Me-roasting Indonesia dari Balik Jeruji
Membaca
karya terbaru Joko Anwar ini seperti melihat sang sutradara kembali ke
"khitah" sebagai seorang jenaka sejak film perdananya, yang sekaligus
gemar bermain-main dengan satir gelap. Joko sekali lagi menunjukkan sisi
humorisnya yang tajam—mungkin yang paling cair yang pernah kita lihat dalam
satu dekade terakhir. Film ini sepertinya adalah hasil dari “latihan” panjang
Joko di film-film komedi yang ia tulis maupun sutradarai, seperti kegilaan
dalam Quickie Express, Janji Joni, hingga Orang Kaya Baru.
Namun, elemen humor tersebut berkelindan secara organik dengan intensitas
film-film gory dan kelam miliknya, sebut saja Pintu Terlarang, Kala, Modus
Anomali, Pengabdi Setan, Perempuan Tanah Jahanam, hingga Siksa Kubur.
Secara
komedi, film ini terasa jauh lebih meledak, namun masih terasa mudah dicerna, dibanding karya-karya ringannya yang dulu.
Namun, jangan salah sangka; ini bukan sekadar komedi slapstick. Joko
menyentil sana-sini dengan keberanian yang terasa sangat effortless,
seolah ia sedang dalam mode nothing to lose alias “Bodo Amat!”. Sejak
menit pertama, kita langsung disuguhi kritik sosial yang pedas namun
disampaikan dengan gaya "joke pinggir jurang", di mana film
ini menjadi cermin retak bagi realitas kita melalui penggambaran eksploitasi ilegal
hutan dan tambang, hukum yang tebang
pilih, fasilitas mewah bagi tahanan korupsi, fenomena religiositas dangkal atau
mabuk agama, hingga puncaknya pada dilema moral lewat pertemuan tragis antara
koruptor masa kini dengan versi muda dirinya yang dulunya super idealis—sebuah momen yang benar-benar
"jleb!".
Meski lucu, Joko tidak meninggalkan tanda tangan
estetikanya yang kelam. Semua karakter di sini memiliki purpose yang
jelas dan didesain dengan sangat matang. Tidak ada karakter yang hanya sekadar
lewat, mulai dari sang Profesor, penipu lewat telepon, anak dukun, hingga
aktivis rohis. Penjara di sini bukan sekadar latar, melainkan miniatur
Indonesia dengan segala kerumitan survival mode-nya. Satu hal yang
menyenangkan Joko—yang selalu punya playlist
musik dan menjadikannya inspirasi saat berproses—kini kembali reuni lewat band lamanya, 5pagi, yang memberikan
nyawa tersendiri pada soundtrack-nya.
Dan bicara soal akting, kita harus angkat topi untuk
Aming. Ini adalah penampilan terbaiknya! Ia memberikan performa yang sangat
dalam; rasanya minimal nominasi Piala Citra sudah di tangan.
Suasana studio Tari, lengkap dengan "Tetes Kedes, Nengok"-nya juga tetap menempek di kepala. Pun dengan adegan lainnya: Adegan Tarung Abimana x Morgan Oey.
Sebagai catatan penutup (dan ini bukan spoiler), bagi
yang dulu sempat mencicipi bangku kuliah Filsafat, film ini akan terasa sangat
bernostalgia. Kapan lagi kita bisa mendengar petuah-petuah dari Aristoteles,
Kierkegaard, Adler, hingga Freud dalam sebuah film yang membuat kita tertawa
terbahak-bahak? Singkatnya: Sebuah
tontonan yang cerdas, brutal, sekaligus sangat lucu.
Terrifyingly
funny! Hilariously gory!
Joko
Anwar dkk sedang bersenang-senang sambil sentil sana sini. Dan kita beruntung diajak ikut serta.
Ghost in the Cell (Joko Anwar, 2026)