Showing posts with label liliek sudjio. Show all posts
Showing posts with label liliek sudjio. Show all posts

Tuesday, January 6, 2015

2014: Wafatnya Arizal dan Liliek Sudjio

Tahun 2014 adalah tahun wafatnya Arizal dan Liliek Sudjio. Keduanya adalah sutradara yang acap dipandang sebelah mata baik oleh pembuat kebijakan, banyak kritikus dan jurnalis film, dan sebagian penonton film kelas atas. Tapi, film-film mereka selalu laris manis disemuti penonton--baik di bioskop apalagi di Layar Tancap di berbagai pelosok. Bagi saya, mereka (bersama sutradara lainnya yang juga sering tak dianggap, seperti Sisworo Gautama Putra, Tjut Djalil, Imam Tantowi, Jopi Burnama, Ackyl Anwari, dan Danu Umbara) punya signifikansinya dan keunikannya tersendiri dalam sejarah film Indonesia--apalagi kalau dipandang dari perspektif ekonomi budaya, Politik Selera, politik kebudayaan, kajian kebijakan, kajian penonton dan penggemar. Semoga saya punya cukup energi untuk menyelesaikan tesis doktoral saya soal (pentingnya) karya-karya mereka, dan menerbtikannya dalam buku, dan lalu menerbitkan versi Bahasa Indonesianya di tanah air.

Kumpulan Diskusi saya tentang alm Arizal di Twitter (18 Mei)
Obituari pendek alm Lilik Sudjio (9 Desember):
http://findingjakasembung.blogspot.co.uk/…/rip-lilik-sudjio…

Tuesday, December 9, 2014

RIP Lilik sudjio, the director of "Queen of Black Magic"

I just read from El –Badrun’s Facebook status, that #liliksudjio just passed away today  (9 dec), at 07.30, in Jakarta.

Liliek Sudjio  was the first director who received Citra awards in the 1st Festival Film Indonesia. He outdid Usmar Ismail, “the father of Indonesian cinema”.  He directed Ratu Ilmu Hitam (Queen of The Black Magic, 1979), one of the earliest exploitation films exported overseas in the early 1980s and recirculated in the 2000s.

But Liliek’s works are beyond that. He directed several superhero movies such as GundalaPutra Petir (Indonesia's Flash)  and Darna Ajaib (Indonesia's Wonder Woman). He also directed comedy starring the icons of  the 1980s namely Gepeng and Benyamin Sueb.

In 1968, he was one of the chosen director that has been selected by Dewan Film Nasional (National Film Council) to produce a film related to the project of “searching of Indonesian faces on screen”. Instead of making art-house films, like other directors, he chose to make genre film, Djampang Mentjari Naga Hitam (Djampang Searches for the Black Dragon).


a review on Queen of Black Magic in DVD Drive-In 

a review on Queen of Black Magic (Oh The Horror)   
A review on Queen of Black Magic (Fright) (