Friday, July 22, 2022

Seputar Ritual dan Partisi….Pasi Penonton: Pengalaman seorang “Virgin” Menonton Rocky Horror Picture Show

Dimuat di Majalah Fovea, 2014.

Media fans are consumers who also produce, readers who also write, spectators who also participate (Henry Jenkins)

 

 


Sebagai seorang yang sedang mendalami film Cult dan eksploitasi, tentu saya pernah mendengar betapa gokilnya pencinta The Rocky Horror Picture Show (RHPS, Jim Sharman, 1975) dan bagaimana mereka punya ritual tersendiri saat menonton.

Ketika mengetahui bahwa film itu akan diputar di Cinema City, jaringan bioskop art-house Picture House di Britania Raya, tentu saja saya antusias. Tetapi  “membaca” dan “mengalami langsung” adalah dua hal yang secara signifikan berbeda drastis!

Sebagai gambaran, film ini beredar di bioskop Amerika pada pertengahan 1970am,. Tepatnya di Westwood, Los Angeles pada 14 Agustus 1975.  Awalnya, saat diputar sore hari, film ini tak banyak ditonton. Barulah  sejak diputar tengah malam di Waverly Theater, (sebuah bioskop yang sukses memutar midnight movies seperti  El Topo dan  Night of The Living Dead)\di New York City pada 1 April 1976, film ini menjadi istimewa, khususnya bagaimana para penonton maniak bereaksi sepanjang film.  Ini terjadi karena promosi dari mulut ke mulut penggemarnya. Bersama dengan Pink Flamingos (1972) dan Reefer Madness (1936), RHPS menjadi salah satu midnight movie terlaris. Dan di pertengahan 1978, film ini sudah diputar secara rutin setiap malam Jumat dan malam Minggu tengah malam di lebih dari 50 lokasi, buletin internal diproduksi, dan para fans berkumpul layaknya sebuah konvensi. Dan di akhir 1979, film ini diputar dua kali sepekan di lebih dari 230 bioskop.  Salah satunya adalah  the Museum Lichtspiele cinema di  Muenchen,  yang memutarkannya tiap pekan sejak 24 Juni 1977.

Jika kita belum menontonnya langsung di gedung bioskop—walau pun sudah menontonnya online atau di televisi atau DVD—anda belum sah menjadi pencinta RHPS dan masih berstatus  ”virgin”. Jika dan hanya jika kita menontonnya dengan ritual-ritual yang ada, barulah sah dianggap sebagai cult follower-nya.


Saya pernah menonton midnight movie. kala itu, di Amsterdam Fantastic  Film Festival 2008, saya bersama Joko Anwar menonton lima film sekaligus, dimulai dari jam 11 malam dan selesai sekitar pukul 7 pagi. Para penontonnya sangat interaktif, mereka akan berkeluh kesah jika adegan kurang sadis, bahkan berteriak ”boo”, atau melempar gulungan tisu toilet. Mereka juga punya perlombaan, seperti pencarian Ratu Jerit dan lomba kostum horor terbaik. Tetapi RHPS di atas itu semua. Dan di atas ekspetasi saya!

Kami telat sekitar 5 menit menontonnya, karena agak bentrok dengan ajang Norwich Film Festival. Kami tiba saat adegan Over at the Frankenstein Place, dan pelan-pelan duduk di agak belakang. Saat itu, suasana sudah menghangat. Mayoritas memakai kostum heboh a la karakternya, khususnya Magenta, Columbia, dan Dr. Frank N. Furter, lengkap dengan dandanan, topi khas, dan rambut palsunya. Saat  adegan hujan, kami merasakan rintik-rintiknya, sementara yang lain sudah mengantipasi dengan menutupi kepala dengan koran. Wow ada apakah ini? Rupanya sebagian penonton memakai pistol air untuk menyemprot-nyemprot.  Semuanya riang gembira, tak ada yang protes, seakan sudah tahu bahwa ini bagian dari ritual. Saat lirik lagu ”there’s a light” berkumandang,  para penonton menyalakan lilin, zippo, senter, dan apapun yang menyala. Dan tentu sambil berdendang bersama. Mirip dengan melihat konser musik rock!



Adegan berikutnya, Sang Kriminolog muncul dan kembali bercerita. Di sinilah, saya sadar bahwa setiap nama Janet disebut, semua orang berteriak ”Slut!”, dan kala Brad disebut semua memaki ”Ass Hole!”.  dan ini dilakukan secara konsisten, berkali-kali, dengan riang gembira.

Tentu saja, adegan paling ditunggu-tunggu adalah  saat lagu Time Warp dinyanyikan. Tak ayal, sebagian menonton  berdiri dan berjingkrak-jingkrak di atas kursi, dan malah ada yang maju ke depan dan menari, mengikuti gaya di layar besar. Dan tentu saja, mereka bernyanyi bersama-sama. Seorang penonton cewek di sebelah saya, tidak berhenti bernyanyi  dari awal sampai akhir. Tidak hanya itu, dia dan puluhan penonton lainnya, mengikuti dialog-dialognya, jeritannya, hingga dialek dan ke titik koma. Dan jika penonton sudah mengutip kalimat-kalimat dari film di luar kepala, termasuk intonasi dan dialeg hingga titik komanya, ini tanda-tanda sebuah film cult yang hebat, menurut Umberto Eco.

Ketika tokoh utama muncul, mereka bertepuk tangan, seolah menyambut pahlawan.  Dan lagu Sweet Transvestite pun berkumandang, seperti karaoke massal. Hingga adegan Dr. Frank mengundang   kedua tamunya ke laboratoriumnya.

”So come up to the lab. And see what's on the slab.
I see you shiver with antici (berhenti beberapa detik)... pation!

But maybe the rain isn't really to blame
So I'll remove the cause, (berhenti sejenak dan tertawa kecil)…but not the symptom”.

Demikianlah. Tidak hanya bernyanyi dan menari atau bertepuk tangan menyoraki adegan tertentu, mereka juga ingin masuk ke dalam cerita dan mengalami hal-hal yang menimpa karakternya. Saat adegan pernikahan, para penonton menabur kertas-kertas mengkilap (di bioskop lain, beras yang ditabur). Kala adegan Dr. Frank memakai sarung tangan karet dan menimbulkan bunyi khasnya, para fans melakukan hal yang sama untuk mempertegas  efek suara.  

Yang menarik, tak hanya menikmati dan memuja, mereka juga mengkritik. Ada adegan Brad dan Janet diantar ke kamar terpisah, penonton berteriak: “kamarnya kok sama persis, sih!”. Dan saat adegan sudah mau masuk bagian akhir (yang sengaja tidak saya terangkan di sini), ada penonton memaki: “Nah! Dari sini cerita tidak logis lagi!”, yang disambar oleh lainnya dengan satu kalimat yang menimbulkan tawa: “lagi?”. Mengomentari kesalahan (bloopers, dialog murahan, adegan kocak)  adalah hal yang biasa, bahkan lazim terjadi, karena memang lama-lama pasti terlihat, secara ditonton berkali-kali. Bahkan, tiap daerah dan fans club katanya punya ritual yang berbeda, kecuali yang beberapa yang wajib hadir. Dan terkadang, sering ada pertunjukan sebelum film dimulai, apakah itu kuis, teater mini, bahkan konser music yang mereka ulang dunia reka-percaya RHPS.

Di arena ini, semua hal diterima, selama saling menghargai dan menghormati. Tidak ada aturan baku, khususnya dalam mengomentari atau mereka-ulang adegan.

Perayaaan oleh penggemar semacam ini adalah tanda-tanda sebuah sinema cult. Umumnya, tidak hanya partisipasi di gedung bioskop, namun juga dalam memproduksi teks seperti forum, blog, fanzine, dan newsletter berkala.

 

Kasus Indonesia?

Bagaimana dengan Indonesia? Sayangnya, kebanyakan kritikus, jurnalis, dan akademisi film masih didominasi oleh kajian teks, alias isi dan cerita, tetapi tidak terlalu banyak yang memperlebar penelitian dan penemuannya pada hal-hal yang bersifat analisa industri, fan studies, dan reception studies.  Mungkin karena usaha menuju ke arah lain ini belum didukung oleh fenomena di lapangan.

Di Barat, film-film eksploitasi Indonesia di akhir 1970an hingga awal 1990an dirayakan dalam bentuk forum online, blog, dan beberapa pemutaran (nobar). Film-film semacam Jaka Sembung atau  Pembalasan Rambu, semua yang diedarkan lagi oleh distributor luar, dibahas dengan detil oleh fan yang haus akan adegan yang dianggap eksotis, aneh, dan penuh petualangan yang berbeda (the other) dan tak diketahui (the unknown) sebelumnya oleh mereka. Beberapa orang menamakan film kita macam itu dengan sebutan Crazy Indonesia dan Indonesia Cine-Insanity. Di Indonesia, Saya melihat cukup banyak penggila film yang juga kolektor DVD, Laser Disc, bahkan VHS film-film jadul. Dan selain dari rilisan distributor luar, mereka juga mendapatkan akses lewat Layar Tancap dan VCD murah meriah dari

Bagaimana dengan film yang lebih mutakhir? Saya termasuk di antara penonton Kantata Takwa yang berkaraoke berjamaah satu gedung bioskop di Blitz Megaplex, saat film ini diputar. Dan, cukup banyak orang yang mengambil beberapa dialog dari  beberapa film (seperti Warkop dan Ada Apa dengan Cinta) untuk dijadikan bagian dari percakapan umum.

Namun, memang, penelitian di luar text utama (film secara internal) belum terlalu banyak dilakukan. Kalau  pun ada, sebagian adalah karya akademis dan masih di dalam rak perpustakaan kampus-kampus. Dan,  berdasarkan pengalaman saya mengerjakan buku Menjegal Film Indonesia, kesulitan utama untuk kajian industri adalah dalam pengumpulan data. Tapi untuk kajian fan dan resepsi, sepertinya bisa dilakukan.

Terus salah gue? Salah temen-temen gue?

Gila lu, ndro!

 

Box

Kisah Semesta Campur Sari yang Bikin Candu

 

Sebenarnya, apa yang dikisahkan dalam film Rock Horror Picture Show? Ceritanya  sederhana:  seorang kriminolog menceritakan tetnang sepasang kekasih yang baru bertunangan (Brad Majors dan Janet Weiss, yang diperankan Barry Boswich dan Susan Sarandon, mereka aktor Amerika satu-satunya di film ini, yang lain diperankan oleh aktor Inggris) yang  mobilnya mogok di tengah hutan, di malam bulan November 1974. Mereka  mencari bantuan di kastil terdekat, yang adalah sekelompok orang yang berkumpul untuk  Annual Transylvanian Convention,  di antaranya Riff Raff (yang mirip Igor di film Frankenstein) , adiknya Magenta, dan seorang fans bernama Columbia. Puncak dari acara itu adalah demonstrasi dari  Dr. Frank N. Furter (penampilan perdanaTim Curry),  seorang yang dalam kalimatnya sendiri adalah ” Sweet Transvestite from Transsexual, Transylvania”,  untuk menghidupkan kreasinya: pria berbadan sempurna bernama Rocky Horror.   Dan, setelah itu, plot bergerak, yang sebaiknya tidak diceritakan di sini tapi dirasakan langsung. Dan Brad dan Janet terjebak dalam dunia fantasi yang unik, kumpulan makhluk dari planet Transexual di galaksi of Transylvania, khususnya sang saintis.

Film gaya apakah ini? Jika dilihat dari adegan awal yang ikonik, bibir merah perempuan menyanyikan lagu Science Fiction/Double Feature, kita langsung menyadari bahwa ini adalah gabungan antara sci-fi dan musikal.  Tokoh utama yang ilmuwan, joget-joget diiringi lagu Time Warp tentang mesin waktu, adalah elemen yang kental dengan fiksi-sains. Dan musik-musiknya, begitu mudah diingat dan juga untuk membuat badan bergoyang. Tentu saja, tokoh Riff Raff dan Rocky Horror mengingatkan kita pada kisah Frankenstein, khususnya film The Revenge of Frankenstein. Salah satu lagunya dengan terus terang menyebutkannya:  Over at the Frankenstein Place.

Awalnya, cerita RHPS dipentaskan untuk drama panggung, ditulis oleh Richard O’Brien (yang menjadi Riff Raff), dan pertama kali dipanggunggkan di  the Royal Court Theatre Upstairs, London, pada 19 Juni 1973, dengan pemain Tim Curry, Julie Covington, Christopher Biggens, Richard O'Brien, Patricia Quinn, Nell Campbell, Paddie O'Hagan and Rayner Bourton. Sebagian dari mereka main lagi di filmnya.

Friday, June 10, 2022

"Showbiz Corner: Menembus Festival Film Bergengsi" (CNN Indonesia)

Diundang wawancara oleh CNN Indonesia semalam. Membahas soal sinema Indonesia dan festival film global. 

Semoga bermanfaat 










Wednesday, March 9, 2022

Selamat Jalan, Hilman "Lupus"

Tadi siang, baru dapat kabar, Hilman “Lupus” Hariwijaya wafat hari ini.

Ya Allah, beliau salah satu yang membuatku ingin menjadi penulis. 

Karena “Lupus” yang dimuat di Hai 1980an terasa berbeda,pendobrak,pelintas batas. Dari tema,gaya bahasa (ngocol,plesetan,tebak2an), dll.

"Lupus", yang kubaca era SD-SMP, membuatku ngulik Queen dan Duran-Duran.membuatku ingin jd penulis. Dan tentu saya ikuti meet and greet mereka, misalnya di Gramedia Matraman.

Hai kala itu (pimpinan mas Wendo, cmiiw) sangat berpengaruh bagi byk abg. Ada kolom tanya jawab musik,stikeren,cerbung perca (Swara Merah Putih), Balada Si Roy, Lupus dll.


Tapi "Lupus",IMHO, salah satu yang paling menonjol, di antara semua, waktu itu. dari cerpen jadi buku, terus jadi film berseri-seri.

Ilustrasinya juga keren, dari mas Wedha.

Bahas "Lupus" bisa lintas disiplin ilmu: sastra-bahasa-film-musik dll.


Jangan lupakan, di "Lupus" ada kisah2 dia cari uang sendiri dgn menulis.Dan aktivis Mading sekolah.Saya nulis pertama kali kelas 1 SMP, di Mading SMP 1 Cikini (satu2nya tulisan yg diterima lol).mulai rajin nulis,walau selalu ditolak. Tp dr "Lupus" saya jd ingin jd penulis, dan kirim tulisan ke majalah.

Karakter dan tema juga drkat dengan anak muda saat itu.  Dunia Lupus adalah dunia yang menerima tokoh-tokoh seaneh dan seganjil apapun, tapi kelihatan mereka hangat, kompak, dan baik hati. Mirip dengan dunia tongkrongan dan sekolah.


Selamat jalan, Mas Hilman.

Lahul fatihah.

Tuesday, February 1, 2022

All of Us are Dead: Tentang Rasa Duka dan Kehilangan

Spoiler Alert

Dalam sebuah seminar PhD di University of East Anglia, sekitar 2014, seorang peneliti menyatakan bahwa series zombies belakangan ini sudah bergeser tidak lagi berfokus pada kecemasan dan horor kemungkinan akhir dunia karena wabah virus. Dengan memakai kasus The Walking Dead, akademisi ini--sayangnya saya lupa dan belum nemu nama dan judul papernya--menyatakan bahwa yang lebih ditekankan adalah rasa kesedihan, kehampaan, rasa duka (grief).

Teori ini bisa diterapkan di All of Us are Dead, series 12 episode dari Netflix. Kita bisa melihat sejak dari episode pertama, bagaimana para karakter utama kehilangan satu demi satu orang-orang yang ia sayangi.

Rasa kehilangan adalah hal manusiawi. Demikian pula dengan perubahan karakter. Dilema moral berkali-kali muncul di hampir semua episode. Dunia tidak hitam dan putih. Manusia, apalagi remaja yang masih duduk di kelas 11 dan 12 yang penuh gejolak dan belum stabil, pun diombang-ambingkan dengan keadaan yang selalu genting,  sehingga dipaksa untuk bertindak tidak hanya soal benar atau salah, baik atau buruk, tapi juga selamat atau mati. Ada yang mesti bertindak yang bertentangan dengan hati nuraninya. Walau ada pula yang sejak awal memang karakternya jahat, perundung, dan semakin jahat dengan kekuatan baru yang ia dapatkan. 


Series ini, seperti  sebagian kisah zombie lainnya, tidak hanya tentang bagaimana selamat dari zombie apocalypse. tapi juga mengandung hubungan antar manusia (sahabat, pacar, anak-orang tua, siswa-guru, tentara-sipil) yang kuat dan manusia. Tidak melulu teror dengan nafas terengah-engah. 

Dan yang paling saya rasakan, setelah menonton tuntas, adalah rasa sedih, hampa, dan kehilangan. Bukan lagi persoalan seram, apalagi jumpscare belaka.




Monday, January 17, 2022

Sebagai Intelektual Publik di Tahun Pandemi Kedua


Sebagai seseorang yang pekerjaan utamanya adalah akademisi (tidak hanya dosen yang mengajar, tetapi juga riset, pengabdian pada masyarakat, pengembangan diri), saya sejak dulu tak mau di menara gading. 

Saya ingin ilmu saya bermanfaat dan berkah ke sebanyak mungkin orang. Karena itu, saya ingin menjadi intelektual publik. Istilahnya: Public Engagement, Beberapa langkah: Menulis di media massa/medsos, jadi pembicara/juri/kurator, diseminasi hasil riset dengan pendekatan popular, dll.

Berikut upaya saya berbagi ilmu di tahun 2022.

Silahkan klik link birunya untuk menonton.

Terima kasih.


Maret

Peluncuran dan diskusi buku Mujahid Film: Usmar Ismail.

Ada yang Unboxing segala nih


Mei

Webinar diseminasi hasil riset: Three "Ecological Monsters" in Bong Joon Ho's Film


Juni

Webinar Film FLP : Literasi, Ekologi dan Hati

Diseminasi hasil riset terkait isu lingkungan dan film, kali ini 

The (Anti)-Anthropocentric Perspectives in "Tarzan"

Juli

Menjadi Ketua Komite Film Dewan Kesenian Jakarta, yang di antaranya meliputi Kineforum, Madani Film Festival. Dan juga membantu Jakarta Film Week edisi perdana.

Diskusi Publik dilakukan di kanal YouTube DKJ. Di antaranya membahas Gelombang Kedua COVID19 dikaitkan dengan produksi film di era pandemi


Agustus

Darassinema


October

Webinar Indonesian Films (Programming) in Taiwan under New Southbound Policy Era

Oktober

Juri Nominasi FFI

Diwawancarai CNN Indonesia soal Layar Tancap


November

Board Festival Film Madani, salah satunya jadi pembicara 

MIFF 2021 - Discussion Asian Cinema: Sufism, Stories, Humour

Board Jakarta Film Week

Webinar: Teori dan Metodologi dalam Kajian Film di Indonesia: Tantangan dan Harapan


November-Desember

Kurator Dana Bantuan Pemerintah Pra-Produksi

Webinar 80th IRLS x FPCI Chapter BINUS University - Diplomacy Discourse: Film Diplomacy


December

Webinar Southeast Asian and Transnational Cinema bekerja sama dengan ASEACC (Association for Southeast Cinemas Conference).

Lagi-lagi membahas film B dan Eksploitasi Indonesia era Orde Baru. Diundang Universitas Airlangga.

Thursday, November 25, 2021

Indorock sebagai Subkultur Budaya Indisch

Oleh: Ekky Imanjaya (sutradara dokumenter The Tielmans)

Kata Pengantar untuk buku Membaca Indorock, Mendengarkan Nostalgia (Donny Anggoro, 2021), dan memperingati 10 tahun wafatnya Andy Tielman)


Berbicara soal indorock, mengingatkan saya pada era 2007-2008, saat saya studi master di Universiteit van Amsterdam.  Saya  termasuk yang beruntung, dalam waktu setahun itu, saya  berhasil mengeksplorasi genre musik Indorock, dan budaya Indo/Indisch secara umum. Saat itu, saat itu  majalah Rolling Stone membuat artikel tentang Andy Tielman dan The Tielman Brothers, dan  saya yang berada di Belanda merasa wajib untuk  mengejar Andy Tielman, satu dari dua orang yang tersisa dari band legendaris The Tielman Brothers.

Tapi justru kejadian tak terduga yang mengantarkan saya pada pertemuan pertama itu. Di    Bintang Theater di Pasar Malam Besar, 31 Mei  2008, Den Haag,  saya memisahkan diri dengan rombongan teman-teman, karena tertarik dengan poster Tjendol Sunrise. Ini adalah band kekinian saat itu, kumpulan anak muda yang punya semangat menghidupkan kembali Indorock. Mereka baru merilis album (sayangnya rilisnya hanya berselang beberapa hari sebelumnya), berkolaborasi dengan Andy Tielman.

Saya hanya kebagian menonton beberapa lagu terakhir. Tapi setelah itu saya tetap bertahan. Karena setelah itu ada pentas yang saya tunggu-tunggu, yang tak sengaja saya lihat posternya saat menuju ke panggung itu: Andy Tielman!

Saya pun menonton hingga habis, dari pembukaan, si mungil Lorraine Jane memberikan bunga kepada ayahnya, hingga lagu penutup Rasa Sajange/Glory Halelujah yang membuat seluruh ruangan bernyanyi Bersama. Semuanya saya abadikan dalam tulisan yang dimuat di Koran Tempo. Dan dengan pede saya tembak beliau: saya ingin membuat film dokumenter! Dan saya pun mengikutinya hingga ke kota kecil Bernama Steinweijk.

Seperti saya sebut di atas, Indorock adalah bagian dari budaya besar, budaya Indisch/Indo. Indorock di sini adalah aliran rock kaum Indisch/Indo. Ada tiga kategori untuk menyebut “indisch”. Pertama, orang Belanda murni atau ‘totok’ yang lahir di tanah jajahannya yaitu Indonesia. Kedua, adalah campuran antara Indonesia dengan Belanda seperti Alex –Eddie Van Halen bersaudara. Ketiga, adalah orang-orang murni Indonesia tapi bekerja untuk KNIL atau untuk pemerintah Belanda pada umumnya, seperti keluarga Tielman. Nah, ketiganya disebut “indisch” yang di Indonesia mereka juga dianggap sebagai “pengkhianat”, sedangkan  di Belanda mereka dianggap warga negara kelas dua—tak heran banyak yang hijrah, misalnya ke Los Angeles dan Australia.

Ketika mereka terpaksa harus berimigrasi secara besar-besaran pada 1957,  saat Presiden Sukarno memberi ultimatum kepada “warga indisch” ini untuk memilih kewarganegaraan,  maka di Belanda pun mereka mempunyai semacam sub kulturnya sendiri. Mereka ingin diakui sederajat. Karena itulah, menurut pentolan Tjendol Sunrise, Andy Tielman sangat penting karena bukan hanya pahlawan musik, tapi juga pahlawan kaum Indo.

Kaum Indisch ini kemudian membuat Pasar Malam, yang menjadi Gerakan budaya untuk menunjukkan identitas dan mengukuhkan kesejarahan mereka dengan tanah air keduanya, Indonesia. Saya beruntung mengalami langsung subkultur itu di Belanda. Pasar Malam ini adalah ajang terbesar di sana selain North Sea Jazz dan Rotterdam Film Festival. Di Pasar Malam ini, atau juga acap disebut Festival Tong Tong, berkumpul subkultur kaum Indo lainnya: Bahasa Petjok, Indorock, Keroncong, dan tentunya berbagai makanan khas nusantara era colonial.

Andy Tielman, dengan Indorock-nya, dianggap sebagai pahlawan kaum Indisch. Pada 2008, sesaat sebelum pulang ke tanah air, saya berada di tengah persiapan acara Nederpop, yang rencananya saat itu digelar  Oktober 2008,  di mana di situ diperdengarkan pula lagu “Little Baby Rock of  Mine” (1959) yang dianggap sebagai pelopor “NederPop” alias musik pop Belanda. Dan tentu pengaruh band sekeluarga itu terhadap skena musik, termasuk kekaguman Jan Akkerman (salah satu gitar terbaik dunia) dan Golden Earring terhadap mereka.

Akhirnya, dengan lagu debut mereka itu, The Tielman Brothers diterima publik Negeri Kincir, setelah sebelumnya mereka pergi keliling Eropa,salah satunya ke Belgia, mengumandangkan irama “rock n roll”, yang kala itu masih asing dan dianggap pengaruh buruk. Mereka juga lalu berpetualang ke Hamburg. Masalahnya, yang sering dibahas jika membicarakan Indorock adalah mitos-mitos seperti The Beatles terinspirasi dari mereka ketika ke Hamburg. Padahal tidak cukup bukti soal hal ini, mengingat semua band era itu di Hamburg rata-rata memang punya aksi panggung gila-gilaan. Dan di Museum the Beatles di Liverpool, khususnya di bagian Hamburg, tidak ada nama The Tielman Brothers sedikitpun di antara daftar nama yang berjasa pada The Fab Four di era itu.

Tentu saja berbicara soal subkultur budaya Indisch, khususnya Indorock, tidak hanya terhenti pada Andy Tielman dan The Tielman Brothers. Buku ini menarik karena, selain  masih sedikit yang membahas Indorock, juga membahas tentang band-bang Indorock lainnya. Dengan begitu, buku ini memperkaya wawasan kita tentang genre rock yang nyaris terlupakan ini. Dan uniknya, ada pembahasan tentang band Indonesia yang juga turut melestarikan music aliran ini.

 

Selamat kepada Bung Donny Anggoro atas terbitnya buku ini.

Kepada pembaca, selamat menikmati dan berselancar di semesta Indorock!

 Jakarta, 28 Juli 2021,

 

Ekky Imanjaya

 

 



 

Monday, September 20, 2021

darassinema #1: Noda Ranjang Membekas

 Darasinema adalah sebuah program yang tujuannya mengulik,mengulas,

membahas, dan mendiskusikan tentang film. Sebuah kolaborasi Ekky Imanjaya dan Andrianus Oetjoe.


Credit Title: darassinema Episode #1: Ranjang Noda Membekas (Spoiler Alert sedikit) Host/Screenplay : Ekky Imanjaya Producer/editor: Andrianus Oetjoe Film yang Diulas: "Noda Ranjang Membekas" Sutradara: Azzam Fi Rullah & Alzein Merdeka (Amer Bersaudara) Produser: Eric Tiwa dan Kurnia C Putra Executive Producer: Monty Tiwa dan Ricardo Tobing Platform: FlipflopTV Durasi: 38 Menit Judul OST "Matahariku" Karya: Isti Dary Sofia Vocal: Ririen Soedibyo Scoring: Bensound.com : Instinct Graphic: Koolshooter Pexer Works mentioned: Pendakian Berahi (Azzam Fi Rullah, 2017). Pocong Hiu Unleashed (Azzam Fi Rullah, 2017) Kuntilanak PEcah Ketuban (Amer bersaudara, 2018). Goyang Kubur Mandi Darah/ I Dance on Your Grave (Azzam Fi Rullah; 2018); Sebuah Film Karya Setan (Amer bersaudara , 2020). Noda Ranjang Membekas (Amer Bersaudara 2020) Komedi Tengah Malam (Lativi) Footage special courtesy of: Azzam Fi Rullah dan Alzein Merdeka/Kolong Sinema