Tuesday, April 17, 2018

Dilema CGI, Bak Pisau Bermata Dua

Dimuat di ESQ Magz, Edisi Februari 2018.


Monday, April 16, 2018

Film Tourism Indonesian Style: The Cases of Laskar Pelangi and Eat Pray Love

by Ekky Imanjaya & Indra Kusumawardhana

COMMUNICARE Journal Vol 3 No 2 (2016).
Published: 21/03/2018

Link: http://journal.lspr.edu/index.php/communicare/article/view/17 

Abstract
Film-induced tourism becomes a new emerging issue in tourism and scholarly research for the last 10 years. London’s “Harry Potter” series and New Zealand’s “Lord of the Rings” are among the best practices of the trend. On the other hand, Indonesia is a country with many beautiful places to visit by both local and international tourists. The number of visitors increases significantly every year. However, there is no contribution from film industry, both from local or international production, related to this increasing numbers of tourists, not before national movie production “Laskar Pelangi, 2008” (Rainbow Troops, 2008) by Riri Riza, and international box office movie production “Eat, Pray Love, 2010”. The study research will discuss about film induced tourism issues in Indonesia, particularly on why and how the two films--so far, until recently, only those two films--became phenomenon in film tourism--and why other films did not.

Download for free:  




















Friday, April 6, 2018

"Marlina the Murderer in Four Acts" with Introduction and Q&A, Bristol, 24/4



'Marlina: women and gender issues in Indonesia'
Film Screening of "Marlina the Murderer in Four Acts" with Introduction and Q&A
Rating: 15+
Watershed, Bristol, Tuesday, 24 April 2016, 18.00
With: Hana A Satriyo (expert on Gender and Women’s participation)
Ekky Imanjaya (PhD candidate in Film Studies at University of East Anglia/Lecturer at Bina Nusantara University).
Considered one of the most significant films to emerge from Indonesia in recent years, female director Mouly Surya '"Marlina the Murderer in Four Acts" deals with multiple layers of gender and women issues within the country, through the vehicle of, as critic Maggie Lee puts it, “female-driven journey of vengeance and justice” which tells a story about “… a revenge fantasy rooted in Indonesia’s gender conditions, complex regional culture and the stark beauty of its landscapes” (Variety, 26/5 2017).
Labelled as pioneering a new genre called “Satay Western”, the film was selected and screened at 2017 Cannes Film Festival’s Director Fortnight. It traveled around many film festivals all over the world and got some prestigious awards such as Best actress ( Sitges International Fantastic Film Festival), Best Director (Netpac Award, Five Flavours Film Festival), Grand Prize (Tokyo FILMeX2017), Special Mention (Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2017), and Best scenario ( Festival International du Film de Femmes de SalĂ©).

To celebrate both the film's theatrical release in the UK and Kartini Day (21st April is the anniversary of the birth of Raden Ajeng Kartini, one of Indonesian's first feminists), the Watershed has organized a discussion event on contemporary women and gender issues within Indonesian and Southeast Asian national contexts. Hana A Satriyo and Ekky Imanjaya will give the introduction and hold a Q&A session covering a range of women and gender issues, ranging from the patriarchal cultures in general to the roles of women in Indonesian film industry.
All are welcome.
Buy the tickets here (Tue, 24/4, 6pm): https://uk.patronbase.com/_Watershed/Seats/NumSeats?prod_id=12BL&perf_id=5&section_id=M&action=&seat_type_id=STAN&_ga=2.72610643.1375548281.1522857159-1317473638.1522857159
More details about the screenings of "Marlina" in Watershed
https://www.watershed.co.uk/whatson/8866/marlina-the-murderer-in-four-acts/
Co-organized by Ekky Imanjaya & Toby Reynolds

Tuesday, December 12, 2017

Mengenang Encing Benyamin Sueb

Oleh: Ekky Imanjaya

Sebagian dari tulisan ini dimuat di majalah Matra edisi September 2004,
Tulisan ini dimuat dalam buku A to Z about Indonesian Film"

Image may contain: 1 person
"Gue mau dong rekaman kayak penyanyi beneran" ungkap Benyamin Sueb kepada Harry Sabar, di tahun 1992. Maka, bersama Harry Sabar, Keenan Nasution, Odink Nasution, dan Aditya, jadilah band Al-Haj dengan album Biang Kerok. Inilah band dan album terakhir Benyamin. "Di lagu itu, entah kenapa, Ben menyanyi seperti berdoa, khusuk.Coba saja dengar Ampunan," jelas Harry, sang music director. "Mungkin sudah tahu kalau hidupnya tinggal sebentar," imbuhnya. Memang betul, setelah album itu keluar, Benyamin sakit keras, dan rencana promosi ditunda-dan tak pernah lagi terwujud kecuali beberapa pentas. Di album ini, Benyamin menyanyi dengan "serius". Tetapi, lagi-lagi, seserius apa pun, tetap saja orang-orang yang terlibat tertawa terpingkal-pingkal saat Benyamin rekaman lagu I’m a Teacher dan Kisah Kucing Tua dengan penuh improvisasi. Sementara lagu Dingin Dingin Dimandiin dan Biang Kerok bernuansa cadas. Dan Ampunanmu kental dengan progressive rock, diantaranya nuansa Watcher of the Sky dari Genesis era Peter Gabriel.
Yang menarik, masih menurut Harry, saat Benyamin menonton Earth, Wind, and Fire di Amerika-saat menjenguk anaknya yang kuliah disana-dia langsung komentar:"Nyanyi yang kayak gitu, asyik kali ye?", dan nuansa itu pun hadir di beberapa lagu di album itu, salah satunya dengan sedikit sentuhan Lady Madonna dari The Beatles.
Agaknya semua media sudah memuat profil, prstasi, dan kelegendarisan sang Ikon betawi ini.. Lantas, apa yang tersisa. Ape ye yang tersisa dari budayawan betawi yang wafat 5 September 1995 ini?
Seniman asli Betawi kelahiran Kemayoran, 5 Maret 1939 ini main film dengan judul yang menjual namanya--sedikit sekali film di Indonesia yang menjual nama bintangnya, tercatat diantaranya Benyamin, Bing Slamet,Ateng, dan Bagyo. Judulnya, antara lain Benyamin Biang Kerok (Nawi Ismail, 1972), Benyamin Brengsek (Nawi Ismail, 1973), Benyamin Jatuh Cinta (Syamsul Fuad, 1976), Benyamin Raja Lenong (Syamsul Fuad, 1975), Benyamin Si Abunawas (Fritz Schadt, 1974), Benyamin Spion 025 (Tjut Jalil, 1974), Traktor Benyamin (Lilik Sudjio, 1975), Jimat Benyamin (Bay Isbahi, 1973), dan Benyamin Tukang Ngibul (Nawi Ismail,1975).Dia juga main di film seperti Ratu Amplop (Nawi Ismail, 1974), Cukong Blo'on (Hardy, Chaidir Djafar, 1973),Tarsan Kota (Lilik Sudjio, 1974),Samson Betawi (Nawi Ismail, 1975), Tiga Janggo (Nawi Ismail, 1976)--,Tarsan Pensiunan (Lilik Sudjio, 1976), Zorro Kemayoran (Lilik Sudjoi, 1976). Sementara Intan Berduri (Turino Djunaidi, 1972) membuat dirinya, dan Rima Melati, meraih Piala Citra 1973, selain karena Si Doel Anak Modern yang digarap Sjuman DJaya.
Benyamin juga membuat perusahaan sendiri bernama Jiung Film--diantara produksinya Benyamin Koboi Ngungsi (Nawi Ismail, 1975)--bahkan menyutradarai Musuh Bebuyutan (1974) dan Hippies Lokal (1976).
Tetapi, jangan salah, Encing Ben tidak menjadi bintang utama di setiap filmnya. Seperti layaknya semua orang,ada proses dimana Encing Ben "hanya" menjadi figuran atau paling mentok actor pembantu. Dalam hal ini, paling tidak ada dua nama yang patut disebut, yaitu Bing Slamet dan Sjuman Djaya. Walau sudah merintis karir sebagai "bintang film" lewat film perdananya, Banteng Betawi (Nawi Ismail,1971) yang merupakan lanjutan dari Si Pitung (Nawi Ismail, 1970), tetapi kedua nama besar itulah yang mempertajam kemampuan akting Encing BenDalam "berguru" dengan Bing Slamet, Benyamin tidak saja bekerja sama dalam hal musik-seperti dalam lagu Nonton Bioskop dan Brang Breng Brong. Tapi dalam hal film pun dilakoninya. Terlihat dengan jelas, di film Ambisi (Nya Abbas Acup, 1973) -sebuah "komidi musikal" yang diotaki oleh Bing Slamet-Benyamin menjadi teman sang actor utama, Bing Slamet menjadi penyiar Undur-Undur Broadcasting. Di film ini, sudah terlihat gaya "asal goblek" Encing yang penuh improvisasi dan memancing tawa. Di sini, dia berduet dengan Bing Slamet lewat lagu Tukang Sayur. Tetapi, sebenarnya, setahun sebelumnya, Encing Ben juga diajak ikutan main Bing Slamet Setan Djalanan (Hasmanan, 1972). Karena itulah, saat sahabatnya itu wafat pada 17 Desember 1974, Encing Ben tak dapat menahan tangisnya.Dengan Sjuman Djaya, Encing Ben diajak main Si Doel Anak Betawi (Sjuman Djaya, 1973).
Dirinya menjadi ayah si Doel, yang diperankan oleh Rano Karno kecil. Perannya serius tapi, seperti stereotipe orang Betawi, kocak dan tetap "asal goblek".
Adegan terdasyat film ini adalah saat pertemuan antara abang-adik yang diperankan olehs Benyamin dan Sjuman Djaya sendiri, terlihat ketegangan dan kepiawaian akting keduanya yang mampu mengaduk-aduk emosi penonton. Talenta itu direkam oleh ayah dari Djenar Maesa Ayu dan Aksan Syuman, dan dua tahun kemudian Encing Ben pun main film sekuelnya, Si Doel Anak Modern (Sjuman Djaya, 1975). Kali ini Encing Ben menjadi bintang utamanya, dan meraih Piala Citra!Yang menarik, lebih dari dua puluh tahun kemudian Rano Karno membuat versi sinetronnya. Castingnya nyaris sama: Rano sebagai Si Doel, Benyamin sebagai ayahnya-selain theme songnya dan settingnya yang hanya diubah sedikit saja.
Lagi-lagi Encing Ben menjadi actor pendukung, tapi kehadirannya sungguh bermakna.Sebenarnya ada satu lagi film yang dirinya bukan aktor utama, tetapi sangat dominan bahkan namanya dijadikan subjudul atawa tagline: Benyamin vs Drakula. Film itu adalah Drakula Mantu, karya si Raja Komedi Nyak Abbas Akub tahun 1974). Film bergenre komedi horor itu "memaksa" Encing Ben beradu akting dengan Tan Tjeng Bok, si actor tiga zaman.Begitulah, meski beberapa pernah tidak "menjabat" sebagai actor utama, tetapi kehadirannya mencuri perhatian penonton saat itu.
Tidak selamanya kegiatan Encing Ben ada di dunia seni budaya. Encing Ben selepas dari SMA Taman Madya Jakarta (1958), melanjutkan ke Akademi Bank Jakarta, tapi tidak tamat.
Anak bungsu yang pernah bercita-cita menjadi pilot-tapi dilarang ibunya-itu pernah juga Krusus Lembaga Pembinaan Perusahaan dan Pembinaan Ketatalaksanaan (1960), Latihan Dasar Kemiliteran Kodam V Jaya (1960), Kursus Administrasi Negra (1964). Pernah juga jadi pedagang roti dorong, Kondektur Bus trayek Lapangan Banteng-Pasar Rumput (1959), Bagian Amunisi Peralatan AD (1959-1960), Bagian Musk Kodam V Jaya (1957-1969), dan Kepala Bagian Perusahaan Daerah Kriya Jaya (1960-1969).
Tapi, semua itu tidak membuatnya surut untuk menjadi seorang entertainer sejati di Indonesia. Sebab, baginya: "Kepuasan adalah suatu kemunduran". Sepertinya, Indonesia masih saja kehilangan sosok Encing Benyamin yang wafat 5 September, 9 tahu lalu. Indonesia masih saja mencari sosok budayawan yang menghibur sekaligus mendidik bangsa.Jadi, tepat dong kalau, mengutip salah satu kaosnya: "Wanted: Benyamin Sueb, Biang Kerok!"

Sayup-sayup, dari salah satu stasiun swasta, terdengar Encing Ben bernyanyi sendu tapi tetap mengundang tawa di film Tiga Djanggo:
"Djanggo pintar pintar bodo
Djanggo tidak suka baso
Djanggo suka ngangon kebo
Djanggo kalau tidur ngigo"
(eimanjaya@yahoo.com)

Tuesday, September 5, 2017

Mengapa Film Warkop DKI Reborn Menarik Minat Banyak Penonton?

link: Mengapa Film Warkop DKI Reborn Menarik Minat Banyak Penonton?



Saya diwawancara Tempo soal fenomena Warkop Reborn 2 yang menembus angka 2 juta penonton dalam 5 hari saja.

Saya diwawancara panjang lebar, termasuk membahas soal nostalgia dalam konteks film cult (mass cult, cult blockbuster) termasuk soal kutipan (seperti ditekankan oleh Umberto Eco saat membahas Casablanca) dan memakai referensi2 adegan film warkop dan film lain (Seperti Rhoma Irama), tapi sayangnya tidak muncul.

Apa perlu saya tulis sendiri aja kali ya? :)


Sunday, August 20, 2017

Coming Soon: Pengabdi Setan (Satan's Slave) remake!

One of my most anticipated Indonesian movies, beside Wiro Sableng: the remake of Pengabdi Setan (Satan's Slave), directed by one of my favorite Indonesian directors, Joko Anwar.
Coming Soon: 28 September 2017.




Official trailer:



Teaser1:


teaser 2:



Thursday, July 27, 2017

Wanted: a research assistant for a film project on Exploitation Cinema in the Philippines

Wanted: a research assistant for a film related project.

Topic: Exploitation Cinema in the Philippines.

We are doing a research project that compares exploitation cinema of the Philippines (1960s-1980s) with that made in Indonesia (1970s-1990s) under authoritarian government. We are exploring the parallels and connections between the two industries as well as the differences. Researchers are Dr. Thomas Barker (University of Nottingham Malaysia Campus) and Ekky Imanjaya (University of East Anglia/Bina Nusantara University).

A representative list of Filipino titles we are interested in can be found here: http://imdb.filim2.site/list/ls003478019

We need assistance to:
1. Find information in Filipino sources that discuss exploitation production in the Philippines. E.g. how it was framed and discussed in relation to 'mainstream' film production; the presence of American producers/talents; morality and film content; relationship to the Marcos regime; interviews with filmmakers; and other topics.
2. What connections (if any) between Philippines production and Indonesia? Focus on the 1982 Manila Film Festival Market; and other connections e.g. talent, capital, inspiration, genre, themes, etc.
3. Details of any Indonesian films distributed/screened in the Philippines.
4. Details of government support for 'exploitation' films.
Work scope:
Research and collect relevant materials - newspaper articles, archival materials, films.
Provide written summary of key texts, events, and information.
Arrange interviews with relevant figures.
Assist and accompany Researcher to conduct interviews (one week in September/October)

Requirements:
Able to work independently
Attention to detail
Bilingual (Tagalog and English)

Preferable: Prior experience/knowledge of Filipino cinema.

Work period: 3 months (August 15 to Nov 15)
Payment: at prevailing RA rates.

Please send cover letter with CV to Thomas.Barker@nottingham.edu.my and E.Imanjaya@uea.ac.uk by August 10.