Thursday, February 5, 2015

Tentang Prokjatab Prosar

Di tengah kekisruhan pemberangkatan delegasi Indonesia ke Berlin, saya sedang menulis draft pertama dari bab terakhir saya, yaitu tentang Prokjatab Prosar (Kelompok Kerja Tetap Promosi dan Pemasaran Film Indonesia di Luar Negeri, 1982-1983), sebuah lembaga resmi pemerintah Orde Baru yang bertugas memasarkan film-film Indonesia ke film market internasional (Manila, Berlin, Cannes, American Film Market, Milan). Organisasi Orba inilah yang menjadi cikal bakal fenomena ‪#‎crazyindonesia‬ , yaitu beredarnya film-film eksploitasi dan kelas-B di luar negeri yang mendapat banyak penggemar global di era Orba dan 2000an. Pertanyaan dasarnya adalah: "Mengapa dan bagaimana pemerintah Orde Baru secara resmi menjual jenis film-film yang sebenarnya sedang mereka hindari bahkan perangi?". Tulisan ini akan saya presentasikan bulan depan di Montreal di acara SCMS (Society for Cinema and Media Studies), salah satu konperensi terbesar di dunia seputar Kajian Film. Mohon doanya agar tesis dan presentasinya lancar. Amin

--
usia organisasi ini  cuma sekitar 1,5 tahun saja (badan ini mulai bekerja akhir 1981). soal kenapanya, lagi menelaah arsip2nya, lumayan banyak. yang jelas, ada protes di media karena yang laku dijual cuma film2 kelas B, sementara film2 "idealis" (yaitu: yang dianggap "mencari wajah indonesia" dan "kultural edukatif") sebagian besar ditolak di seksi kompetisi atau sepi peminat di film market. dan alasan protes lainnya: karena filmnya didubbing dan beberapa aspek diubah untuk disesuaikan dengan pangsa pasarnya, dan itu dianggap merusak cerita dan kandungan kultural di dalamnya, bahkan nama2 filmmaker/kru nya sebagian juga diubah jadi menginggris. tapi alasan utamanya, karena ganti menteri ganti kebijakan. ketika Harmoko naik jadi menteri penerangan, Maret 1983, kebijakannya berubah. secara umum, di era Orba, kita punya macam2 kebijakan soal film yang bahkan saling bertentangan. yang paling benderang adalah quantity/audience approach melawan quality approach. itu pendapat sementara saya sih, belum final karena harus baca arsip2nya dulu sampai tuntas

No comments:

Post a Comment