Sunday, July 19, 2026

Sound Beyond Jumpscare: Estetika Suara pada film pendek finalis Festival Film Horor Pacitan 2025


Oleh: Ekky Imanjaya

 

Tentu saja genre horor adalah formulaik yang mesti patuh pada pakem-pakem tertentu. Ada ikonografi tertentu yang menjadi ciri khas tertentu, seperti diulas oleh akademisi seperti Rick Altman (Film/Genre, 1999) atau Barry Keith Grant (Film Genre: From Iconography to Ideology, 2007). Secara singkat, ikonografi film adalah penggunaan simbol, gambar, objek, atau elemen visual berulang (seperti kostum, latar, properti, pencahayaan) yang membawa makna khusus untuk membangun tema, genre, atau identitas karakter dalam film, membantu penonton memahami narasi dan emosi secara cepat. Ikonografi menjadi penanda dan identitas genre tertentu. Dalam film horor, ikonografi muncul dalam bentuk simbol visual dan tematik yang menciptakan ketakutan, seperti kegelapan dan bayangan, rumah kosong/berhantu, sosok supernatural (hantu, iblis, monster), karakter klise (gadis polos, anak kecil), objek terkutuk (boneka, cermin), ritual dan sekte, serta simbol keagamaan (simbol keagamaan, ayat suci). Sound juga menjadi penanda untuk genre sebuah film, misalnya suara langkah dan derit pintu, suara ambien, music score, hingga suara jeritan manusia dan suara pisau menyembelih korbannya.

Tetapi, film horor yang baik selalu menyajikan kebaruan, terobosan, dan penyegaran (defamiliarization). Jika hal ini tidak dilakukan, maka penonton akan jenuh dan pasar akan menurun. Dan tak ada cara yang lebih baik selain latihan dengan produksi film pendek, yang cenderung masih bebas dari beban hitung-hitungan “ekonomi kreatif”. Perlu eksplorasi dan bermain-main dalam estetika dan tema, juga jenis hantunya. Dalam produksi film pendek, saatnya para sineasnya untuk  bermain-main, membongkar pasang konvensi, dan melakukan eksplorasi gaya (stylistic exploration), termasuk menjelajahi bahasa audio visual.

Bordwell dan Thompson, dalam Film Art    menekankan bahwa film tidak hanya tergantung pada film form (naratif) tapi juga film style (mise-en-scene, sinematografi,  editingsound) yang ikut mendukung cerita dan cara bertutur (storytelling) dalam sebuah film. Pendek kata: Bahasa audio visual, mulai dari gerakan kamera, aspek rasio, hingga warna dan….suara. Menurut Bordwell dkk itu, suara dalam sebuah film berfungsi sebagai  kekuatan manipulatif yang dahsyat karena ia tidak dibatasi oleh bingkai layar (frame). Suara bisa mengarahkan perhatian visual kita, menciptakan ruang di luar layar (off-screen space), dan membentuk persepsi temporal penonton.

Sehingga, seharusnya bahasa sinematis tidak hanya bertumpu pada cerita dan visual, tapi juga suara (sound). Suara menjadi penanda dan menyebab rasa takut pada penonton, dan bisa memberikan makna dan memperkaya cerita dan cara bertutur. Dan strategi teknis klise biasanya menciptakan suara, atau music score, yang mengagetkan dan membuat jumpscare. Karena itu, banyak penonton yang menutup kuping, bukan mata, saat menonton film horor. Tapi jumpscare makin lama makin menumpulkan efek ngeri, karena orang bisa menduga jika ada suara tertentu maka ada antisipasi adegan seram. Perlu upaya beyond jumpscare, dimana suara menjadi bagian atau bahkan sumber teror dan takut (bukan sekadar kaget).

Dan eksplorasi sound sebagai alat bertutur ini ini terasa dalam lima finalis Festival Film Horor 2025. Sound, yang dalam kelima film pendek ini merupakan bagian integral dari naratif sekaligus menjadi sumber teror, dirancang dengan cekatan hingga membuat kelima film pendek tidak berhenti pada audio-visual horror (baca: jumpscare) semata, tetapi menjadi narrative horror yang lebih substantif dan esensial. Dan membuat kelimanya menjadi narrative horror, bukan berhenti pada audio-visual horror semata.

Sisigan Kariau: Sima (Bayu Bastari, 2025, Banjarmasin)

Menggunakan bahasa Banjar dan berakar dari legenda folklore  Kalimantan Selatan, yaitu mitos "Sisigan Kariau: Sima. Anak Sima adalah mitos  bay yang dibuang oleh ibunya karena hasil hubungan terlarang dan diasuh Hantu Takau. Hobinya memakan jantung manusia, dengan cara memancing mereka mendekat karena iba melihat bayi menangis di tengah rimba. Dalam film ini,  Bayu sang novelis diganggu suara tangis bayi misterius.  Fokus narasi berada pada kondisi kejiwaan karakter utamanya yang rapuh dan dihantui rasa bersalah akibat trauma pengabaian anak.

Dalam film ini, ketakutan tidak dibangun lewat kemunculan monster secara kasar dan visual, namun berwujud sound. Suara  yang kerap berulang adalah suara tangisan anak kecil yang menghantui karakter utamanya kemana-mana. Dan inilah sumber terornya. Penonton dibuat untuk menebak-nebak apakah suara itu hanya ada di dalam kepala sang karakter, yang memang secara mental bermasalah? Atau memang dalam semesta sinema di luar benak sang karakter?

Di sini, sang sineas bermain pada wilayah  Bordwell sebagai dimensi hubungan suara dengan ruang naratif (space).  Apakah suaranya memang berasal dari semesta filmnya (diegetic sound), atau di luar?  Dan lebih lagi: apakah Apakah suara di dalam cerita itu memiliki sumber fisik objektif di ruang luar yang bisa didengar karakter lain (external diegetic sound), ataukah ia bersumber dari dalam ruang mental itu sendiri (internal diegetic sound), karena kondisi kejiwaan sang karakter utama yang sedang jatuh?   Dengan mengaburkan batasan akustik ini, suara berubah fungsi dari sekadar penanda kehadiran hantu menjadi cermin distorsi kejiwaan yang mencekam.

Diam-Diam, Aku Ingin Melawan (Muhammad Labib Pratama, 2025, Solo)

Film ini secara metaforis mengisahkan tentang trauma seorang siswi yang mengalami kekerasan seksual. Sang karakter utama terjebak dalam ancaman tak kasat mata di dalam rumahnya sendiri. Salah satu keberhasilannya adalah sound design. Hal-hal yang dalam keseharian terdengar biasa saja berubah menjadi horor. Misalnya,  siulan, gedoran pintu, erangan yang tak ditunjukkan penyebabnya, termasuk room tone  (suara latar alami sebuah ruang)  yang diperbesar secara tak wajar—semuanya diegetic sound—membuat penonton tenggelam dalam imajinasinya sendiri, dicampur semesta film pendek tersebut. Semuanya menyeruak dari keheningan ruangan. Dan justru, keheningan itu, absennya suara, malah membuat penonton berimajinasi sendiri.

Pilihan suara yang lirih, bahkan keheningan, adalah pilihan yang tepat.  Dalam hal ini, suara-suara ambient, bahkan  keheningan diterapkan  untuk membawa penonton masuk ke dalam ruang psikologis atau persepsi personal seorang karakter (perceptual/mental subjectivity).

Terbang Terendam (Adamifa Sobirin, 2025, Jepara)

Dalam konteks film ini, terbang adalah sebuah alat musik mirip rebana, yang biasanya dimainkan oleh para santri atau komunitas Islam.  Dan dari judul “terendam” penonton bisa menebak arah plotnya.

Cerita berpusat di Desa Latas (Jepara), sebuah desa terpencil di tepi pantai yang menyimpan rahasia kelam dan kejadian-kejadian mistis yang menguak misteri lokal. Sekumpulan masyarakat mencari seorang anak yang hilang. Dan puncaknya, adalah di sebuah ruang sunyi, mendadak terdengar tabuhan rebana khas, namun tak ada satupun yang di sana. Sekilas, disebutkan juga hubungannya dengan isu lingkungan

Tentu  saja. Sesuai judulnya,  penyebab bulu kuduk berdiri adalah suara tetabuhan terbang (rebana) misterius di sebuah gudang tua, yang tak ada penabuhnya. Namun ada satu lagi yang membuat bulu roma merinding: rintuhan suara anak kecil  yang terdengar ketakutan, berkali-kali: “kulitku….”.

Hal ini selaras dengan pernyataan Bordwell dkk terkait sound dan konsep fidelity-- yaitu tingkat kesesuaian antara karakter suara yang terdengar dengan ekspektasi kita terhadap sumber bunyinya. Penonton mencari sumber suara tetabuhan yang kencang (off-screen) namun gudang kosong hanya memperlihatkan rebana yang melayang dan kemudian jatuh. Hal ini menimbulkan  keganjilan sinematik (the uncanny). Sedangkan suara rintihan anak kecil yang hilang membuat cerita punya jangkarnya, yaitu misi pencarian anak. Dan keduanya, dari unsur sound, merupakan sumber teror film ini.

 

Mama Minta Hotspot (Azzam Fi Rullah, 2024, Depok)

Mengambil format mockumentary (seolah-olah dokumenter), film ini berkisah tentang penelusuran fenomena urban legend modern di mana seorang hantu meminta jaringan internet (hotspot). Karakter utama, Lily, menjadi satu-satunya orang yang diteror oleh panggilan suara mistis "mama minta hotspot" di tengah skeptisisme teman-teman di sekitarnya.

Kengerian bermula dari Lily yang merasa mendengar suara hantu urban legend, “Mama minta hotspot”. Dan itu adalah sound. “Suaranya persis kayak gitu?”, ujar Lily, tapi tak ada satu pun yang mendengar. Dan kemudian, terdengarlah dialog yang acap diulang oleh sang setan: “mama minta hotspot”, lewat gawai modern.

Karya ini menawarkan pendekatan yang menyegarkan melalui format dokumenter fiktif yang menuntut kepatuhan tinggi pada realisme visual dan audio. Di sini, konvensi suara realis ala dokumenter dipertahankan untuk mengaburkan batas kenyataan. Frasa "mama minta hotspot" diucapkan berulang kali oleh entitas supranatural dengan nada yang dingin dan konstan. Dan ucapan ”mama minta hotspot” yang diucapkan berulangkali—dan hanya didengar oleh karakter utamanya saja--itu adalah salah satu sumber horornya.

Penggunaan telepon genggam sebagai mediasi bagi ruang komunikasi hantu, yang juga bagian dari sound, adalah juga penyumbang teror yang besar. Termasuk, suara ringtone HP yang sudah disenyapkan, tapi tetap menyala, menciptakan ketidaknyamanan yang ganjil. Dalam hal ini, sang sineas melalui penjelajahan sound, mengeksploitasi konsep ketakutan teknologi (techno-horror). Suara ringtone di sini berfungsi sebagai teror keseharian (everyday terror) yang saking dekatnya dengan kehidupan penonton, efek ngerinya terasa begitu dekat dan organik. Apalagi pendekatannya adalah dokumenter seolah-olah, yang makin meyakinkan penonton bahwa film ini non-fiktif dan lebih dekat dengan semacam ”Uji Nyali” ala ”Dunia Lain.”

 

Akhir Dari Sebuah Permulaan (Khairul Mustofa, 2021, Jogjakarta)

Sebuah rural horror   yang kental dengan mistisisme Jawa.  Siti menunggu suaminya yang melakukan "tapa" pemujaan di dalam sebuah ruangan rumahnya agar mendapatkan anak. Selama 40 hari, dia tak boleh melihat suaminya.   Sampai pada akhirnya, saat hari terakhir, setelah hari ke-40, sang suami tak kunjung keluar.    Dan teror pun dimulai.

Sumber suara yang   yang mencekam dalam film pendek ini   adalah sinden Jawa. Tak sekadar menjadi musik latar (musical wallpaper), tembang Jawa itu menjadi nafas dalam pendek ini.

Sebagai tambahan, diegetic sound sebagai ambien suasana, turut membangun atmosfir tak nyaman: Suara-suara burung dan ayam dan jangkrik turut menyumbangkan rasa takut.

Bordwell dkk menyatakan bahwa penonton tidak hanya mendengarkan suara, tapi mempersepsikannya melalui tiga properti dasar ((perceptual properties of sound): loudness (volume), pitch (tinggi-rendah nada), dan timbre (warna suara). Ketiganya berinteraksi untuk membentuk lanskap akustik film. di film ini,  sang sutradara mengombinasikan antara manipulasi timbre (warna suara) dan pitch (tinggi-rendah nada), yaitu perpaduan  antara musik kultural (sinden) dan ambient sound pedesaan. Hal ini  ini berfungsi membangun rasa tidak nyaman yang merayap perlahan (creeping dread). Bebunyian alam di sini tidak lagi bersifat netral sebagai pemanis latar, tapi ikut menjadi menjadi membentuk spirit horor.   

 

Tulisan ini adalah pengembangan dari catatan Dewan Juri,  Festival Film Horor Pacitan 2025, dan aslinya terbit di Katalog Festival Filmnya.

Dosen Prodi Film, BINUS University

 

No comments:

Post a Comment