Monday, June 10, 2013

Tujuh Film Terbaik Indonesia Sepanjang Masa

Hingga saat ini, belum ada sebuah daftar resmi yang menyatakan  film terbaik Indonesia sepanjang masa. Di luar negeri, hal ini lumrah terjadi, bahkan tidak hanya daftar “film terbaik”, tapi lebih variatif, seperti “film komedi terbaik”, “film 1990an terbaik”, atau “film Deddy Mizwar terbaik”. Di Indonesia, sedikit  kelompok membuat daftar versi mereka sendiri, biasanya jurnalis atau kumpulan kritikus film.
Berbeda dengan musik, cukup banyak yang mengeluarkan daftar masing-masing, khususnya dari majalah Rolling Stone yang acap membuat daftar “gitaris terbaik”, “album terbaik” dan sebagainya.
Membuat daftar trivial semacam ini cukup penting karena, menurut Umberto Ecco, dari daftar semacam inilah kebudayaan dibentuk. “Daftar adalah asal usul kebudayaan. Ia adalah bagian dari sejarah seni dan kesusastraan,” ujar Eco dalam sebuah wawancara dengan majalah Spiegel.  Karena, kebudayaan umumnya bermaksud untuk menciptakan ketertiban. “Justru daftar ini tidak merusak budaya, tapi menciptakannya. Dimanapun Anda melihat dalam sejarah kebudayaan, Anda akan menemukan daftar" jelas budayawan dan filsuf itu.
Berikut adalah daftar film Indonesia terbaik versi saya.  Film-film yang saya pilih rata-rata film klasik. Saya termasuk yang percaya bahwa film-film terbaik justru yang dibuat di masa lalu. Karena itulah, menonton film-film penting ini sangat penting agar kita bisa paham sejarah dan tahu sudah sampai dimana dan mau kemana perfilman Indonesia kita. Untuk penonton, daftar semacam ini bisa menjadi semacam panduan menonton.
Sayangnya, semua film ini tidak bisa diakses DVDnya. Sebagian besar bisa diakses di Sinematek Indonesia, dan hanya diputar dalam acara khusus seperti di Kineforum DKJ atau festival film seperti JIFFEST.

Lewat Djam Malam (Usmar Ismail, 1954)

Film terbaik dari sutradara terbaik Indonesia.  Tak heran kalau film ini adalah pilihan pertama untuk direstorasi total  di L’Immagine Ritrovata atas biaya National Museum of Singapore dan World Cinema Foundation, dan diputar di seksi Cannes Classic di Festival Film Cannes 2012, festival film paling bergengsi di dunia.
Film karya Bapak Film Indonesia ini berhasil menguak tentang perang batin manusia-manusia Indonesia paska-revolusi fisik. Tidak hanya sukses membahas tentang degradasi moral dan perubahan social tak jauh dari berdirinya Indonesia, tapi juga tentang pergulatan manusia,, budaya, dan kemanusiaan di pertengahan 1950an yang bersifat universal. Di sini kita bisa melihat Bandung di tahun 1954, setahun sebelum Konperensi Asia Afrika (dan Pemilu pertama).

Pagar Kawat Berduri (1961, Asrul Sani)

Film terbaik Asrul Sani, sebagai sutradara sekaligus penulis scenario.  Film ini adalah adaptasi dari film pendek, dan setelah filmnya dibuat, Trisnojuwono mengangkatnya menjadi novel. Film ini berlatar belakang revolusi fisik, ketika banyak tentara Indonesia ditawan penjajah Belanda. Banyak yang mencoba melarikan diri, tapi susah. Justri Parman (Sukarno M Noer) bersahabat dengan seorang Belanda (B Ijzerdraat), yang membuatnya dituduh pengkhianat, 
Ide humanisme universal sangat kuat di sini. Sebuah film perang yang anti perang dan nyaris tidak ada adegan peperangan. Dan pergumulan ide-ide filosofis penuh makna seputar perjuangan dan kemerdekaan hadir di sana sini. Ceritanya cukup kontroversial: tentang pergulatan batin seorang Belanda yang anti penjajahan.

Si Mamad (Sjuman Djaya, 1973)
Saya berani bilang, film ini tidak kalah dengan mahakarya semacam Ikiru dari Akira Kurosawa (Jepang) atau Umberto D garapan Vittorio de Sica (Italia).  Film ini bercerita tentang Mamad, seorang pegawai negeri tua yang korupsi alat tulis kantor kecil-kecilan, sementara istrinya sedang hamil tua. Merasa bersalah, ia melapor diri dan ingin diproses hokum, namun tak ada yang peduli. Di sini, sang sutradara menunjukkan posisinya yang tegas terhadap sikap anti korupsi, kejujuran. Inilah sebuah pengembaraan batin dari orang kecil yang ingin mengembalikan harta yang bukan haknya, tapi terdengar bagai angin  lalu oleh budaya korupsi yang akut. Sebuah komentar social yang keras dan menyentuh, dan masih sangat relevan hingga saat ini.
Judul film ini berubah berkali-kali Dari Matinya Seorang Pegawai Negeri, Ilalang sampai akhirnya Renungkanlah Si Mamad. Film ini kemudian populer dengan judul Si Mamad saja.

Kantata Takwa (Eros Djarot/Gotot Prakoa, 2008)

Apakah ini film musikal? Semi-dokumenter? Eksperimental? Puitis? Label dan cap tak bisa mengurung dan membatasi film ini. Ia menunjukkan jati dirinya sendiri dan meneriakkan protes kritis mereka terhadap kekuasaan. Inilah kombinasi sempurna dari orang-orang terhebat di bidangnya, di antaranya: Iwan Fals, Rendra, Erros Djarot, dan Gotot Prakosa. Nilai lebih bagi pencinta band Kantata Takwa: mereka akan dibawa bernostalgia dan bahkan berkaraoke saat menonton! Walau dibuat awal 1990an, namun pernyataannya masih relevan hingga saat ini. Dan ketika ide sebuah karya bisa terus bergema tanpa bisa diusangkan waktu, inilah salah satu ciri sebuah mahakarya.
Film ini adalah sebuah contoh nyata bagaimana sekelompokl seniman idealis berjihad melawan kemungkaran dengan karya, ketika sang diktator masih berkuasa. Dan, sebagaimana ditegaskan Rendra, takwa menjadi garis orbit perjuangan mereka.

Pedjuang (Usmar Ismail, 1960)
Film ini adalah salah satu film pertama Indonesia yang berlaga sekaligus Berjaya di festival dunia. Bertarung di Moskow International Film Festival kedua, Bambang Hermanto mendapatkan Silver Prize sebagai Aktor Terbaik. Para pejuang tidak ditampilkan sebagai mitos orang suci, sempurna, dan superhero, tapi sebagai manusia utuh, lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya.
Film berlatar tahun 1947 kala sebuah peleton pimpinan LEtnan Amin ditugaskan untuk mempertahankan sebuah jembatan. Terjadilah kisah asmara antara Amin dengan Irma (Chitra Dewi), salah seorang pengungsi. Di satu pihak, Sersan Mayor Imron (Bambang Hermanto) juga menaruh hati pada Irma. Kisah asmara segitiga ini menjadi bumbu di tengah perang revolusi fisik dan representasi manusia Indonesia di awal kemerdekaan, dari para pelaku sejarahnya langsung.
 

Tjoet Njak Dhien (Eros Djarot, 1986)

Film perang terbaik dan terkolosal sekaligus. Di film terbaik FFI 1088 itu, Christine Hakim bermain dengan sangat apik sebagai pemimpin perang wanita di Aceh, Tjoet Nyak Dhien, dan menyabet Piala Citra keenamnya, terbaik dalam sejarah film. Film ini totalnya mendapatkan 9 Piala Citra, termasuk Film Terbaik. Dan menjadi salah satu film Indonesia pertama yang diputar di Festival Film Cannes.
Film berfokus pada Tjoet Nyak Dhien yang menjadi pemimpin perang Aceh setelah kematian suaminya, Teuku Umar (Slamet Rahardjo), dan mengalami pasang surut pertempuran dan pengkhianatan hingga ia menjadi buta dan diasingkan ke Sumedang.

Para Perintis Kemerdekaan (Asrul Sani, 1977)

Film Asrul Sani yang diangkat dari 2 karya  HAMKA, Ayahku dan Di Bawah Lindungan Ka’bah. Film paling keras yang berbicara soal hak wanita dalam Islam dalam atmosfir budaya patriarkal tradisional. Bayangkan: Agar boleh bercerai dengan suaminya yang zalim, sang istri bertekad akan murtad dari Islam secara terang-terangan di masjid!
Kisah berfokus pada Halimah, pengikut Haji Jalaluddin yang ditangkap Belanda saat berkhotbah. Ia juga disia-siakan oleh suaminya, seorang pengikut Belanda yang disegani dan punya status social yang tinggi. Sang suami tak mau menceraikannya, dan saat Halimah minta pendapat seorang kyai tradisional, permintaan cerainya ditolak bahkan dianggap tak berbakti pada suami. Untuk pertama kalinya dalam sebuah film, dikisahkan nasib seorang wanita yang hendak bercerai karena berbeda ideologi (Halimah anti penjajahan Belanda), dimusyawarahkan secara terbuka di sebuah masjid agung di Minang Kabau.
  
Dimuat di majalah ESQ Media edisi perdana/Mei 2013