia, yang menekankan kajian arsip dan juga kajian kepenggemaran dan kepenontonan (politik budaya, ekonomi budaya, dll) selain kajian film-B.

Tapi, buku itu ditulis 47 tahun lalu,  oleh akademisi Indonesia dan mengambil kasus Indonesia.  Sungguh keterlaluan, mengapa buku ini baru terbit sekarang? :)


Jadi, saya kira buku ini sangat relevan dan menjadi pemicu semangat saya. Nah masalah kedua:
2 Hasil akhir buku Pak Tanete, menurut Mas Seno, adalah mengalir lancar dan penting. Juga mengungkap hal-hal baru yang belum dikenal atau melawan pengetahuan umum tentang film.   Saya jadi merenung, bagaimana dengan karya saya? Apakah penelitan saya nantinya akan sepenting ini, dan dampak/manfaatnya bisa seluas itu? Riset saya memang belum selesai, tapi semoga bisa menyumbangkan sesuatu bagi kebijakan publik, kajian film dan sejarah, dan kajian film dan budaya/media pada umumnya.



 

 

https://www.youtube.com/watch?v=30EL5AH5-EI&feature=youtu.be

 


Friday, February 12, 2016

Call for Papers: 2 Film-related Panels at ASEASUK, SOAS, London 16-18 September 2016

ASEASUK 2016, SOAS University of London, 16-18 September 2016).
At least, there are two film-related panel proposals that have been accepted by Britain's national association for South-East Asian studies (ASEASUK) conference. If you wish to join a panel please email the convenor directly. Panel sessions will normally include five papers of 20 minutes each (including time for questions) or four papers and a discussant.
1) Politics of Tastes in Southeast Asian Cinema:
https://www.soas.ac.uk/…/aseasuk-conference-…/file109439.pdf(convenors: Ekky Imanjaya-full (University of East Anglia) & Tito Imanda(Goldsmith, University of London)
2) Emerging trends in SEA Literature and Screen Cultures
https://www.soas.ac.uk/…/aseasuk-conference-…/file109440.pdf . Convenors: Dr Dana Healy (SOAS), Dr Felicia Hughes-Freeland (SOAS), DrBen Murtagh (SOAS)
The full list of accepted panel proposals:
https://www.soas.ac.uk/…/aseasu…/accept-panel-proposals.html

for the first one, please email me at eimanjaya@yahoo.com by 30th of March. Thank you