Sunday, May 10, 2026

"Pangku": Melampaui Jebakan "Poverty Porn"

 Pangku: Melampaui Jebakan Poverty Porn

Ada kekhawatiran yang jamak muncul ketika sineas kita menyentuh ranah marginal: terjatuh dalam kubangan poverty porn--alias mengeksploitasi kemiskinan dan ketidakberdayaan kaum lemah. Premis ibu tunggal, kemiskinan struktural, hingga remang-remang jalur Pantura biasanya hanya jadi komoditas air mata atau eksploitasi kemalangan demi estetika semu. Namun, Pangku hadir sebagai "kuda hitam"--"menyalip" Sore: Istri dari Masa Depan dan Pengepungan di Bukit Duri pada FFI 2025--sekaligus kejutan manis yang membalikkan asumsi tersebut.

Reza Rahadian, yang untuk pertama kalinya duduk di bangku sutradara, menunjukkan kematangan visi, hal yang ia sudah serap sejak ia datang ke lokasi tersebut sekitar 2017. Ia tidak mengeksploitasi dunia "Kopi Pangku" atau pelacuran kelas teri sebagai objek tontonan yang merendahkan. Sebaliknya, Reza memilih jalan yang lebih bermartabat: memanusiakan.



Lewat mata kamera yang empatik, kita tidak dipaksa untuk merasa iba secara dangkal. Kita justru diundang untuk menyaksikan sebuah perjuangan hidup yang merdesa—sebuah upaya untuk sekadar punya hak untuk berharap di tengah kepungan nasib.

Bukan kamera yang "mengintip" dari kejauhan dengan lensa tele seolah melihat spesimen di kebun binatang, melainkan kamera yang "hidup" bersama karakter. Misalnya, saat Sartika, sang ibu tunggal sedang bersiap-siap berangkat bekerja ke warung kopi remang-remang. Kamera tidak menyorot tubuhnya secara seksual, melainkan fokus pada detail-detail kecil yang manusiawi: jemarinya yang gemetar saat memulas gincu murah, atau pantulan matanya di cermin retak yang menunjukkan kelelahan luar biasa namun tetap harus tegar demi anak. Kamera berada pada ketinggian level mata (eye level), menciptakan kesetaraan antara penonton dan karakter.

Dan juga, orang miskin juga perlu hiburan, seperti manusia lainnya. Dan lagu Rayuan Perempuan Gila dari Nadin Amizah memberikan konteks ini, dengan penafsiran yang berbeda.

 Film yang sudah tayang di Netfilx ini  adalah sebuah pernyataan keberpihakan. Alih-alih menjadikan kemiskinan sebagai sumber tearjerker yang manipulatif, Pangku berhasil memotret denyut nadi rakyat jelata yang selama ini terpinggirkan dengan penuh rasa hormat. Kemiskinan di sini adalah latar, bukan komoditas. Fokusnya bukan pada "betapa miskinnya mereka", tapi pada "betapa gigihnya manusia di balik kemiskinan tersebut.

Dan, ah! sebuah lagu yang sangat kuat yang menutup film ini: Ibu dari Iwan Fals yang dinyanyikan ulang! Simbol ketegaran ibu tunggal yang terus berjuang. Sama kuatnya saat lagu Mimpi dari Anggun C Sasmi menutup film Yuni. Perempuan adalah makhluk paling tegar di muka bumi.

Sebuah debut penyutradaraan yang membuktikan bahwa sinema Indonesia masih punya ruang untuk empati yang jujur, bukan sekadar dramatisasi yang mengeksploitasi.

Monday, April 20, 2026

Me-roasting Indonesia dari Balik Jeruji

Me-roasting Indonesia dari Balik Jeruji

 

Membaca karya terbaru Joko Anwar ini seperti melihat sang sutradara kembali ke "khitah" sebagai seorang jenaka sejak film perdananya, yang sekaligus gemar bermain-main dengan satir gelap. Joko sekali lagi menunjukkan sisi humorisnya yang tajam—mungkin yang paling cair yang pernah kita lihat dalam satu dekade terakhir. Film ini sepertinya adalah hasil dari “latihan” panjang Joko di film-film komedi yang ia tulis maupun sutradarai, seperti kegilaan dalam Quickie Express, Janji Joni, hingga Orang Kaya Baru. Namun, elemen humor tersebut berkelindan secara organik dengan intensitas film-film gory dan kelam miliknya, sebut saja Pintu Terlarang, Kala, Modus Anomali, Pengabdi Setan, Perempuan Tanah Jahanam, hingga Siksa Kubur.



Secara komedi, film ini terasa jauh lebih meledak, namun masih terasa mudah dicerna,  dibanding karya-karya ringannya yang dulu. Namun, jangan salah sangka; ini bukan sekadar komedi slapstick. Joko menyentil sana-sini dengan keberanian yang terasa sangat effortless, seolah ia sedang dalam mode nothing to lose alias “Bodo Amat!”. Sejak menit pertama, kita langsung disuguhi kritik sosial yang pedas namun disampaikan dengan gaya "joke pinggir jurang", di mana film ini menjadi cermin retak bagi realitas kita melalui penggambaran eksploitasi ilegal hutan dan tambang,  hukum yang tebang pilih, fasilitas mewah bagi tahanan korupsi, fenomena religiositas dangkal atau mabuk agama, hingga puncaknya pada dilema moral lewat pertemuan tragis antara koruptor masa kini dengan versi muda dirinya yang dulunya super  idealis—sebuah momen yang benar-benar "jleb!".

Meski lucu, Joko tidak meninggalkan tanda tangan estetikanya yang kelam. Semua karakter di sini memiliki purpose yang jelas dan didesain dengan sangat matang. Tidak ada karakter yang hanya sekadar lewat, mulai dari sang Profesor, penipu lewat telepon, anak dukun, hingga aktivis rohis. Penjara di sini bukan sekadar latar, melainkan miniatur Indonesia dengan segala kerumitan survival mode-nya. Satu hal yang menyenangkan  Joko—yang selalu punya playlist musik dan menjadikannya inspirasi saat berproses—kini  kembali reuni  lewat band lamanya, 5pagi, yang memberikan nyawa tersendiri pada soundtrack-nya.

Dan bicara soal akting, kita harus angkat topi untuk Aming. Ini adalah penampilan terbaiknya! Ia memberikan performa yang sangat dalam; rasanya minimal nominasi Piala Citra sudah di tangan.

Suasana studio Tari, lengkap dengan "Tetes Kedes, Nengok"-nya juga tetap menempek di kepala. Pun dengan adegan lainnya: Adegan Tarung Abimana x Morgan Oey.

Sebagai catatan penutup (dan ini bukan spoiler), bagi yang dulu sempat mencicipi bangku kuliah Filsafat, film ini akan terasa sangat bernostalgia. Kapan lagi kita bisa mendengar petuah-petuah dari Aristoteles, Kierkegaard, Adler, hingga Freud dalam sebuah film yang membuat kita tertawa terbahak-bahak?  Singkatnya: Sebuah tontonan yang cerdas, brutal, sekaligus sangat lucu.

Terrifyingly funny! Hilariously gory!

Joko Anwar dkk sedang bersenang-senang sambil sentil sana sini. Dan kita beruntung diajak ikut serta.

 

 Ghost in the Cell (Joko Anwar, 2026)

 

Wednesday, January 7, 2026

"THE PARADOXICAL POLICIES, POLITICS OF TASTES, AND" by Ekky Imanjaya

"THE PARADOXICAL POLICIES, POLITICS OF TASTES, AND" by Ekky Imanjaya


Although the New Order Regime (1966-1998) was widely known for its strict censorship and government control, there was a simultaneous rise in producing exploitation films with graphic and provocative images. This kind of cinema was exported internationally in the 1980s and re-released in the 2000s by transnational DVD distributors. This article analyzed the transformation of exploitation films, which were disregarded and undervalued by the Government, cultural elites, and cinema critics. It explored how these films became a battleground for the politics of taste and resulted in a series of contradictions within the political policies of the New Order. The study focused on policy studies, examining film-related policies (such as presidential decree and censorship regulations), and analyzed the findings by thoroughly examining the regulations’ trends, patterns, and anomalies. As a result, paradoxically, the New Order had to undertake trial and error towards the films that they were actually shunned, which resulted in the blooming of this kind of movie.