Sunday, April 12, 2020

Nonton Gratis dan Legal Film Indonesia (2): Film Klasik


 Jual Warkop : Pintar Pintar Bodoh (Vcd Original) di lapak Z Z Shop ...
Pengantar:

Temuan saya seputar kategori Film Indonesia Klasik, rupanya memang didominasi oleh film-film komersial seperti yang dibintangi Suzanna dan Warkop DKI. Tapi, menariknya, Benyamin Sueb tidak ada di OTT yang saya jelajahi. Hal menarik yang saya temukan adalah film semacam Ranjang Pengantin dan Samson dan Delilah yang cukup langka di Indonesia (kecuali dalam semacam DVD 5 in 1), namun  acap dibicarakan oleh penggemar film B/eksploitasi global di berbagai forum online dan dilabeli #CrazyIndonesia,
Film-film favorit saya dari sutradara favorit saya juga tidak saya temukan sewaktu ngubek-ngubek situs-situs itu. Misalnya Usmar Ismail (kecuali Darah dan Doa), Syuman Djaya, Nyak Abbas Akub, atau Garin Nugroho.  Namun, surprisingly, saya menemukan satu film karya Chaerul Umam (ada di Favorit Utama) dan Arifin C Noer, (ada di wishlist).

Untuk pengkategorian, ada yang berdasarkan genre, ada yang berdasarkan sineas/aktornya. Suzanna, Ateng-Iskak,  dan Warkop saya jadikan sebuah kategori khusus karena mereka telah menjadi ikon, sesuatu yang hampir tidak terjadi di era sekarang.

Daftar di bawah ini, sayangnya, tidak mencantumkan film-film yang sudah direstorasi secara digital oleh Flik. Juga tidak memasukkan film-film yang sudah direstorasi oleh beberapa pihak, termasuk yang sudah ada dalam daftar Pusbang Film  (sebelum berubah nama). Karena belum  bisa diakses secara online dan gratis.

Favorit Utama
Gundala Putera Petir (liliek Sudjio, 1981):   https://www.iflix.com/id/en/title/movie/170931
O0m Pasikom (Parodi Ibukota (Chaerul Umam, 1990): https://www.iflix.com/my/en/title/movie/170929


Horor
Pengabdi Setan (Sisworo Gautama, 1980) : https://www.iflix.com/id/en/title/movie/198720
Ranjang Setan (Tjut Djalil, 1986): https://www.iflix.com/id/en/title/movie/111412

Suzanna
Ratu Sakti Calon Arang (Sisworo Gautama, 1985): https://www.iflix.com/id/en/title/movie/106642
Ratu Buaya Putih (Tjut Djalil, 1988) : https://www.iflix.com/id/en/title/movie/170167
Samson dan  Delilah (Sisworo Gautama Putra, 1987) https://www.iflix.com/id/en/title/movie/106643
Santet (Sisworo Gautama Putra, 1988): https://www.iflix.com/id/en/title/movie/116558
Telaga Angker(SIsworo Gautama Putra, 1984): https://www.iflix.com/id/en/title/movie170999
Usia dalam Gejolak (Sisworo Gautama Putra, 1984): https://www.iflix.com/id/en/title/movie/179624
Wanita HArimau (Santet 2) (Sisworo Gautama 1989): https://www.iflix.com/id/en/title/movie/179626
Sangkuriang (Sisworo Gautama 1982): https://www.iflix.com/id/en/title/movie/276056


Komedi

Doyok-Kadir
Makelar Kodok (Norman Benny 1989): https://www.iflix.com/id/en/title/movie/243136

Warkop


Ateng-Iskak
Ateng Sok Tahu (Hasmanan, Soendoro, 1979): https://www.iflix.com/id/en/title/movie/250854
Ateng the Godfather (Hasmanan, 1976): https://www.iflix.com/id/en/title/movie/251177
Ateng Sok Tahu (Hasmanan, Soendoro, 1976): https://www.iflix.com/id/en/title/movie/250541
Eh Tuyul Ketemu Lagi (Liliek Sudjio, 1979): https://www.iflix.com/id/en/title/movie/179628



Laga/Silat
Pasukan Berani Mati (Imam Tantowi, Subagio Samtani, 1982): https://www.hooq.tv/id/movies/pasukan-berani-mati-69f60d71-0eab-486c-b675-73b89d56a437
Ferocious Female Freedom Fighters (Perempuan Bergairah, Jopi Burnama, 1982) (versi Troma): https://www.youtube.com/watch?v=HCljpl9EOpw&t=252s



Seri Jaka Sembung
Jaka Sembung Sang Penakluk (Sisworo Gautama Putra, 1981): https://www.hooq.tv/id/movies/jaka-sembung-649f52b3-7fdb-4ff1-b569-1630e74b85d4
Si Buta Lawan  Jaka SEmbung (Dasri Yacob, 1983): https://www.iflix.com/id/en/title/movie/276057


Drama
Darah dan Doa (Usmar Ismail 1950) https://www.youtube.com/watch?v=espUqXyjlF8&t=299s 

Wish List
Biarkan Bulan Itu (Arifin C Noer, 1986): https://www.hooq.tv/id/play/202e5ead-d5d6-4b57-80a3-1dfb32bbd9ff
Romi dan Juli (Hasmanan, 1974), pasangan bintang Rano Karno dan Yessi Gusman. Co-writernya Arifin C Noer: https://www.hooq.tv/id/movies/romi-juli-fec299f7-fc03-46c5-b49e-094d144429d9
Inem Nyonya Besar (Mochtar Soemodimedjo, 1977, Semesta Inem Pelayan Seksi): https://www.hooq.tv/id/play/7e5ebe7b-e8c0-4fd3-9564-d6dc6a7ab7c9


Berikutnya:
Nonton Gratis dan Legal Film Indonesia (3): Film Kiwari  https://findingjakasembung.blogspot.com/2020/04/nonton-gratis-dan-legal-film-indonesia_20.html




Tautan terkait:

Seri Nonton Gratis dan Legal Film Indonesia:

Nonton Gratis dan Legal Film Indonesia (1): Pengantar dan Rekomendasi Utama   : https://findingjakasembung.blogspot.com/2020/04/nonton-gratis-dan-legal-film-indonesia.html
Nonton Gratis dan Legal Film Indonesia (4): Film Pendek  
https://findingjakasembung.blogspot.com/2020/04/nonton-gratis-dan-legal-film-indonesia_47.html

Nonton Gratis dan Legal Film Indonesia (1): Pengantar dan Rekomendasi Utama


Potret Lawas on Twitter: "Beberapa hal tentang Darah dan Doa, film ...
Pengantar

Bosan ngubek-ngubek Netflix Selama era karantina karena  pandemic COVID19? Ingin nonton film Indonesia klasik yang gratis, hi-res, dan bukan bajakan atau bootleg? Daftar ini berusaha menyajikannya.

Terinspirasi  oleh banyaknya institusi (perusahaan film, festival film, Lembaga Pendidikan film) yang membuka akses film dan materi lainnya secara gratis selama era #dirumahaja, saya juga ingin menyumbang sesuatu. Dan, niatnya, spesifik ke film Indonesia.
Awalnya, saya ingin berbagi tautan film-film klasik dari sutradara-sutradara favorit saya di YouTube. Misalnya karya-karya Usmar Ismail yang sangat banyak, juga Djajakusuma, Nyak Abbas Akkub,  Syuman Djaya, dan banyak lagi. Termasuk film pertama Nyak Abbas Akub, Pareh dan sebuah film karya Kotot yang langka itu. Tapi, setelah ngobrol  dengan beberapa teman, saya urungkan niat ini. Untuk menghormati dan menghargai karya anak bangsa, maka yang saya sebarkan haruslah yang legal dan resmi, bukan bajakan dan bukan bootleg. Dan ini adalah syarat pertama: Legal.

Syarat kedua adalah gratis. Di era prihatin ini, dimana semua sedang di rumah dan banyak yang terdampak secara ekonomi, tautannya haruslah yang gratis. Dan lagi, tren sebulan terakhir, kita kebanjiran info-info tentang hal-hal keren yang (di)gratis(kan). Karena itu, saya tidak memasukkan Netflix, karena ada syarat berlangganan.

Syarat ketiga: dikurasi.  Sebagaimana diketahui, internet adalah lembah yang rimbun dan tak terbatas. Dan banyak dari kita yang sudah biasa mengakses OTT seperti VIU, HOOQ, dan IFlix. Tapi, di antara ratusan, mungkin ribuan, judul film Indonesia itu, yang manakah yang menjadi prioritas untuk ditonton terlebih dahulu. Karena itulah, saya berinisiatif untuk memilah, memilih, menyeleksi film-film di tiga situs itu, selain YouTube.

Hal yang sama terjadi  juga di kategori film pendek. Saya baru ngeh bahwa Viddsee sekarang menjadi situs utama untuk film-film pendek, padahal 10 tahun lalu saya pikir ada beberapa situs sejenis sebagai etalase film pendek Indonesia. Walau kita tahu Viddsee sarangnya film pendek, tapi, bagaimanakah menyortirnya dan mengkurasi data yang melimpah itu. Karena itulah saya kira perlu untuk pendataan, pemetaan, dan kemudian menyebarkan akses-akses ini.
Selain Viddsee, kanal YouTube sang sineas atau komunitasnya juga penting. Dan ini juga perlu penjelajahan tersendiri.  Sayangnya, tidak semua film pendek atau filmmaker favorit saya ada di dunia maya.  

Metode yang saya pakai sederhana. Karena ini inisiatif pribadi dan tidak ada dana apapun, maka saya mengeksplorasi secara manual ke situs-situs yang saya sebut di atas. Mirip saat saya dan tim RumahFilm  mengerjakan buku Menjegal Film Indonesia, saya memulung data di sana-sini. Jadi, saya ada pengalaman dalam hal comot mencomot data.  Kebetulan saya pernah melakukan hal serupa saat menulis untuk jurnal Asian Cinema  (kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dalam buku Mau DibawaKemana Sinema Kita .

Yang harus dicatat, ini adalah upaya retasan. Ini masih rintisan, jauh dari sempurna. Jadi, mohon maaf bila tidak semua film yang sudah sesuai syarat (legal, gratis  dan  daring) ada yang tidak terpilih.  Di lain pihak, tuaya ini adalah bagian dari kuratorial saya. Jadi memang ada seleksi. Dan tidak dimaksudkan untuk menjadi katalog yang memasukkan semua film.  Sebagai upaya awal pendataan dan pemetaan, semoga penggiat film lainnya bisa melakukan hal yang sama dengan tujuan, pendekatan,  dan visi misi masing-masing.

Seri tulisan ini akan terbagi empat bagian. Bagian pertama adalah pengantar dan lima rekomendasi utama saya. Bagian kedua mencakup film-film klasik, dan ketiga adalah film-film kiwari. Bagian terakhir khusus untuk film pendek. Untuk film dokumenter, semoga ada waktu dan tenaga untuk melanjutkannya. Atau silahkan bagi yang ingin meneruskan usaha ini.

Yang dimaksud dengan film klasik dan film kiwari dalam konteks tulisan ini cukup sederhana. Film klasik adalah film sebelum era reformasi (Mei 1998), dan film kiwari adalah film-film setelahnya. Pengkatagorian juga tidak terlalu ketat. Ada yang berdasarkan genre (horror, drama, laga/silat, dll), ada yang berdasarkan nama aktor dan sutradaranya. Ada juga yang belum pernah saya tonton, saya masukkan dalam kategori “wishlist”.

Terakhir, bagi yang ingin berkontribusi memasukkan link film favoritnya, atau film buatannya, silahkan kirimkan komentar di tulisan ini di  kolom komentar di bawah ini, atau di tiap-tiap tulisan terkait.  Syaratnya: gratis, online, legal.

Selamat menonton. Berikut saya berikan film-film rekomendasi utama, sebelum masuk ke tulisan berikutnya.


Rekomendasi Utama
1.      Ferocious Female Freedom Fighters (Perempuan Bergairah, Jopi Burnama, 1982) (versi Troma): https://www.youtube.com/watch?v=HCljpl9EOpw&t=252s
2.      Darah dan Doa (Usmar Ismail 1950) https://www.youtube.com/watch?v=espUqXyjlF8&t=299s
3.      Cek Toko Sebelah (Ernest 2016) : https://www.hooq.tv/id/play/12da130a-43c0-43d9-81a4-7ef9901ee84e
5.      Jaka Sembung Sang Penakluk (Sisworo Gautama Putra, 1981): https://www.hooq.tv/id/movies/jaka-sembung-649f52b3-7fdb-4ff1-b569-1630e74b85d4
6.      Sugiharti Halim (Ariani Darmawan): https://www.viddsee.com/video/sugiharti-halim/gg1zn?channel=9808
 Dua Garis Biru (Gina S Noer, 2019) : https://www.iflix.com/id/en/title/movie/267380


Berikutnya:
Nonton Gratis dan Legal Film Indonesia (2): Film Klasik https://findingjakasembung.blogspot.com/2020/04/nonton-gratis-dan-legal-film-indonesia_12.html



Tautan terkait:
Seri Nonton Gratis dan Legal Film Indonesia:

Nonton Gratis dan Legal Film Indonesia (1): Pengantar dan Rekomendasi Utama   : https://findingjakasembung.blogspot.com/2020/04/nonton-gratis-dan-legal-film-indonesia.html
Nonton Gratis dan Legal Film Indonesia (4): Film Pendek  

Thursday, April 9, 2020

Unduh Gratis 4 dari 6 Buku Seri Wacana Sinema (Termasuk Tilas Kritik)



Kabar Gembira!
4 dari 6 buku dari Seri Wacana Sinema terbitan Komite Film Dewan Kesenian Jakarta sudah bisa diunduh secara gratis.


  1. Mencari Film Madani: Sinema dan Dunia Islam (Ekky Imanjaya)
  2. Tilas Kritik: Kumpulan Tulisan Rumah Film 2007-2012 (Editor: Ekky Imanjaya dan Hikmat Darmawan)
  3. Direktori Festival Film Dunia dan Indonesia (Komite Film Dewan Kesenian Jakarta & COFFIE (Coordination for Film Festival in Indonesia)
  4. Menonton Penonton: Khalayak Film Bioskop di Tiga Kota (Jakarta, Bandung, Surabaya) (Dyna Herlina S., Kurniawan Adi Saputra, Firly Annisa)



Dua judul buku terakhir seri ini adalah:
  1. Antarkota, Antarlayar: Potret Komunitas Film di Indonesia (Levriana Yustriani, Adrian Jonathan Pasaribu, Deden Ramadani)
  2. Jiwa Reformasi dan Hantu Masa Lalu: Sinema Indonesia Pasca Orde Baru (Quirine van Heeren)
Keduanya akan ada e-book-nya juga. Tunggu tanggal mainnya!

Monday, March 9, 2020

"Pembunuh Meniru Film Horor (?)"

Apakah sebuah karya fiksi bisa mempengaruhi seseorang untuk melakukan kriminal seperti pembunuhan atau pemerkosaan?
Tentu saja saya sangat prihatin dan bersedih dengan adanya kasus pembunuhan seorang bocah 6 tahun yang dilakukan oleh seorang gadis yang mengaku terinspirasi dari film "Chucky" dan "Slender Man".
Tapi saya tidak lantas menelan mentah-mentah bahwa film sepenuhnya bisa mempengaruhi tindakan.
Saya termasuk yang sependapat dengan Asrul Sani. Seperti yang saya pernah kutip dalam tulisan yang tautannya saya sertakan di bawah ini, Asrul dalam “Film dan Sensor Ditindjau dari sudut Kreasi”, di majalah Aneka No. 25/VIII/1957 menyatakan bahwa ia menolak mitos bahwa film berbahaya dan menjadi salah satu sumber kejahatan. Ia mensitasi hasil penelitian dari Departmental Committee on Children and the Cinema, Inggris, yang mengkaji hubungan menonton film dan tindak kejahatan. Kesimpulannya, setelah peneliti banyak anak-anak di bawah 16 tahun, film tidak terbukti mempengaruhi mereka untuk berbuat kejahatan. Lantas, mereka meneliti 130 kriminal anak, dan kesimpulannya adalah:
” Sebab-sebab dari kedjahatan mereka itu dapat dikembalikan kepada keadaan rumah tangga jang djelek, kurangnja rasa kasih sajang orang tua mereka, dan kedjadian-kedjadian dalam hidup mereka jang menimbulkan sematjam ketakutan dalam diri mereka.”
Kedua, ia mengutip laporan tahunan dari Magistrates Association Inggris, 1948, yang menyatakan hal yang sama: tidak ada hubungan antara film dan kriminalitas anak muda. Terakhir, ia juga menjabarkan pendapat Bijdendijk (Ketua Panitia Sensor di Belanda) yang disiarkan di Utrech tahun 1956. Ia berkata: “Penjelesaian sebaik2 nja dari masaalah2 jang berhubungan dengan bioskop dan film terletak dalam pendidikan dan penerangan jang baik terhadap pemuda2, dan tidak terletak dalam tangan panitia sensor. Karena itu dalam bioskop djanganlah orang dengan penuh rasa ketakutan mentjoba mendjauhkan pemuda-pemuda kita dari hal-hal jang dalam kehidupan sehari-hari jang kedjadiannja tak bisa dielakkan.”
Bagi Asrul, yang saya amini, biang keladinya bukan pada film itu sendiri, melainkan pada pendidikan dan kehidupan berumahtangga.
Intinya adalah: film--sebagaimana musik, agama, negara, olahraga--ditafsirkan sejauh mana penafsiran orang terhadapnya. Ia bisa berubah menjadi hal yang positif, menyerukan kebaikan. ia bisa diubah menjadi virus kebencian dan kejahatan. Ia bisa menjadi alat pemersatu sekaligus alat pemecah belah. Dan peran orang tua dan guru serta lingkungan juga mempengarui perspektif seseorang terhadap film (dan musik, agama, negara, olahraga).
Saya termasuk yang setuju dengan sensor dalam bentuk klasifikasi usia yang diterapkan secara ketat dan terukur. Dan ini terkait dengan peran orang tua/guru/lingkungan dalam membentuk jiwa, akhlak, dan konsep diri seseorang. Bahwa diskusi sebelum dan setelah menonton film untuk film-film yang PG (parental guidance suggested) atau BO (bimbingan orang tua), adalah penting. Ini juga terkait dengan upaya peningkatan apresiasi dan literasi terhadap film: Bagaimana melatih anak-anak sedini mungkin untuk "melek film" dan menjadi "penonton aktif", tidak lantas melarutkan gejolak perasaannya dan mencari pembenaran dalam (dan mengkambinghitamkan) sinema.
Selama masih ada anak kecil menonton Deadpool atau ada yang marah-marah karena film Warkop Reborn (yang buat remaja) menampilkan adegan yang tidak layak ditonton balita (padahal itu bukan film anak-anak), dan/atau tidak ada diskusi yang proper kepada mereka, ya....begitulah.
Tentu saja banyak orang yang tidak sepakat dengan pemikiran saya. Tidak masalah. Beda pendapat itu lumrah. Mari kita diskusi dan mencari solusi terbaik soal ini.
Saya tutup status ini dengan mengutip formula dalam "Law and Order: Special Victim Unit" yang dulu saya rajin ikuti. Dalam banyak episode selalu ada perdebatan seputar hal ini:
- Berapa banyak orang yang menonton film porno, tapi berapa persen yang berubah menjadi pemerkosa?
- Berapa banyak orang yang menonton film horor dan pembunuhan, tapi berapa yang kemudian menjadi pembunuh?
Wallahua'lam.

Tuesday, March 3, 2020

Konferensi Film Indonesia : Panel 10. Film & Sejarah II: Sejarah Film, F...

Konferensi Film Indonesia : Panel 10. Film & Sejarah II: Sejarah Film, Film Sejarah


Moderator: Dr. Budi Irawanto

Christopher Woodrich, Universitas Gadjah Mada: Ekranisasi Awal: Pengalihan Novel ke Bentuk Film di Hindia Belanda

Luqman Abdul Hakim, SMA MUhammadiyah 3 Jakarta: Sejarah Dalam Sinema: Refleksi Perkembangan Film Sejarah Masa Orde Lama, Orde Baru, dan Reformasi

Dr Thomas Barker, University of Nottingham Malaysia Campus, dan Ekky Imanjaya, University of East Anglia dan Universitas Bina Nusantara: Film Eksploitasi Transnasional di Asia Tenggara: Kasus-kasus Indonesia dan Filipina

Ekky Imanjaya, University of East Anglia dan Universitas Bina Nusantara: Mengapa Orde Baru Mengekspor Film-Film Yang Sebenarnya Tak Mereka Inginkan? : Prokjatap Prosar

KULTUM Bersama Ekky & Hikmat, Episode 1: Segila Apa Elo, Soal Film? Bagi...

Pertamax: KULTUM! (Kuliah Tujuh Movies) bersama Ekky & Hikmat #kultum #kuliahtujuhmovies #ekky&hikmat
Episode 1: Segila Apa Elo, Soal Film?  

Monday, February 10, 2020

Bong

BONG.
So, my timeline is full with the success Oscar story of Bong Joon-Ho and his work, Parasite. What a Day!

The first time I watched Bong’s film was in a new movie-theatre named Blitz Megaplex in Grand Indonesia, Jakarta. It was The Host, circa 2006. What a rollercoaster that was. I got engaged. After the show, my friend asked me: “From 1 to 10, how was the movie?” I answered right away:”11!”. Probably that is a hyperbole, but I really liked it.
About 13 years later, I watched Parasite, last year, in CGV (The new name of Blitz) at Pacific Place,Jakarta.  And Bong still blew my mind, and he is more skillful than ever.
In 2011, 5 years after my first experience with Bong’s work, I got invited by IVLP to visit some cities in the US, including Sundance Film Festival. It was snowy and the hill in the winter was colder particularly in the evening and midnight. That day, I really wanted to watch Alex Stapleton’s “Corman’s World: Exploits of a Hollywood Rebel”, a documentary on Roger Corman, the King of B-Movies, and his Corman’s Film School. The program title was “Park City at Midnight”, so i had to wait until midnight to enter (with a very long queue, outdoor!) the theater. It was almost midnight, in the cold winter. My colleagues decided to go back to the hotel in Salt Lake City (about 45 minutes from the venue). I made up my mind, i had to watch the movie, so I stayed, sitting in the lobby of a hotel near the venue to keep me warm. And, midnight has arrived. We entered the cinema.
And guess who sat in front of me: Bong Joon-Ho! He was one of the juries.I was not really sure at first, so I asked him nervously:”Are you Bong Joon-Ho?”. And he said yes. So, I asked him to sign the festival booklet. Damn, I forgot where I kept it.n



Anyway, I wrote a short review on the movie: https://m.detik.com/hot/movie/d-1586885/oleh-oleh-dari-sundance-film-festival-2011 (sorry, it’s in Indonesian language).
#starstruck #numpangnorak #bong #bongjoonho #parasite #thehost


Other story related to starstruck with other great filmmakers: https://findingjakasembung.blogspot.com/2019/07/?m=1