Showing posts with label joko anwar. Show all posts
Showing posts with label joko anwar. Show all posts

Sunday, August 20, 2017

Coming Soon: Pengabdi Setan (Satan's Slave) remake!

One of my most anticipated Indonesian movies, beside Wiro Sableng: the remake of Pengabdi Setan (Satan's Slave), directed by one of my favorite Indonesian directors, Joko Anwar.
Coming Soon: 28 September 2017.




Official trailer:



Teaser1:


teaser 2:



Tuesday, March 29, 2016

Joko Anwar's Modus Anomali/RITUAL on DVD 16 May 2016

Featuring new UK artwork, Asian horror label Terror Cotta releases Joko Anwar's Modus Anomali (RITUAL) on DVD on 16 May 2016. 

Details: http://horrornewsnetwork.net/articles/14754-asian-horror-ritual-on-dvd-16-may-2016?Itemid=101

Saturday, April 18, 2015

Me and Pete Tombs

Last Thursday and Friday were probably the most productive days in years. I met many great people in London. And one of them was MondomacabroDVD's Pete Tombs.

I knew Pete since 2007 when I found a DVD title Mystics in Bali in a DVD store in Amsterdam, It was Joko Anwar who introduced me with this kind of classic transnational exploitation Indonesian films from his multiply blog back in 2007. And he gave me Pete's email address. So I wrote an email to Pete and had a long interviews.  For me, Pete is important, not only for distributing this kinds of films, but he also wrote a chapter on Indonesian cinema in his book Mondo Macabro:  Weird and Wonderful Cinema Around the World (1998).  and a short documentary .  that time, those were the only sources on Indonesian films as cult and exploitation movies.

Fascinated by this kind of movies, in 2008, I was writing a paper for my final assignment for a master module at Universiteit van Amsterdam. I haven't realized that time, that this presentation would lead me to my PhD study i am doing currently. But surely, it took long journey, from 2007 to 2012, for me to take this path as one of my passions.

After graduated from UEA, I returned home and wrote some popular articles on Pete Tombs and his MondomacabroDVD, as well as global exploitation films from Indonesia in general,  including  Pete Tombs, Penjaga Taman Film Ekspolitasi Indonesia (Pete Tombs, Park Ranger of Indonesian Exploitation Cinema),   Cult Fan Boys Ketemu Jaka Sembung dan Leak (Cult Fan Boys Meet Jaka Sembung and Leak),    Sekali Lagi Tentang  Film Horror Indonesia  (again, on Indonesian Horror Films). Jaka Sembung dan Dunia Islam

And in 2009, I went to Melbourne for B for Bad Movies conference at Monash University. I presented a talk titled The Other Side of Indonesia: New Order’s Indonesian ExploitationCinema as Cult Films, which got published in the same year.

And, in December 2012, I flew to Norwich to start my PhD research on the same topic. And, last month, I just guest-edited a special issue for Plaridel journal on the topic, and I got many interesting papers from great scholars all over the world, all discussing the same topic: exploitation, cult, and b-movies.

In a way, I can conclude that Pete Tombs is one of the most influential person for my current research.

I knew Pete from 2007, but I just met him two days ago. And it was a great chat.
Thank you, Pete.



'Cult Fan Boys' Ketemu Jaka Sembung dan Leak

  Catatan:
Tulisan lama di Multiply yang sudah lenyap link-nya. Dimuat di buku saya, Amsterdam Surprises.

 ---

Suatu hari di akhir 2007, saya mampir ke sebuah toko DVD terlengkap di Amsterdam, tak jauh dari Stasiun Sentral (kini sudah tutup karena bangkrut). Tak terduga, saya menemukan Mystic in Bali, sebuah karya Tjut Djalil berjudul asli Leak tahun 1980. Di atas sampulnya tertulis “the holy grail of cult Asian cinema”.Dan ingatan saya melayang beberapa bulan sebelumnya, saat saya ngobrol dengan sutradara Joko Anwar seputar film-film Indonesia seperti Jaka Sembung (judulnya berubah menjadi The Warrior) dan Pembalasan Ratu Pantai Selatan (Lady Terminator) yang beredar di luar negeri dengan kualitas gambar yang jernih. Bahkan, dalam DVD Virgin ifrom Hell (judul aslinya Perawan di Sarang Sindikat), ada film dokumenter berjudul Indonesian Exploitation Cinema yang bercerita tentang film-film berjenis ini di era 1970 dan 1980an—lengkap dengan analisa politik Orde Baru. Maka saya pun berselancar di internet, mencari tahu fenomena apa gerangan, terutama ke situs dua distributor besarnya:www.mondomacabrodvd.com  (www.mondomacabrodvd.com) dan www.troma.com.  (www.troma.com.)

Indonesian Exploitation Movie  (www.youtube.com)

Dan olala…saya menemukan banyak fakta bahwa film-film yang dikategorikan film B itu banyak pemujanya. Beberapa judul di antaranya adalah The Warrior against the Blind Swordsman (Jaka Sembung dan Si Buta dari Gua Hantu), Daredevil Commando (Komando Samber Nyawa), and Rambu: Prince of Universe (Pembalasan Rambu), The Snake Queen (Nyi Blorong), Revenge of Ninja (Gadis Berwajah Seribu), The Devil's Sword (Golok Setan), Ferocious Female Freedom Fighters (Perempuan Perempuan Bergairah), Queen of Black Magic (Ratu Ilmu Hitam), dan 5 Deadly Angels (5 Cewek Jagoan), Jungle Virgin Force (Perawan Rimba), hingga Satan’s Slave (Pengabdi Setan). film-film bergenre Exploitation Cinema yang di tanah air sudah terlupakan dan sulit ditemui (kecuali di beberapa tempat di Glodok, Jakarta) ini beredar secara internasional dan mendapat tempat yang layak, bahkan dipuja-puja. Fenomena apa ini?

Exploitation Cinema, Cult Cinema

Eric Schaefer dalam artikelnya Exploitation Films: Teaching Sin in the Suburbs menyatakan bahwa film genre eksplotasi adalah film berbudget rendah, sensasional yang berisi seks, ketelanjangan, dan kekerasan. Dalam Wikipedia, ditambahkan juga muatan seputar narkoba, monster, freaks, gore, pengrusakan, pemberontakan, keganjilan, dan banyak lagi. Subgenrenya, antara lain seksploitation, zombie (seperti Satan’s Slave), perempuan dalam penjara (Virgin in Hell), kanibalisme (Primitive, film pertama Barry Prima) dan womensploitation, (Ferocious Female Freedom Fighters). Khusus kasus Indonesia, Karl mengutip Heider dalam Indonesian Cinema (National Culture on Screen), ada dua subgenre lainnya: Kumpeni (pahlawan legendaris dengan kekuatan supernatural yang melawan penjajahan Belanda, seperti Jaka Sembung), dan Legenda (dramatisasi dongeng tradisional yang acap berhubungan dengan ilmu hitam dan mistik Timur, seperti Nyi Roro Kidul). Film-film berbudget rendah rendah dari Indonesia inilah yang banyak beredar di luar negeri (dibandingkan dengan film festival, saya hanya menemui Opera Jawa, Eliana-Eliana, dan beberapa gelintir lainnya). Namun mengapa mereka mempunyai fans yang militan, di luar negeri?
Bruce kimpoi, dalam After Midnight menyebut sinema macam itu sebatai “film yang selalu ditonton berulang-ulang dan menyajikan hal-hal liyan (otherness)”. Timothy Corrigan, pada Film and The Culture of Cult, mendefinisikannya sebagai film yang terpinggirkan, esentrik, dan ganjil. Dan, tentu saja, mereka mempunyai “hooligans”, penonton militan. “Cult fan boy”, menurut istilah Oliver Dew, “Nearly Worshipful Audience” kata JP Telotte”, “Devoted audience” sebut Bruce kimpoi. “Penonton semacam ini berbagi kepuasan mengapresiasi sebuah karya yang sangat berbeda, dan dalam derajat tertentu membentuk identifikasi kelompok” kata kimpoi. Timothy Corrigan bahkan menyatakan bahwa penonton tak hanya mencari karakter dan cerita yang tak familiar, tapi juga gaya, frame, dan imagistic texture.
Saya pernah begadang bersama-sama penonton militan macam itu. Bersama Joko Anwar di acara Night of Terror, acara ritual Amsterdam Fantastic Film Festival, April 2008 . Mereka berteriak-teriak, mencemooh film-film yang diputar karena adegannya dianggap kurang seru. Bahkan berdandan yang seram-seram. Mengasyikkan. Asmayani Kusrini, rekan saya di rumahfilm.org juga menemukan fenomena yang sama di Brussel International Fantastic Film Festival.. Joko memberitahu saya bahwa hal serupa mulai terbentuk saat Screamfest di Jakarta berlangsung.

“Mahluk” macam apa mereka? Oliver Dew dalam artikelnya Asia Extreme: Japanese Cinema and British Hype menyatakan bahwa mereka merayakan keterpinggiran, hal-hal yang tak akan ditonton dan dinikmati oleh penonton arus utama, khususnya menyajikan transfregi norma social dan estetis. Sedangkan Barry Grant dalam The Cult Film Experience menggarisbawahi bahwa memang cult cinema adalah fandom based genre yang membentuk komunitas mikrokosmis penggemarnya. Singkatnya: “Melewati batas-batas waktu, kebiasaan, bentuk, dan selera tinggi”, ungkap Telotte. 



Kuncinya: Pemasaran

Oliver Dew pernah mengkaji fenomena serupa yang diterbitkan Tartan Video dengan label Asia Extreme di Inggris. Tingginya penjualan DVD film sejenis ini, selain memenuhi selera fan cult boys juga karena keberhasilan membangun merk dan komunintas serta mengombinasikannya dengan kebiasaan menonton film asing. Dan karena para pemuja-penonton itu senang dengan hal-hal yang liyan (the otherness) dan tak-diketahui (the uknown), serta eksotis, maka mereka pun meracik pemasaran yang memajang hal-hal semacam itu, khusus untuk penonton yang tersegmentasi itu. 

Bagaimana dengan kasus film Indonesia 1980an itu? Apa yang membuat para penonton bule itu tergila-gila dengan film-film yang kerap dicap “murahan” itu?

Pertama, hal-hal yang ganjil, the unknown, dan aneh bagi orang Barat. Misalnya, majalah Monsters At Play mengomentari Leak dengan endorsement: “Some of the most bizarre supernatural horror elements I have ever seen in a motion picture”. Ilmu hitam dari Asia dan berbagai dongeng dan mitos yang mitis menjadi daya tarik, dan hal itu yang ditekankan.

Kedua, keliyanan, hal-hal eksotis. Dari motonya saja, kita sudah bisa melihat seperti apa isi produk Mondo Macabro: “The Wild Side of World Cinema. Dan kelebihan sinema Indonesia adalah adanya subgenre yang tidak ada di negeri lain, seperti legenda lokal dan kumpeni. Dan, para distributor film eksploitasi pun, dalam dan luar negeri, mengemasnya dengan jitu.


Pertama, mereka memakai aktor dan aktris asing, walau pun amatir dan baru pertama kali main film. selain Mystic in Bali ada Rambu (sudah pasti duplikatnya Rambo) dan , Dangerous Seductress, alias Bercinta dengan Maut). Mereka memakai teknik dari Hollywood yang dikemas dengan cerita khas Indonesia. Untuk distribusi luar negeri, semua dialog, tentu saja termasuk trailer, disulihsuarakan ke dalam bahasa Inggris—kadang memakai terjemahan bahasa Jepang dan bahkan Finlandia. Dalam cerita, mereka juga mengadopsi sebagian cerita Barat. Misalnya, dalam The Warrior ada adegan mirip penyaliban Yesus dan di akhir cerita ada perubuhan gedung mirip Samson dan Delilah.

Silahkan simak trailer The Warrior sebagai contoh. Beberapa tagline-nya adalah ““Duel of Art of Eastern Mystic”, “a mutilated body becomes whole when touches the ground” (saat adegan ajian rawarontek), atau “Supernatural Action Adventure “

Dalam sulih suara, mereka pun membuatnya menjadi berlebihan, bahkan sekuler. Misalnya, saat Surti (Eva Arnaz) kekasih Jaka Sembung bersedih, ayahnya menghibur dengan ucapan :”tawakallah, Surti…”, tetapi di versi Barat diubah menjadi “I think you underestimate Jaka, Surti”. Saat Jaka ditangkap dan disiksa hingga buta, ia merapal ayat-ayat suci untuk merubuhkan gedung, tapi tidak didubbing di versi Barat. Juga ada seorang lawan Jaka Sembung yang botak yang hanya tampil tak lebih dari 10 menit, tapi di trailer ditonjolkan seorang pemerkosa yang digjaya.

Begitulah. Sifat alami the cult fan boys yang memang mencari hal-hal aneh dan ganjil bertemu dengan film-film yang aneh, mistis, dan marjinal. Dan keduanya ditangkap oleh distributor asing dan diramu menjadi strategi marketing dan menjadi, mengambil istilah dari Godfather : “…an offer that cult fan boys can not refuse”.

Friday, August 8, 2014

Photos: Discussions at Kineforum on New Order's Cult, Exploitation, and B Movies, 14 & 21 June 2014

The discussions took place at Kineforum, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
General Topic: Rethinking New Order's Indonesian Exploitation Cinema.


First discussion:
Public Lecture : "
New Order's Exploitation Films: legitimate, illegitimate, or stepchildren of Indonesian culture?"
Saturday,  14 June  2014, 17.00
Me, introducing the films
Q&A session


second discussion:  Indonesia's Transnational FIlms and  The Global Phenomenon of “Crazy Indonesia”
with Joko Anwar.
Saturday,  21 June 2014, 19.30

Matius, Joko Anwar, and Me




Terima kasih buat Joko Anwar, Matius, Vauriz, Anies, dan semua relawan Kineforum, serta semua yang telah hadir dalam diskusi dan pemutaran film.

Photos courtesy of Anies Wildani/Kineforum