Showing posts with label indonesian cinema. Show all posts
Showing posts with label indonesian cinema. Show all posts

Thursday, August 22, 2024

SUZZANNA – THE QUEEN OF BLACK MAGIC

 Mohon maaf, sekadar berbagi kabar gembira: 

SUZZANNA – THE QUEEN OF BLACK MAGIC 

Alhamdulillah, film dokumenter  “SUZZANNA – THE QUEEN OF BLACK MAGIC” (David Gregory, 2024, Severin Films),  yang saya turut produseri, sudah selesai produksinya!



She starred in 42 classic movies, was hailed as ‘The Queen of Indonesian Horror’ and crowned ‘Asia’s Most Popular Actress’. But who was Suzzanna Martha Frederika van Osch, long-beloved by the Asian world as Suzzanna yet virtually unknown outside it? In this fascinating new documentary by David Gregory, whose previous explorations of transgressive cinema include LOST SOUL: THE DOOMED JOURNEY OF RICHARD STANLEY’S ISLAND OF DR. MOREAU, BLOOD & FLESH: THE REEL LIFE & GHASTLY DEATH OF AL ADAMSON and ENTER THE CLONES OF BRUCE, discover the enigmatic horror star best known for portraying vengeful spirits from Indonesian folklore, demons whose supernatural retribution are widely believed to have influenced her controversial life and mysterious death. Through exclusive interviews with family, colleagues, filmmakers, and historians, as well as clips from her classic films including SUNDEL BOLONG (1981), NYI BLORONG (1982), MALAM SATU SURO (1988) and more, Gregory unearths the legacy of the Indonesian Scream Queen who has begun to emerge as one of the most compelling icons in cinema history.

“When we talk about the world of horror movies, we think of Boris Karloff, Vincent Price, Bela Lugosi. But there is another that I think surpasses every one of them. And her name is Suzzanna.”

Joko Anwar, Award-Winning Writer/Director of THE FORBIDDEN DOOR, SATAN’S SLAVES and JOKO ANWAR’S NIGHTMARES AND DAYDREAMS

“In Indonesia, Suzzanna is horror and horror is Suzzanna. It’s about time she's globally known, and this is the documentary she deserves.”  

Ekky Imanjaya, Co-Producer




“Suzzanna was a beloved horror actress in Southeast Asia whom I’d only been aware of peripherally. But the more research I did into her life and career, the more I realized that she was a superstar unlike any the genre has known before or since. My goal was to go beyond the Indonesian headlines and find the truth behind her massive popularity and mysterious death. Ultimately, this is the story of a Scream Queen who has begun to emerge as one of the most fascinating icons in cinema history.”

David Gregory, Producer/Director

Coming Soon!

Tunggu Tanggal Mainnya!


Tuesday, March 23, 2021

4 Diskusi Usmar Ismail di YouTube

 Setiap Maret, Usmar Usmail selalu dibahas, khususnya menjelang Hari Film Nasional (30 Maret).

Tahun ini istimewa, karena pada 20 Maret ada perayaan #100TahunUsmarIsmail.

Berikut tautan diskusi saya bersama teman-teman membahas Usmar Ismail.


(1) Usmar Ismail Sutradara Besar Indonesia, 15 Juli 2020 bersama Andibachtiar Yusuf


 

(2) NB#5: Lisabona Rahman;Merayakan "Lewat Djam Malam" di Criterion & Kisah-Kisah Kearsipan Film Lainnya (22 Agustus 2020)  bersama Lisabona Rahman (Berlin) dan Asmayani Kusrini (Brussels)


(3)

 Kultum Ekky-Hikmat: 7 Hal tentang Usmar Ismail (19 Maret 2021) bersama Hikmat Darmawan 


 

(4) Peluncuran dan Diskusi Buku: “Mujahid Film: Usmar Ismail”  (Ekky Imanjaya, 2021). Bersama Putri Ayudya dan Sazkia Noor Anggraini. 20 Maret 2021.



 Selamat Hari Film Nasional!

Friday, April 6, 2018

"Marlina the Murderer in Four Acts" with Introduction and Q&A, Bristol, 24/4



'Marlina: women and gender issues in Indonesia'
Film Screening of "Marlina the Murderer in Four Acts" with Introduction and Q&A
Rating: 15+
Watershed, Bristol, Tuesday, 24 April 2016, 18.00
With: Hana A Satriyo (expert on Gender and Women’s participation)
Ekky Imanjaya (PhD candidate in Film Studies at University of East Anglia/Lecturer at Bina Nusantara University).
Considered one of the most significant films to emerge from Indonesia in recent years, female director Mouly Surya '"Marlina the Murderer in Four Acts" deals with multiple layers of gender and women issues within the country, through the vehicle of, as critic Maggie Lee puts it, “female-driven journey of vengeance and justice” which tells a story about “… a revenge fantasy rooted in Indonesia’s gender conditions, complex regional culture and the stark beauty of its landscapes” (Variety, 26/5 2017).
Labelled as pioneering a new genre called “Satay Western”, the film was selected and screened at 2017 Cannes Film Festival’s Director Fortnight. It traveled around many film festivals all over the world and got some prestigious awards such as Best actress ( Sitges International Fantastic Film Festival), Best Director (Netpac Award, Five Flavours Film Festival), Grand Prize (Tokyo FILMeX2017), Special Mention (Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2017), and Best scenario ( Festival International du Film de Femmes de Salé).

To celebrate both the film's theatrical release in the UK and Kartini Day (21st April is the anniversary of the birth of Raden Ajeng Kartini, one of Indonesian's first feminists), the Watershed has organized a discussion event on contemporary women and gender issues within Indonesian and Southeast Asian national contexts. Hana A Satriyo and Ekky Imanjaya will give the introduction and hold a Q&A session covering a range of women and gender issues, ranging from the patriarchal cultures in general to the roles of women in Indonesian film industry.
All are welcome.
Buy the tickets here (Tue, 24/4, 6pm): https://uk.patronbase.com/_Watershed/Seats/NumSeats?prod_id=12BL&perf_id=5&section_id=M&action=&seat_type_id=STAN&_ga=2.72610643.1375548281.1522857159-1317473638.1522857159
More details about the screenings of "Marlina" in Watershed
https://www.watershed.co.uk/whatson/8866/marlina-the-murderer-in-four-acts/
Co-organized by Ekky Imanjaya & Toby Reynolds

Wednesday, May 24, 2017

" New Cinema History" dan Kajian Film Indonesia

Oleh Ekky Imanjaya
Mengapa, dibandingkan dengan resensi film,  masih sedikit tulisan, baik popular berupa laporan jurnalistik dan kritik film atau karya ilmiah, yang menganalisa sejarah bioskop/penonton, politik selera, atau mengkritisi  paradoks kebijakan film Indonesia? Mungkin salah satu jawabannya, karena pedekatan New Cinema History (NCH) kurang popular di Indonesia.

NCH adalah istilah yang diperkenalkan oleh Richard  Maltby. Dalam buku Explorations in New Cinema History:Approaches and Case studies (2011),  Maltby menyatakan bahwa tujuan Sejarah Sinema Baru adalah untuk “mempertimbangkan (pentingnya) sirkulasi dan konsumsi film, dan untuk menguji sinema sebagai situs pertukaran sosial dan budaya”. 

Mathijs dan Mendik dalam bukunya The Cult FilmReader (2008),  menyatakan ada dua pendekatan kajian sinema, yang bisa juga diterapkan secara umum.  Yang pertama adalah kajian teks atau pendekatan ontologis.  Kajian ini umumnya menerapkan teori esensialis dimana sang kritikus atau peneliti berupaya untuk mendefinisikan atau menganalisa elemen intrinsic dari film--seperti genre,   gaya,  sifat, atau akurasi estetika--serta mencari topik-topik yang berulang dan memaknai film sebagai upaya alegori, metafora, atau malah tujuan atau pesan  sineasnya.    Tak jarang, teori dan konsep dari ilmu susastra dan seni rupa mendominasi kajian ini, dan fokusnya pada estetika film.

Yang kedua adalah pendekatan sosiologis atau fenomenologis.  Kebalikan dari yang di atas, yang ditekankan adalah unsur ekstrinsik dari film, seperti yang dilakukan peneliti NCH.  Umumnya, pendekatannya adalah seputar penonton dan resepsi film, seperti moral panic, kontroversi dan  gangguan sosial kultural dalam masyarakat saat itu, hirarki selera, atau jaringan akses.  
Ciri-ciri khas dari kajian ini adalah upaya untuk mengambil sumber primer sebagai data-datanya--seperti berita-berita di koran dan  majalah,  resensi, produk undang-undang, karya-karya (apresiasi) penggemar. Jadi, tidak hanya mengutip dari tulisan atau pendapat akademisi, kritikus, atau jurnalis film, apalagi main comot dari situs maya tak jelas.   Menurut  James Chapman, Mark Glancy, dan Sue Harper dalam  The New Film History: Sources,Methods, Approaches (2007)¸ NCH melakukan investigasi empiris terhadap sumber primer yang berkaitan dengan produksi dan resepsi film   yang berfokus pada “dinamika kultural dari produksi film dan sebuah kesadaran bahwa gaya dan konten film tergantung dari konteks produksinya”.  Eric Schaeffer, penulis Bold! Daring! Shocking! True! : A History ofExploitation Films, 1919-1959 (1994), menyebut metode ini dengan “Empirical Imperative”. Kajiannya tidak lagi memperlakukan film sebagai teks atau  salah satu cabang kesenian atau refleksi masyarakat semata.  

Dalam pendekatan New Cinema History, arsip menjadi sumber primer dalam menganalisa. Salah satu contohnya adalah seperti di atas ini.

NCH  meretas jalan untuk pengembangan cabang kajian film lain,  yang lebih kontekstual dan berhubungan  dengan masyarakat dan hal-hal sosial budaya lainnya. Di antaranya, ekonomi politik, politik kebudayaan, politik selera, yang bisa mencakup kajian penonton, kajian konsumsi dan penerimaan film, kajian kebijakan film, dan budaya distribusi dan eksibisi. Biasanya, karena kayanya data primer dari era aslinya, banyak temuan-temuan baru yang jarang diketahui publik,  kadang mengejutkan, yang menambah bahkan, dalam beberapa kasus  bertentangan dengan yang umumnya dipercaya arusutama.
Di Indonesia, walau langka, tapi pendekatan NCH  ini bukan hal baru. Yang paling kentara adalah disertasi doktoral Tanete Pong Masak (1980-1989) yang baru saja diterbitkan menjadi Sinema Pada Masa Sukarno (2016). Di sini, Tanete memakai berita-berita di koran, termasuk yang paling murahan sekalipun, dan memperlakukannya sebagai data penting untuk mencari pola dan tren sosial budaya saat itu. 
Dafna Ruppin juga melakukan hal sama saat menginvestigasi  awal mula distribusi dan eksibisi film di nusantara. Tak hanya itu, dalam disertasinya, The Komedi Bioscoop: The emergence of movie-going in colonial Indonesia, 1896-1914 (2016),   dia dengan terang-terangan menyatakan terpengaruh Maltby.
Garin Nugroho dan Dyna Herlina, dalam  Krisis dan Paradoks Film Indonesia (2013) juga berupaya melihat film dan bioskop sebagai fenomena sosial budaya dan mengaitkannya dengan kejadian-kejadian besar di masing-masing era.
Hal-hal di luar film itu sendiri, yang acap disebut paratex atau inter-text, menjadi data penting untuk   mengetahui gambaran besar jiwa zaman kala itu, poster film, misalnya: materi promosi film di media, dan data-data seputar honorarium pemain film.

Dan, menariknya, arsip-arsip yang kita temukan, seperti skenario yang belum  diterbitkan dan synopsis awal,  juga memberikan analisa baru tentang dinamika sosial politik. Ben Murtagh, misalnya. Dalam  Researching in the Jakarta Film Archive, ia  mengungkapkan bahwa tak jarang dokumen berbeda dengan kenyataan, misalnya film Istana Kecantikan (1988)  tidak memasukkan adegan perkawinan sejenis, yang tercantum dalam skenarionya.  Saya juga merasakan hal yang sama saat memeriksa sejarah Orde Baru, yang katanya penuh dengan tekanan dan sensor terhadap film-film yang penuh adegan kekerasan dan esek-esek, namun di saat yang sama juga melahirkan banyak film-film eksploitasi bertema seks dan kekerasan, bahkan Orba membentuk Prokjatap Prosar (1982-1983) untuk secara resmi mengekspor film-film yang tak dianggap “film nasional” karena tidak merepresentasikan “wajah Indonesia yang sebenarnya” atau bersifat “kultural edukatif”

 

Tentu ada banyak kritikus, jurnalis, dan akademisi lain yang melakukan riset dengan pendekatan serupa. Beberapa nama lain di antaranya,  adalah   Thomas Barker,  SM Ardan, Misbach Jusa Biran,  dan, tentu saja   Krishna Sen.  

Walau demikian, masih sedikit karya, baik popular mau pun akademis, yang melakukan pendekatan sejarah baru ini, khususnya di bidang reception studies, fandom dan consumption studies. Semoga makin banyak yang menganalisa sejarah film dengan pendekatan semacam ini, dan memberikan kebaruan serta memperkaya teori dan kajian yang sudah ada.   

Tulisan versi editnya dimuat di buku acara Usmar Ismail Awards 2017 (April 2017).
Sumber arsip: Perpustakaan KITLV, Leiden, 2008.

Saturday, December 26, 2015

15% off all films at ZDD, including a bunch of Indonesian Exploitation Movies!

Stttt. ZDD has a section on Filipino/Indonesian exploitation films. The title include War Victims, The Warrior and Ninja Girl aka Revenge of the Ninja (Jaka Sembung series), Terrorist, Special Silencers, The Snake Queen aka Nyi Blorong, Lady Exterminator,  Jungle Heat/Rimba Panas, The Intruder aka Pembalasan Rambu,  Hell's Raiders, Final Score,  Daredevil Commandos,  Angel of Fury (uncut, Cynthia Rothrock), Bloody Vengeance (Darah Perjaka).

And they offer 15% off all DVDs and books until midnight on New Year's eve.

click here
https://zddvm.com/14-filipino-indo

Wednesday, March 25, 2015

The Special Issue is Out! "The Bad, The Worse, and The Worst: The Significance of Indonesian Cult, Exploitation, and B Movies"

Plaridel  Journal, Special Issue, Vol 11, Issue No. 2, 2014.
Guest Editor: Ekky Imanjaya
(PhD Candidate, University of East Anglia, UK;
faculty member, school of Film, Binus International, Bina Nusantara University, Indonesia)



1.      A Note from the Editor : The Significance of Indonesian Cult, Exploitation,  and B-Movies
By Ekky Imanjaya (guest editor; PhD Candidate, University of East Anglia;  Lecturer, Bina Nusantara University)  http://plarideljournal.org/article/significance-indonesian-cult-exploitation-and-b-movies



2.      Exploiting Indonesia: From “Primitives” to “Outraged Fugitives”
By Thomas Barker (Assistant Professor of Film and Television,  the University of Nottingham Malaysia Campus)

3.              The Raiding Dutchmen: Colonial stereotypes, identity and Islam in Indonesian B-movies

By Eric Sasono  (postgraduate student at Film Studies Department, King’s College, London)


4.      The Earth is Getting Hotter: Urban Inferno and Outsider Women’s Collectives in Bumi Makin Panas
By Dag Yngvesson (PhD Candidate, University of Minnesota)

5.       Challenging New Order’s Gender Ideology in Benyamin Sueb’s Betty Bencong Slebor: A Queer Reading
By Maimunah Munir (doctoral program student , South East Asian Studies, the University of Sydney,  Australia)

6.      Genre versus Local Specificity: Configuring Rangda and Durga in Balinese and Bengali Films
By Makbul Mubarak  (Lecturer, Universitas Multimedia Nusantara)—coming soon.
Abstract:


7.      Beneath Still Waters: Brian Yuzna and the Transnational Indonesian Terror Text
By Xavier Mendik  (Associate Head in the School of Art, Media and Design at the University of Brighton, Director of Cine-Excess International Film Festival

Documents:

1.      When East Meets West: American and Chinese influences on early Indonesian Action cinema

The List of Filmography of Early Indonesian Action Movies (1926-1941)
compiled by by Bastian Meiresonne (Asian movies specialist, director of Garuda Power: The Spirit Within)

2.      On Lady Terminator
Interview with Barbara Anne Constable
By Andrew Leavold (Ph.D. candidate, Griffith University, director of “The Search for Weng Weng”)

3.      Beneath Still Waters: The Brian Yuzna Interview http://plarideljournal.org/article/beneath-still-waters-brian-yuzna-interview
By Xavier Mendik

4.      Scripting an Indonesian Monster: The John Penney Interview:   http://plarideljournal.org/article/scripting-indonesian-monster-john-penney-interview

By Xavier Mendik  

Tuesday, October 21, 2014

Next Destination: MECCSA Conference, Newcastle upon Tyne, early January 2015

Yesterday, I received a great news from MECCSA (Media, Communication, and Cultural Studies Association), the biggest association in the UK related to respective disciplines. The first paragraph already revealed it all:

"The organisers of the MeCCSA 2015 conference are pleased to confirm that your proposed panel has been accepted. If you are no longer able to attend, we would be grateful if you could let us know as soon as possible"

Yay! 

Yes, I am organizing a panel with my fellow colleagues, Alicia Izharuddin, Eric Sasono, and Tito Imanda. The title of our panel is " Postcards from Indonesia: Unexplored cross-generational Issues in Genres and Screen Practices".  The conference will be held in Northumbria University, Newcastle upon Tyne, 7-9 January 2015. I will discuss the details once everything is fixed. And, of course, I will still present a topic related to cult, exploitation, and B Movies from Indonesia's New Order (1979-1995).

And finger crossed for the PhD bursaries.