| Mereka yang Berani Beradegan Panas Oleh: Ekky Imanjaya |
| Bomb Sex. Istilah itu pernah dipakai untuk menjuluki bintang film yang berani beradegan panas. Ada banyak nama yang muncul dalam film esek-esek, mulai dari yang sangat murahan hingga yang diramu dengan anggun. Tapi yang tidak (terlalu) murahan, diekspos besar-besaran, paling popular, dan tersangkut dalam ingatan masyarakat banyak hanya sedikit. Hanya satu dua saja yang masih bersinar, diantara puluhan bahkan ratusan nama. Dan ternyata, film esek-esek dan bintang film panas sudah ada sejak dulu, dan tiap zaman mempunyai bintangnya sendiri. Beberapa yang sempat menggemparkan adalah Bernafas Dalam Lumpur (turino Junaedy) yang menampilkan Suzanna yang berperan sebagai pelacur yang beradegan ranjang, juga Bumi Makin Panas(Ali Shahab) yang juga dibintangi Suzanna., dan Akibat Pergaulan Bebas. Atau masih ingat dengan kejadian tahun 1989 saat film Pembalasan Ratu Laut Pantai Selatan(dibintangi Yurike Prastica) yang ditarik kembali dari peredaran bersama film Akibat Terlalu Genit (Yurike Prastica) dan Ketika Musim Semi Tiba (Meriam Bellina)? Atau ingat dengan judul-judul seperti Bumi Bulat Bundar (Eva Arnaz, Yeni Farida, Wieke Widowati),Kenikmatan Tabu (Inneke Koesherawati, Kiki Fatmala), dan Gairah Malam (Malfin Shayna)? Belum puas? Coba lagi ingat-ingat judul Nafsu Liar (Deby Carol, Megy Megawati), Akibat Guna-Guna Istri Muda (Ayu Lestari), Bergairah Di Puncak (Windy Chindiyana), Misteri Permainan Terlarang (Kiki Fatmala, Lela Anggraeni), atau Ranjang Pemikat (Sally Marcelina, Windy Chindiyana). Dulu pernah ada Olive Young. Wanita yang pernah belajar di Christian College Colomboia ini bernama asli Young Pei Fen dan bermain dalam film Resia Boroboedoer yang diputar di Jakarta pada Juli 1929. Inilah film Indonesia yang pertama kalinya menampilkan adegan ciuman dan kostum bikini. Miss Young sendiri saat itu hampir tiap hari terpampang di media Tiongkok. Kritikus film Kwee Tek Hoay menyatakan film itu tidak pantas ditonton karena mutu gambar yang jelek. Walau tidak membantu penjualan, tetapi aksi gadis Cina kelahiran Missouri AS dan pernah tinggal di Kansa ini tercatat dalam sejarah, bahkan dia melanjutkan karir di Hollywood, antar lain di film Trailing Trouble produksi Universal pada 1930, mendampingi Hoot Gibson. Sedangkan pemain pribumi yang pertama kali beradegan panas adalah Nurnaningsih, yang di tahun 1954 menyatakan:"Saya tidak akan memerosotkan kesenian, melainkan hendak melenyapkan pandangan-pandangan kolot yang masih terdapat dalam kesenian Indonesia", dan karenanya menyebabkan reaksi keras masyarakat. Nurnaningsih berani beradegan telanjang dalam beberapa filmnya, foto seronoknya di muat di berbagai majalah, bahkan foto bugilnya tersebar luas saat itu, yang menyebabkan Kejaksaan Agung dan Polri kelabakan. Padahal, awalnya, aktris ini digodok langsung oleh Usmar Ismail lewat Krisis, dan juga oleh Djadug Djayakusuma lewat Harimau Tjampa (1954). Di tahun 1955, film Antara Bumi dan Langit yang dibesut Dr. Huyung sempat menampilkan adegan ciuman antara Frieda dengan S. Bono, dan kemudian disensor karena reaksi keras dari masyarakat. Hal serupa terulang lagi di masa selanjutnya, misalnya di film Jakarta Hong Kong Macao (antara Ratno Timur dan Mila Karmila), Last Tango in Jakarta (Rahayu Effendy), serta Tiada Jalan Lain (Debby Cynthya Dewi dan bintang Hong Kong Alan Teng Kuang Yung). Pada tahun 1974, Rahayu Efendi menjadi simbol panas, diantaranya bermain bugil dengan aktor Dicky Soeprapto dalam Tante Girang (1974).
Dari sekian banyak bintang film panas itu, hanya sedikit yang benar-benar masih bersinar dalam bayang-bayang pikiran kita. Berikut beberapa nama yang mewakili zamannya.
1930an-1940an: RoekiahRoekiah adalah wanita pertama yang menyandang gelar bintang film atau selebritis. Bersama Raden Mochtar, Roekiah menjadi pasangan pertama yang memperkenalkan "system bintang" dimana bintang film menjadi pusat perhatian. Film Terang Boelan yang membuatnya terkenal, meledak di tahun 1938 dan membuat tren baru sejenis hingga 1942, diantaranya Moch Mochtar- Hadidjah yang muncul lewat Alang-Alang yang meniruTarzan (1939). Miss Roekiah—meski sudah bersuamikan Kartolo, tapi masa itu orang top dipanggil Miss—adalah orang panggung yang ditarik ke industri film oleh Tan’s Film. Sejak itu, berbondong-bondong pesaing Tan’s Film mencari bintang dari perkumpulan tonil. Diantaranya, The Teng Chun merekrut Miss Nonie dan Ferry Kock dari Dardanella yang baru saja ikut rombongan Miss Dja di Amerika, sedangkan Oriental Film mengambil Fifi Young, Populer Film merebut Dhalia. Lahir dalam perjalanan tur sandirawa di Cirebon pada 1916 dari ibu seorang Sunda dan ayah Belitung. Roekiah besar dalam pengembangan opera bangsawan hingga tidak mengecap pendidikan. Dalam usia 16 tahun, dia menjadi pemain drama professional dan penyanyi keroncong dalam perkumpulan Palestina, tempatnya bertemu dengan musisi Kartolo yang menjadi suaminya. Tahun 1934, bersama sang suami, Roekiah mengikuti rombongan Faroka yang tur ke Singapura. Tahun 1939, Albert Balink membuatnya terkenal lewat Terang Boelan. Film ini berlangsung di pulau khayalan bernama Sawoba, dengan disain dan kostum mirip Hawaii lengkap dengan kalungan bunga di kalung dan gitar. Film ini terpengaruh dengan sebuah film dari Dorothy Lamour yang sedang ngetop saat itu. Walau pun, suara Mochtar diisi Ismail Marzuki, di film inilah terkenal duet bersahut-sahutan dalam lagu Terang Boelandan Boenga Mawar.Film ini meledak, tidak hanya di dalam negeri, bahkan di Singapura bisa menghasilkan $200 ribu dalam tempo dua bulan. Setelah film Terang Boelan, sebelum ditarik Tan’s Film, ia membentuk rombonganTerang Boelan Troep yang sukses dalam tur ke Singapura. Lantas, Roekiah pun menjadi primadona di Tan’s Film, yang dicitrakan sebagai idola rakyat jelata.. Dia mendapat honor f 150 per bulan, dan f 50 untuk Kartolo, dua kali lipat dari honornya di Terang Boelan. Tak hanya itu, dia juga mendapat hadiah rumah di Tanah Rendah, Jakarta. Film berikutnya, Fatima, dengan pemain yang sama, juga meledak dan menghasilkan f 200 ribu. Demikian pula dengan Gagak Item (1939) yang meniru Zorro.Tahun 1940, setelah bersama Roekiah membintangi Siti Akbari, Rd Mochtar keluar dari Tan’s Film.Roekiah lantas dipasangkan dengan Rd Djoemala, tetapi film-filmnya tetap box office. Diantaranya Roekihati (1940) dan Koeda Sembrani (1941). Roekiah pun laku menjadi model iklan, diantaranya sandal cap Macan dari Bata dan mesin Singer. Setelah wafatnya di tahun 1945, Roekiah tetap diingat, dan film-filmnya terus diputar. Tahun 1948, saat promosi film pertama Sofia WD, iklannya berbunyi: "Roekiah? Bukan! Tetapi Sofia dalam pilem Indonesia Baru: Airmata Mengalir di Tjitarum. Sedikit hari lagi akan dipertundjukkan di ini kota.". Di film garapan Rustam Sutan Palindih ini, pasangan Sofia-Rd Endang memagn dimaksudkan menggantikan Roekiah-Rd Mochtar. Bahkan ada pelawak setia S Waldy yang mirip dengan karakter Kartolo. Roekiah menjadi simbol kecantikan saat itu, dan menjadi idola pertama yang dihasilkan sistem bintang dunia perfilman Indonesia. Tentu saja definisi "adegan panas" atau "bomb sex" belum sevulgar masa-masa setelahnya. Tetapi Roekiah adalah simbol kecantikan pertama dalam sejarah film Indonesia.
1970an: Suzzanna
Wanita bergelar "The Queen of Indonesian Horror" yang lahir 13 Oktober 1942 di Bogor ini menghebohkan jagad perfilman lewat adegan panasnya di Bernafas Dalam Lumpurdan Bumi Makin Panas. Biografinya dicatat oleh Pete Tombs lewat bukunya MONDO MACABRO – Weird and Wonderful Cinema Around the World (1998).
Karirnya berawal saat memenangkan kontes "Tiga Dara" dan diaudisi oleh Usmar Ismail. Kala itu, Suzanna Martha Frederika van Osch asal Magelang berusia 15 tahun itu baru pertama kali ke Jakarta dan belum pernah memegang telepon merasa dirinya gagal tes, karena gugup waktu acting mengangkat telepon. Tetapi, gadis muda berjulukan The Next Indriati Iskak ini ternyata lolos dan memukai penonton lewat Asrama Dara dan meraih banyak penghargaan, diantaranya The Best Child Actress (Festival Film Asia , Tokyo, 1960), dan Golden Harvest Award.
Si bungsu dari lima bersaudara yang berdarah Jerman-Belanda-Jawa-Manado ini juga meraih gelar Aktris Terpopuler se-Asia saat Festival Film Asia Pasifik di Seoul 1972. tapi popularitasnya justru lewat film-film panas dan mistik seperti Bernapas dalam Lumpur(1970), Pulau Cinta (1978), dan Ratu Ilmu Hitam (1981) yang membuatnya menjadi nominator FFI.
Janda dari actor Dicky Suprapto yang menikah kembali dengan Cliff Sangra—"daun muda" teman mainnya di Sangkuriang (1982)--popular lewat Sundel Bolong (1981) danNyi Blorong (1982), dan juga film legendaris Beranak Dalam Kubur (1971).
Beberapa film yang berisikan dirinya beradegan panas adalah Petualangan Cinta Nyi Blorong, Ratu Sakti Calon Arang, dan Perkawinan Nyi Blorong.
1980an: Meriam Bellina
Sebagai pendatang baru di dunia film, Meriam Bellina sudah mengundang perhatian public. Film itu, Surga Dunia di Pintu Neraka (Tandes), mengisahkan siswi SMP yang terjerumus ke dunia pelacuran. Tetapi, yang paling menghebohkan, tentu saja, adalahKetika Musim Semi Tiba, yang sempat ditarik dari peredaran—dan diedarkan kembali setelah disensor. Dan sensualitasnya juga membuat jantung penonton berdebar lewatRoro Mendut (Ami Priyono, 1983) yang menampilkan adegan lidahnya mengulum lintingan rokok buatannya untuk dijual kepada khalayak ramai. Adegan panas juga dilakoni pemain utama di film Pengantin Pantai Biru itu dalam film Permata Biru.
Wanita jebolah Gadis Sampul ini lalu digarap oleh Nyak Abbas Acup lewat Koboi Sutra Ungu dan sebelumnya oleh Ida Farida lewat Perawan-Perawan (1981) Predikat Pemeran Wanita Terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 1984 berhasil ia raih berkat perannya di filmCinta di Balik Noda (Bobby Sandy), setelah sebelumnya masuk nominasi lewatPerkawinan ‘83.
Perempuan bernama lengkap Ellisa Meriam Bellina Maria ini yang sempat menelurkan album Simfoni Rindu, Untuk Sebuah Nama, serta Belajar Menyanyi ini juga meraih predikat Aktris terbaik lewat Taksi (1990), serta Piala Vidia lewat sinetron Aku Mau Hidup(1994).
Tetapi, toh, publik banyak juga yang mencapnya sebagai ikon bintang panas pada masanya, selain terkenang sebagai Vera dalam Catatan Si Boy. Saat ditanya mengapa dia berani melakukan adegan panas, Mer menjawab: ''Asal sesuai dengan skenario''.1990an: Ayu Azhari Hingga saat ini pun, kaum adam pasti menyatakan bahwa Ayu Azhari, meski sudah punya anak, adalah salah satu wanita terseksi di jagad hiburan Indonesia. Ayu yang pernah kuliah di Academy of Arts, Los Angeles, AS (1993) ini "menggebrak" masyarakat pada 1996 lewat film The Outraged Fugitive. Di film yang di Indonesia berjudul Pemburu Teroris itu memperlihatkan adegan syur antara dirinya dengan aktor Frank Zagarino dari Amerika. Adegan di kamar mandi itu begitu melegenda dan kalau Anda telaten, bisa ditemui di beberapa situs di internet. Di Akibat Buah Terlarang, Sorgaku Nerakaku, dan Lembah Biru, Ayu berani beradegan hot. Bahkan di film Telegram, film arahan Slamet Rahardjo yang membuatnya menjadi Aktris Terbaik di Festival Film Asia Pasifik ke-46 tahun 2001, pun Ayu tampak sensual. Bernama asli Siti Khadijah, kelahiran 19 November 1969 ini pernah memiliki suami bernama alm. Djodi Gondokusumo, Mohammad "Teemu" Yusuf asal Finlandia, dan kini gosipnya sedang dekat dengan Mike Tramp, vokalis White Lion. Wanita yang mengawali karirnya sebagai fotomodel ini bermain film pertama kali tahun 1985 dengan asuhan Teguh Karya. Pernah main teater bersama Teater Populer lewatPernikahan Darah (1986). Beberapa film yang pernah dibintanginya, diantaranyaPerkawinan Siti Zubaedah (1997), Oeroeg, dan Java Burn. Berbagai penghargaan pun ia raih, antara lain aktris terbaik pada Festival Sinetron Indonesia (FSI) 1996 dan FSI 1997; nominatori Aktris Favorit Pemirsa (Panasonic Award) setiap tahun sejak 1997. Tetapi, cap "wanita terpanas"lah yang membantu namanya melambung tinggi. (eimanjaya@yahoo.com) Sebagian tulisan ini dimuat di majalah Lisa. |
(diterbitkan ulang di LayarPerak.org, 10 Maret 2005) |
Showing posts with label indonesia. Show all posts
Showing posts with label indonesia. Show all posts
Friday, January 1, 2016
Mereka yang Berani Beradegan Panas
Labels:
2005,
arsip,
bomb sex,
crazy indonesia,
indonesia,
layarperak,
lisa
Sunday, October 18, 2015
Indonesia's Pocong in the front cover of Monster Magazine
Just found out this great issue:
“Ties That Bind:The Pocong & Other Creepy Creatures in Contemporary Indonesian Horror Cinema”. Monster! #21: Sept 2015 http://www.amazon.co.uk/gp/product/1517187818/ref=s9_simh_gw_p14_d0_i1?pf_rd_m=A3P5ROKL5A1OLE&pf_rd_s=desktop-1&pf_rd_r=1AJM9542N9Z0M44PCT1V&pf_rd_t=36701&pf_rd_p=577049067&pf_rd_i=desk
The front cover of the magazine is a POCONG.
Is this a sign that i should write a paper on Pocongsploitation?
“Ties That Bind:The Pocong & Other Creepy Creatures in Contemporary Indonesian Horror Cinema”. Monster! #21: Sept 2015 http://www.amazon.co.uk/gp/product/1517187818/ref=s9_simh_gw_p14_d0_i1?pf_rd_m=A3P5ROKL5A1OLE&pf_rd_s=desktop-1&pf_rd_r=1AJM9542N9Z0M44PCT1V&pf_rd_t=36701&pf_rd_p=577049067&pf_rd_i=desk
The front cover of the magazine is a POCONG.
Is this a sign that i should write a paper on Pocongsploitation?
Tuesday, October 21, 2014
Next Destination: MECCSA Conference, Newcastle upon Tyne, early January 2015
Yesterday, I received a great news from MECCSA (Media, Communication, and Cultural Studies Association), the biggest association in the UK related to respective disciplines. The first paragraph already revealed it all:
"The organisers of the MeCCSA 2015 conference are pleased to confirm that your proposed panel has been accepted. If you are no longer able to attend, we would be grateful if you could let us know as soon as possible"
Yay!
Yes, I am organizing a panel with my fellow colleagues, Alicia Izharuddin, Eric Sasono, and Tito Imanda. The title of our panel is " Postcards from Indonesia: Unexplored cross-generational Issues in Genres and Screen Practices". The conference will be held in Northumbria University, Newcastle upon Tyne, 7-9 January 2015. I will discuss the details once everything is fixed. And, of course, I will still present a topic related to cult, exploitation, and B Movies from Indonesia's New Order (1979-1995).
And finger crossed for the PhD bursaries.
"The organisers of the MeCCSA 2015 conference are pleased to confirm that your proposed panel has been accepted. If you are no longer able to attend, we would be grateful if you could let us know as soon as possible"
Yay!
Yes, I am organizing a panel with my fellow colleagues, Alicia Izharuddin, Eric Sasono, and Tito Imanda. The title of our panel is " Postcards from Indonesia: Unexplored cross-generational Issues in Genres and Screen Practices". The conference will be held in Northumbria University, Newcastle upon Tyne, 7-9 January 2015. I will discuss the details once everything is fixed. And, of course, I will still present a topic related to cult, exploitation, and B Movies from Indonesia's New Order (1979-1995).
And finger crossed for the PhD bursaries.
Friday, August 8, 2014
Photos: Discussions at Kineforum on New Order's Cult, Exploitation, and B Movies, 14 & 21 June 2014
The discussions took place at Kineforum, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
General Topic: Rethinking New Order's Indonesian Exploitation Cinema.
First discussion:
Public Lecture : "
New Order's Exploitation Films: legitimate, illegitimate, or stepchildren of Indonesian culture?"
Saturday, 14 June 2014, 17.00
second discussion: Indonesia's Transnational FIlms and The Global Phenomenon of “Crazy Indonesia”
with Joko Anwar.
Saturday, 21 June 2014, 19.30
General Topic: Rethinking New Order's Indonesian Exploitation Cinema.
First discussion:
Public Lecture : "
New Order's Exploitation Films: legitimate, illegitimate, or stepchildren of Indonesian culture?"
Saturday, 14 June 2014, 17.00
| Me, introducing the films |
| Q&A session |
second discussion: Indonesia's Transnational FIlms and The Global Phenomenon of “Crazy Indonesia”
with Joko Anwar.
Saturday, 21 June 2014, 19.30
| Matius, Joko Anwar, and Me |
Terima kasih buat Joko Anwar, Matius, Vauriz, Anies, dan semua relawan Kineforum, serta semua yang telah hadir dalam diskusi dan pemutaran film.
Photos courtesy of Anies Wildani/Kineforum
Thursday, November 21, 2013
New Book Indonesian Women FIlmmakers <-- my paper is part of it :)
New book: Yvonne Michalik (ed.) Indonesian Women Filmmakers
While Indonesia’s film industry has experienced a rapid growth and diversification since the end of Suhar
to’s authoritarian New Order regime in 1998, these developments have received only little academic attention. Especially the role of women filmmakers, who have played an important part in shaping contemporary Indonesian cinema and constantly add new perspectives to it, has been widely overlooked.
The contributions to this volume analyse films directed and produced by some of the most visible women in post-New Order Indonesian cinema in terms of their specific aesthetics and narrative styles as well as the socio-political issues they deal with. The authors further explore women filmmakers’ attitudes towards feminism, highlighting how the particular Indonesian context causes some of them to describe their approach as a “women’s perspective” rather than a feminist one.
In addition to the scholarly contributions, interviews with Indonesian women filmmakers from different genres provide insights into their perspectives on gender issues and their individual experiences as women in the male-dominated film industry.
With contributions by Novi Kurnia Olin Monteiro Intan Paramaditha Citra Diani Ekky Imanjaya Part II, Wiwik Sushartami, Jan Budweg, Sofia Setyorini Yvonne Michalik
coming soon! :)
ps: I co-wrote a paper with Diani Citra analysing Sammaria Simanjuntak's Demi Ucok :)
While Indonesia’s film industry has experienced a rapid growth and diversification since the end of Suhar
to’s authoritarian New Order regime in 1998, these developments have received only little academic attention. Especially the role of women filmmakers, who have played an important part in shaping contemporary Indonesian cinema and constantly add new perspectives to it, has been widely overlooked.
The contributions to this volume analyse films directed and produced by some of the most visible women in post-New Order Indonesian cinema in terms of their specific aesthetics and narrative styles as well as the socio-political issues they deal with. The authors further explore women filmmakers’ attitudes towards feminism, highlighting how the particular Indonesian context causes some of them to describe their approach as a “women’s perspective” rather than a feminist one.
In addition to the scholarly contributions, interviews with Indonesian women filmmakers from different genres provide insights into their perspectives on gender issues and their individual experiences as women in the male-dominated film industry.
With contributions by Novi Kurnia Olin Monteiro Intan Paramaditha Citra Diani Ekky Imanjaya Part II, Wiwik Sushartami, Jan Budweg, Sofia Setyorini Yvonne Michalik
coming soon! :)
ps: I co-wrote a paper with Diani Citra analysing Sammaria Simanjuntak's Demi Ucok :)
Wednesday, October 9, 2013
"Lady Terminator and the Golden Age of Indonesian Exploitation Films", a midnight lecture by Lew Ojeda
"Lady Terminator and the Golden Age of Indonesian Exploitation Films", a midnight lecture by Lew Ojeda (video) http://facetsfeatures.blogspot.co.uk/2010/02/watch-facets-night-school-online.html
6 February 2010 att Facets Multimedia, 1517 W Fullerton in Chicago, IL. $5 for the lecture/screening/discussion,
6 February 2010 att Facets Multimedia, 1517 W Fullerton in Chicago, IL. $5 for the lecture/screening/discussion,
Tuesday, January 29, 2013
Trailers and Excerpts from "Crazy Indonesia" movies
Hello :)
I just started my research 3 weeks ago, and I am so excited about it!
Just to give you the pictures about the research I am doing, here's some examples of trailers and clips about the films. Basically, the movies i want to analyse are not just Indonesian B movies or Exploitation Films. But, those with international distribution (VHS, DVD, VCD, Betamax; by MondomacabroDVD, Troma Entertainment, Brentwood Home Video, etc) and dubbed into English. Some Western cult-fan boys label those kinds of movies as "Crazy Indonesia". Do you agree with them?
I just started my research 3 weeks ago, and I am so excited about it!
Just to give you the pictures about the research I am doing, here's some examples of trailers and clips about the films. Basically, the movies i want to analyse are not just Indonesian B movies or Exploitation Films. But, those with international distribution (VHS, DVD, VCD, Betamax; by MondomacabroDVD, Troma Entertainment, Brentwood Home Video, etc) and dubbed into English. Some Western cult-fan boys label those kinds of movies as "Crazy Indonesia". Do you agree with them?
1979 Primitives (Primitif), Sisworo Gautama
1979
Queen of Black Magic (Ratu Ilmu Hitam) , Liliek Sudjio
1979 Special
Silencers (Serbuan Halilintar), Arizal
1981 Mystics
in Bali Mistik (Punahnya Rahasia Ilmu Iblis Leak), H. Tjut Djalil
1982 Ferocious
Female Freedom Fighters (The Fighters) (Perempuan Perempuan Bergairah), Jopi
Burnama and Charles Kaufman
1982 Satan's
Slave, (Pengabdi Setan), , Sisworo Gautama Putra
1983 Jungle
Virgin Force, (Perawan Rimba), Wellson Danu Umbara
1984 The
Devil's Sword, (Golok Setan) , Ratno Timoer
1985 Daredevil
Commandos, (Komando Sambar Nyawa), E.G.
Bakker
1987 Virgins
from Hell, (Perawan Disarang Sindikat), Ackyl
Anwari / Fred Wardy Pilliang
1988 Lady
Terminator (Pembalasan Ratu Laut Selatan) , H. Tjut Djalil
1992 Dangerous
Seductress, (Bercinta
Dengan Maut), , H. Tjut Djalil
What do you think so far?
What do you think, so far? :)What do you think, so far? :)
Wednesday, January 23, 2013
Introducing: Jaka Sembung and His Nasty Alliance
Hi,
My name is Ekky Imanjaya. I am currently a postgraduate student at University of East Anglia, Norwich, UK. I am now starting a research on Cult, Exploitation, and B Movies from Indonesia which produced between 1979 to 1995 during the oppressive regime called Orde Baru alias New Order. And my research is limited to the films that dubbed into English and distributed globally by international distributor such as MondomacabroDVD, Troma Entertainment, Brentwood Home Video, Trash Online, etc.
If you are interested, please do read this blog and give some feedbacks. If you have any info about the topic, or you are also a devoted fans of those kinds of films, please do let me know and discus the issues here :). Thank you!
For this very first posting, I share one of the most epic fighting scenes of The Warrior a.k.a. Jaka Sembung.
My name is Ekky Imanjaya. I am currently a postgraduate student at University of East Anglia, Norwich, UK. I am now starting a research on Cult, Exploitation, and B Movies from Indonesia which produced between 1979 to 1995 during the oppressive regime called Orde Baru alias New Order. And my research is limited to the films that dubbed into English and distributed globally by international distributor such as MondomacabroDVD, Troma Entertainment, Brentwood Home Video, Trash Online, etc.
If you are interested, please do read this blog and give some feedbacks. If you have any info about the topic, or you are also a devoted fans of those kinds of films, please do let me know and discus the issues here :). Thank you!
For this very first posting, I share one of the most epic fighting scenes of The Warrior a.k.a. Jaka Sembung.
Subscribe to:
Posts (Atom)

