Showing posts with label film indonesia. Show all posts
Showing posts with label film indonesia. Show all posts

Friday, April 6, 2018

"Marlina the Murderer in Four Acts" with Introduction and Q&A, Bristol, 24/4



'Marlina: women and gender issues in Indonesia'
Film Screening of "Marlina the Murderer in Four Acts" with Introduction and Q&A
Rating: 15+
Watershed, Bristol, Tuesday, 24 April 2016, 18.00
With: Hana A Satriyo (expert on Gender and Women’s participation)
Ekky Imanjaya (PhD candidate in Film Studies at University of East Anglia/Lecturer at Bina Nusantara University).
Considered one of the most significant films to emerge from Indonesia in recent years, female director Mouly Surya '"Marlina the Murderer in Four Acts" deals with multiple layers of gender and women issues within the country, through the vehicle of, as critic Maggie Lee puts it, “female-driven journey of vengeance and justice” which tells a story about “… a revenge fantasy rooted in Indonesia’s gender conditions, complex regional culture and the stark beauty of its landscapes” (Variety, 26/5 2017).
Labelled as pioneering a new genre called “Satay Western”, the film was selected and screened at 2017 Cannes Film Festival’s Director Fortnight. It traveled around many film festivals all over the world and got some prestigious awards such as Best actress ( Sitges International Fantastic Film Festival), Best Director (Netpac Award, Five Flavours Film Festival), Grand Prize (Tokyo FILMeX2017), Special Mention (Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2017), and Best scenario ( Festival International du Film de Femmes de Salé).

To celebrate both the film's theatrical release in the UK and Kartini Day (21st April is the anniversary of the birth of Raden Ajeng Kartini, one of Indonesian's first feminists), the Watershed has organized a discussion event on contemporary women and gender issues within Indonesian and Southeast Asian national contexts. Hana A Satriyo and Ekky Imanjaya will give the introduction and hold a Q&A session covering a range of women and gender issues, ranging from the patriarchal cultures in general to the roles of women in Indonesian film industry.
All are welcome.
Buy the tickets here (Tue, 24/4, 6pm): https://uk.patronbase.com/_Watershed/Seats/NumSeats?prod_id=12BL&perf_id=5&section_id=M&action=&seat_type_id=STAN&_ga=2.72610643.1375548281.1522857159-1317473638.1522857159
More details about the screenings of "Marlina" in Watershed
https://www.watershed.co.uk/whatson/8866/marlina-the-murderer-in-four-acts/
Co-organized by Ekky Imanjaya & Toby Reynolds

Wednesday, May 24, 2017

" New Cinema History" dan Kajian Film Indonesia

Oleh Ekky Imanjaya
Mengapa, dibandingkan dengan resensi film,  masih sedikit tulisan, baik popular berupa laporan jurnalistik dan kritik film atau karya ilmiah, yang menganalisa sejarah bioskop/penonton, politik selera, atau mengkritisi  paradoks kebijakan film Indonesia? Mungkin salah satu jawabannya, karena pedekatan New Cinema History (NCH) kurang popular di Indonesia.

NCH adalah istilah yang diperkenalkan oleh Richard  Maltby. Dalam buku Explorations in New Cinema History:Approaches and Case studies (2011),  Maltby menyatakan bahwa tujuan Sejarah Sinema Baru adalah untuk “mempertimbangkan (pentingnya) sirkulasi dan konsumsi film, dan untuk menguji sinema sebagai situs pertukaran sosial dan budaya”. 

Mathijs dan Mendik dalam bukunya The Cult FilmReader (2008),  menyatakan ada dua pendekatan kajian sinema, yang bisa juga diterapkan secara umum.  Yang pertama adalah kajian teks atau pendekatan ontologis.  Kajian ini umumnya menerapkan teori esensialis dimana sang kritikus atau peneliti berupaya untuk mendefinisikan atau menganalisa elemen intrinsic dari film--seperti genre,   gaya,  sifat, atau akurasi estetika--serta mencari topik-topik yang berulang dan memaknai film sebagai upaya alegori, metafora, atau malah tujuan atau pesan  sineasnya.    Tak jarang, teori dan konsep dari ilmu susastra dan seni rupa mendominasi kajian ini, dan fokusnya pada estetika film.

Yang kedua adalah pendekatan sosiologis atau fenomenologis.  Kebalikan dari yang di atas, yang ditekankan adalah unsur ekstrinsik dari film, seperti yang dilakukan peneliti NCH.  Umumnya, pendekatannya adalah seputar penonton dan resepsi film, seperti moral panic, kontroversi dan  gangguan sosial kultural dalam masyarakat saat itu, hirarki selera, atau jaringan akses.  
Ciri-ciri khas dari kajian ini adalah upaya untuk mengambil sumber primer sebagai data-datanya--seperti berita-berita di koran dan  majalah,  resensi, produk undang-undang, karya-karya (apresiasi) penggemar. Jadi, tidak hanya mengutip dari tulisan atau pendapat akademisi, kritikus, atau jurnalis film, apalagi main comot dari situs maya tak jelas.   Menurut  James Chapman, Mark Glancy, dan Sue Harper dalam  The New Film History: Sources,Methods, Approaches (2007)¸ NCH melakukan investigasi empiris terhadap sumber primer yang berkaitan dengan produksi dan resepsi film   yang berfokus pada “dinamika kultural dari produksi film dan sebuah kesadaran bahwa gaya dan konten film tergantung dari konteks produksinya”.  Eric Schaeffer, penulis Bold! Daring! Shocking! True! : A History ofExploitation Films, 1919-1959 (1994), menyebut metode ini dengan “Empirical Imperative”. Kajiannya tidak lagi memperlakukan film sebagai teks atau  salah satu cabang kesenian atau refleksi masyarakat semata.  

Dalam pendekatan New Cinema History, arsip menjadi sumber primer dalam menganalisa. Salah satu contohnya adalah seperti di atas ini.

NCH  meretas jalan untuk pengembangan cabang kajian film lain,  yang lebih kontekstual dan berhubungan  dengan masyarakat dan hal-hal sosial budaya lainnya. Di antaranya, ekonomi politik, politik kebudayaan, politik selera, yang bisa mencakup kajian penonton, kajian konsumsi dan penerimaan film, kajian kebijakan film, dan budaya distribusi dan eksibisi. Biasanya, karena kayanya data primer dari era aslinya, banyak temuan-temuan baru yang jarang diketahui publik,  kadang mengejutkan, yang menambah bahkan, dalam beberapa kasus  bertentangan dengan yang umumnya dipercaya arusutama.
Di Indonesia, walau langka, tapi pendekatan NCH  ini bukan hal baru. Yang paling kentara adalah disertasi doktoral Tanete Pong Masak (1980-1989) yang baru saja diterbitkan menjadi Sinema Pada Masa Sukarno (2016). Di sini, Tanete memakai berita-berita di koran, termasuk yang paling murahan sekalipun, dan memperlakukannya sebagai data penting untuk mencari pola dan tren sosial budaya saat itu. 
Dafna Ruppin juga melakukan hal sama saat menginvestigasi  awal mula distribusi dan eksibisi film di nusantara. Tak hanya itu, dalam disertasinya, The Komedi Bioscoop: The emergence of movie-going in colonial Indonesia, 1896-1914 (2016),   dia dengan terang-terangan menyatakan terpengaruh Maltby.
Garin Nugroho dan Dyna Herlina, dalam  Krisis dan Paradoks Film Indonesia (2013) juga berupaya melihat film dan bioskop sebagai fenomena sosial budaya dan mengaitkannya dengan kejadian-kejadian besar di masing-masing era.
Hal-hal di luar film itu sendiri, yang acap disebut paratex atau inter-text, menjadi data penting untuk   mengetahui gambaran besar jiwa zaman kala itu, poster film, misalnya: materi promosi film di media, dan data-data seputar honorarium pemain film.

Dan, menariknya, arsip-arsip yang kita temukan, seperti skenario yang belum  diterbitkan dan synopsis awal,  juga memberikan analisa baru tentang dinamika sosial politik. Ben Murtagh, misalnya. Dalam  Researching in the Jakarta Film Archive, ia  mengungkapkan bahwa tak jarang dokumen berbeda dengan kenyataan, misalnya film Istana Kecantikan (1988)  tidak memasukkan adegan perkawinan sejenis, yang tercantum dalam skenarionya.  Saya juga merasakan hal yang sama saat memeriksa sejarah Orde Baru, yang katanya penuh dengan tekanan dan sensor terhadap film-film yang penuh adegan kekerasan dan esek-esek, namun di saat yang sama juga melahirkan banyak film-film eksploitasi bertema seks dan kekerasan, bahkan Orba membentuk Prokjatap Prosar (1982-1983) untuk secara resmi mengekspor film-film yang tak dianggap “film nasional” karena tidak merepresentasikan “wajah Indonesia yang sebenarnya” atau bersifat “kultural edukatif”

 

Tentu ada banyak kritikus, jurnalis, dan akademisi lain yang melakukan riset dengan pendekatan serupa. Beberapa nama lain di antaranya,  adalah   Thomas Barker,  SM Ardan, Misbach Jusa Biran,  dan, tentu saja   Krishna Sen.  

Walau demikian, masih sedikit karya, baik popular mau pun akademis, yang melakukan pendekatan sejarah baru ini, khususnya di bidang reception studies, fandom dan consumption studies. Semoga makin banyak yang menganalisa sejarah film dengan pendekatan semacam ini, dan memberikan kebaruan serta memperkaya teori dan kajian yang sudah ada.   

Tulisan versi editnya dimuat di buku acara Usmar Ismail Awards 2017 (April 2017).
Sumber arsip: Perpustakaan KITLV, Leiden, 2008.

Saturday, May 20, 2017

Unduh Gratis: Buku "Menjegal Film Indonesia"


Judul: Menjegal Film Indonesia: Pemetaan Ekonomi Politik Industri Film Indonesia
Tahun: 2011
Penerbit: Perkumpulan Rumah Film Indonesia dan Yayasan TIFA
Tim  Peneliti dan Penulis: Eric Sasono,  Ekky Imanjaya,  Ifan Adriansyah Ismail,  Hikmat Darmawan

Abstraksi:
Banyak orang tak percaya bahwa industri film Indonesia
sudah ada. Belum ada  infrastruktur, riset dan pengembangan
dan berbagai lembaga  dalam perfilman kita layaknya
yang ada pada sebuah kegiatan  industri. Jika pun ada, bisa
dibilang bahwa industri film  Indonesia masih berupa industri
rumahan; sebuah industri  berskala kecil ke menengah dan
dikerjakan tanpa hubungan  kerja yang jelas.
Inilah sebuah tinjauan yang  mencoba melongok lebih jauh
ke tiga subsektor dalam industri  perfilman kita (jika ada) yaitu  subsektor produksi, distribusi  dan eksebisi. Tidak seluruh  aspek memang dijelajahi  mengingat luasnya subyek ini.   Namun apa yang tergambar di  buku ini bisa menjadi awal bagi sebuah tinjauah lebih dalam  untuk memahami film, yang tak hanya merupakan barang  hiburan, tapi juga merupakan barang publik yang bersentuhan  dengan orang banyak lewat  berbagai cara.

link: https://drive.google.com/drive/folders/0B4N-Lj-NTlIlc2lxMTM2Ul9PRWs?usp=sharing
Alternatif link: https://www.academia.edu/33119861/Menjegal_Film_Indonesia_Pemetaan_Ekonomi_Politik_Industri_Film_Indonesia 

Resensi dan berita:
1. Peluncuran Buku Menjegal Film Indonesia (Filmindonesia.or.id)
2.  Ssst...Ada yang Menjegal Film Indonesia! (Detikhot.com)
3. Peta Awal Industri Film Indonesia - Gatra
4. Bedah buku Menjegal Film Indonesia: Pemetaan Ekonomi Politik Industri Film Indonesia (Bekraf.go.id)
Dissecting the Indonesian Film Industry



Monday, October 3, 2016

Tiga Menguak Usmar: Tulisan popular di Rolling Stone Indonesia

Mengulas tiga film legendaris Usmar Ismail, yang dikenal sebagai "Bapak Film Indonesia",  yang hingga kini masih jarang disaksikan publik, yaitu "Lagi-Lagi Krisis" (1955), "Big Village" (1969), dan "Ananda" (1970).
Tulisan ini hendak mengemukakan sisi lain dari Usmar, yang dengan tajam mengobservasi dan bahkan menguliti tema lain: fenomena urbanisasi dan globalisasi yang dialami oleh manusia Indonesia.
Ketiga film yang diulas menunjukkan kekayaan sudut berbeda khazanah pemikiran dan karya Usmar.

Dua film terakhirnya, bagi saya, bisa dikategorikan sebagai Prostitution Genre, seperti yang dirumuskan Krishna Sen. Artinya, satu kotak dengan "Bernafas dalam Lumpur" (1970) dan "Bumi Makin Panas" (1973).

Monday, May 2, 2016

Box Office Pendapatan, Bukan Jumlah Penonton

Akhirnya dapat juga data tentang pendapatan film terbesar Indonesia.  SIlahkan cek meme yang beredar di Facebook dan media sosial lainya di bawah ini. Biasanya, saya hanya dapat data jumlah penonton, bukan jumlah penghasilan.

Tapi, tunggu dulu. Apakah ini too good to be true? Darimana sumbernya?
Ternyata ada tertulis di bawah, sumbernya dari FilmIndonesia.or.id. tapi bukankah situs FI hanya menyajikan data jumlah penonton? Di bawah laman tersebut disebutkan "Asumsi penghitungan pendapatan kotor dari peredaran suatu film adalah sebagai berikut: .... Tahun 2013: Rp 30.000/penonton".
sumber: http://filmindonesia.or.id/movie/viewer#.VyaEljArLIU
Artinya, data ini barulah "asumsi", karena sepertinya belum ada data resmi dari pihak yang berkepentingan (bioskopkah? dirjen pajak?) untuk membuka ke publik berapa jumlah pendapatan yang sebenarnya--tidak seperti negara2 lain yang sudah sejak lama secara berkala melaporkannya ke publik. Dan itu adalah asumsi di tahun 2013, tiga tahun lalu.
Saya sangat berharap ada yang menyatakan kalau saya salah, tidak update, dan bilang : bisa kok kita akses data-data tersebut. Silahkan klik....".
Semoga.

Dan saya menemukan satu meme lagi.

Pertama-tama, tentu ucapan selamat kepada semua kru dan pemain AADC2 yang sepertinya akan mencetak rekor baru.

Pertanyaannya:
Apa bedanya meme laporan kesuksesan komersial film AADC2 di Indonesia dan di Malaysia?
Di Malaysia, dengan jelas disebutkan angka pendapatannya (walau belum akurat benar, tapi setidaknya ada pernyataan "di atas sekian ringgit". untuk detilnya, bisa cek di sini: http://www.boxofficemojo.com/intl/malaysia/)
Di Indonesia, hanya jumlah penonton.
Saya sedang tidak membahas soal AADC2. Film ini (tepatnya: meme film ini) cuma contoh kasus saja.
Tidak cuma AADC2 saja, semua laporan (termasuk di FilmIndonesia.or.id) hanya menyebutkan jumlah penonton, bukan pendapatan. Tapi masih mendinglah, karena untuk film luar apaagi Hollywood, tidak ada akses soal jumlah penonton, apalagi jumlah pendapatan.
Di negara-negara lain, box office selalu terbuka dan diupdate secara berkala, dengan menampilkan jumlah pendapatan.
Misalnya di sini: http://www.boxofficemojo.com/intl/
Data semacam ini sangat penting bagi peneliti, pengkaji, kritikus, dan institusi pemerintahan yang berkutat di bidang kebijakan.
Dan saya kesulitan mendapatkannya. Setidaknya, saya tak juga menemukan data semacam ini, khususnya saat ikut menulis buku "Menjegal Film Indonesia" yang diterbitkan almarhum RumahFilm.
Katanya, sekarang jauh lebih mudah mendapatkan akses data-data ini. Benarkah? (ini tanya beneran lho).
Sebenarnya, Box Office Mojo pernah juga memuat pendapatan kotor  film dari Indonesia tahun 2009-2012. setelah itu, nihil. cek ini: http://www.boxofficemojo.com/intl/indonesia/

Maaf bila ada pihak yang tersinggung. Bukan maksud mendiskreditkan pihak tertentu. Ini pertanyaan yang sudah lama saya pendam dan belum juga dapat jawaban yang memuaskan.
Mohon disanggah bila saya salah.
ps: saya menemukan ada data2 soal data box office ini di beberapa laporan (media massa) di tahun 1990an. Kalau tradisi ini bisa berlanjut, sangat bermanfaat bagi para peneliti, pengkaji, kritikus, dan pembuat kebijakan.