Friday, June 6, 2014

Menimbang Ulang Film-film Eksploitasi Orde Baru, Kineforum, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 13-15 dan 20-22 Juni 2014.




Menimbang Ulang Film-film Eksploitasi Orde Baru
Kineforum, Taman Ismail Marzuki, Jakarta,
13-15 dan 20-22 Juni 2014.


Sepenting apa film-film B era Orde Baru? Kali ini, Kineforum akan menggelar fokus khusus pada film-film film-film cult/B/eksploitasi Indonesia yang diproduksi, didistribusi, dieksibisi, dan diekspor ke mancanegara di masa Orde Baru, khususnya era 1979-1995. Misalnya, serial Jaka Sembung, Pembalasan Ratu Laut Selatan, Segi Tiga Emas, Perempuan di Sarang Sindikat, dan Ratu Ilmu Hitam. Film semacam itu, pada masanya, dianggap tidak bermutu, dipandang sebelah mata oleh elit budaya, dianaktirikan oleh negara, tidak dianggap sebagai bagian dari “film nasional” yang “mencari wajah Indonesia”, dan jarang diulas oleh jurnalis, kritikus, dan akademisi dalam dan luar negeri—kecuali jika ada hal kontroversial atau pembahasan tematis seperti gender dan kelas sosial. Di masa Orde Baru itu, tidak ada satu pun film-film “sampah” ini yang dianggap mewakili budaya Indonesia dan secara resmi dikirim ke festival film internasional, atau produksinya dibiayai Dewan Film Nasional, atau menang kategori-kategori penting FFI, dan sebaliknya, Negara (dengan para elit politik nasionalis) terkesan mengutuk dan berupaya menyensor dan bahkan mengeliminasi film-film yang penuh kekerasan dan adegan sensual ini. Menariknya, di lain pihak, Negara juga membuat aturan aturan kontradiktif, seperti peraturan presiden dan menteri seputar “pendekatan penonton” atau “pendekatan kuantitatif”, seperti mewajibkan para importer film asing untuk membuat 5 film lokal untuk mendapatkan hak distribusi film asing. Negara pula yang membuat institusi resmi yang menjual film-film popular ini ke berbagai Pasar Film sejak 1982, di antaranya ke Cannes dan Berlin—dan, uniknya, para pembeli film luar negeri hanya membeli film-film semacam ini saja.
Film-film itu diedarkan kembali—dan diberi label “cult films”-- di awal 2000an di berbagai penjuru dunia oleh distributor transnasional (Mondo Macabro DVD, Troma Team, ZDD, VideoAsia, Maia, dan sebagainya) dalam bentuk DVD. Hingga saat ini, film-film itu dirayakan oleh para penggemarnya dari berbagai belahan negeri, khususnya via dunia maya. Berbagai blog dan forum mengulas film-film ini secara serius, misalnya Cinema Strikes Back, Shocking Images, Mondo Digital, 10K Bullets, Tales of A Bearded Movies Aficianado, Ninja Nixon, an Critical Condition. Beberapa fans melabeli film-film jenis ini dengan istilah “Crazy Indonesia”, dan membahas ikon cult dari actor Barry Prima hingga sutradara Arizal.
Ekky Imanjaya, kritikus film yang sedang menjadi kandidat doctor di jurusan Kajian Film di University of East Anglia (Britania Raya) sedang menyelidiki seberapa penting film-film yang dianggap jelek tapi sangat popular dan banyak yang masuk daftar box office itu, dalam empat level. Pertama, dia ingin meneliti bagaimana budaya film—khususnya produksi, mediasi, dan konsumsi perfilman—dihasilkan di tahun 1980an dan 2000an, di dalam dan luar negeri. Kedua, bagaimana Politik Selera berbagai pihak (dari pemerintah Orde Baru, elit politik nasionalis, penonton film di Indonesia dan global, distributor transnasional tahun 2000an) saling berinteraski, berkontradiksi, bernegoisasi, dan mempengaruhi satu sama lain. Dan ketiga, bagaimana proses-proses di atas bisa membuat status cult dari film-film yang dimaksud. Terakhir, riset ini ingin menjawab sejauh mana film-film B ini bisa dianggap sebagai bagian dari konsep “film nasional” kita.
Sebagian besar film yang diputar adalah film-film versi yang beredar di sirkuit DVD global, dari label MondoMacabroDVD, dan satu dari Troma Team.


Jadwal:
Jumat 13 Juni
14.15 Segi Tiga Emas (Stabilizer) (1986 / Arizal / 95’)
17.00 Mistik (Punahnya Rahasia Ilmu Iblis Leak) (Mystics in Bali) (1981 / Tjut Djalil / 118’)
19.30 Pembalasan Ratu Laut Selatan (Lady Terminator) (1988 / Tjut Djalil / 80’)

Sabtu 14 Juni
14.15 Kumpulan Dokumenter dari Boum Production (Andy Stark dan Pete Tombs, Mondo Macabro)
17.00 Kuliah Umum: Film-Film Eksploitasi era Orde Baru: Anak Kandung, Anak Tiri,
atau Anak Haram Kebudayaan Indonesia? oleh Ekky Imanjaya
19.30 Jaka Sembung Sang Penakluk (The Warrior) (1981 / Sisworo Gautama Putra /
91’)
Minggu 15 Juni
14.15 Ratu Ilmu Hitam (Queen of the Black Magic) (1981 / Lilik Sudjio / 95’)
17.00 Golok Setan (The Devil’s Sword) (1983 / Ratno Timoer / 101’)
19.30 Perempuan di Sarang Sindikat (Virgins from Hell) (1986 / Ackyl Anwari / 93’)

Jumat 20 Juni
14.15 Ratu Ilmu Hitam (Queen of the Black Magic) (1981 / Lilik Sudjio / 95’)
17.00 Perempuan di Sarang Sindikat (Virgins from Hell) (1986 / Ackyl Anwari / 93’)
19.30 Golok Setan (The Devil’s Sword) (1983 / Ratno Timoer / 101’)

Sabtu 21 Juni
14.15 Pembalasan Ratu Laut Selatan (Lady Terminator) (1988 / Tjut Djalil / 80’)
17.00 Kumpulan Dokumenter dari Boum Production (Andy Stark dan Pete Tombs, Mondo Macabro)
19.30 Diskusi “Film Transnasional Indonesia dan Fenomena global “Crazy Indonesia”
Bersama Joko Anwar dan Ekky Imanjaya,

Minggu 22 Juni
14.15 Jaka Sembung Sang Penakluk (The Warrior) (1981 / Sisworo Gautama Putra /
91’)
17.00 Segi Tiga Emas (Stabilizer) (1986 / Arizal / 95’)
19.30 Mistik (Punahnya Rahasia Ilmu Iblis Leak) (Mystics in Bali) (1981 / Tjut Djalil / 118’)

Kuliah Umum:
Sabtu, 14 Juni 2014, 17.00
Film-Film Eksploitasi era Orde Baru: Anak Kandung, Anak Tiri, atau Anak Haram Kebudayaan Indonesia?
oleh Ekky Imanjaya (Kandidat Doktor jurusan Kajian Film, University of East Anglia, Britania Raya).

Kuliah umum ini memfokuskan bagaimana Politik Selera (atau Politik Identitas dalam istilah Seno Gumira Ajidarma) bekerja lewat dukungan elit budaya sayap nasionalis sejak 1950an dan dipertegas oleh pemerintahan Orde Baru berbagai kanal: mulai dari Festival Film Indonesia, Dewan Film Nasional, lembaga dan kebijakan sensor, hingga organisasi-organisasi film yang dibentuk untuk mengontrol isi dan pekerja film. Semangat “mencari wajah Indonesia” yang menjadi representasi resmi alias anak kandung kebudayaan Indonesia. Konsekuensinya, film-film yang dianggap murahan, mengumbar kekerasan dan adegan sensual diserang dan diupayakan untuk dieliminasi dan dikucilkan dari wacana kebudayaaan Indonesia.
Tapi, apakah itu artinya film-film seperti Lebak Membara, Pengabdi Setan, atau Lima Cewek Jagoan menjadi anak haram kebudayaan kita? Kalau iya, mengapa sensor ketat tak mampu meredam maraknya produksi film-film semacam ini? Dan mengapa, misalnya, ada “audience approach” atau syarat memproduksi film bagi pihak yang ingin mengimpor film asing? Atau, mengapa Pemerintah membentuk badan khusus untuk memasarkan film-film yang mereka hendak singkirkan itu ke berbagai pasar film?
Presentasi ini hendak menggarisbawahi soal mengapa dan bagaimana upaya para elit budaya sayap nasionalis hendak membingkai konsep “film nasional”, dan bagaimana rangkaian-rangkaian kebijakan politik—dengan negosiasi berbagai Politik Selera--membentuk dan menghasilkan serangkaian kontradiksi yang menghasilkan film-film eksploitasi.

Diskusi “Film Transnasional Indonesia and Fenomena “Global Crazy Indonesia”
bersama Joko Anwar dan Ekky Imanjaya
Sabtu, 21 Juni  2014, 19.30

Di Indonesia, baik di masa Orde Baru atau masa kiwari, film-film seperti Jaka Sembung Sang Penakluk (Sisworo Gautama Putra, 1981), Perawan di Sarang Sindikat (Ackyl Anwari, 1986) , Ratu Ilmu Hitam (Lilik Sudjio, 1981) , Segi Tiga Emas (Arizal, 1986), Golok Setan (Ratno Timoer, 1983), Pembalasan Ratu Laut Selatan (Tjut Djalil, 1988), Mistik (Punahnya Rahasia Ilmu Iblis Leak (Tjut Djalil 1981), dan sebagainya tidak dianggap sebagai bagian sah dan representasi dari kebudayaan Indonesia. Tapi di dalam sirkulasi video di luar negeri, kita nyaris tak melihat ada film Orde Baru atau orde lainnya yang dianggap bagus oleh elit budaya (katakanlah, karya-karya Usmar Ismail, Sjuman Djaya, Garin Nugroho, Teguh Karya, atau Arifin C Noer), justru film-film semacam itulah yang diedarkan dengan berbagai judul, sulihsuara, dan subtitling, sejak 1982. Di sirkuit DVD global, film-film itu berganti nama (sebagian dengan beberapa judul), antara lain, secara berurutan) menjadi The Warrior, Queen of Black Magic, Stabilizer, Devil’s Sword, Lady Terminator, dan Mystics in Bali. Bahkan Lady Terminator beberapa kali dibahas di buku akademis, termasuk di buku 100 Cult Films karya Ernest Mathijs dan Xavier Mendik.
Film-film kelas B itu diedarkan kembali dalam bentuk DVD sejak akhir 1997 oleh distributor transnasional --baik yang resmi seperti yang dilakukan MondoMacabroDVD dan Troma Team atau yang versi bootlegging semacam ZDD dan VideoAsia—yang mempunyai Politik Seleranya sendiri, dan melabeli film-film itu dengan “sinema cult”, setelah terlebih dulu membuat beberapa permak baik elemen internal seperti sulih suara (ulang) dan juga elemen-elemen ekstra-teks (atau parateks) seperti sampul dan materi-materi eksklusif di bonus special feature.
Sedangkan para penggemarnya yang tidak sedikit, yang bisa kita lihat dari berbagai blog dan forum maya, juga menerapkan Politik Selera mereka yang tidak sama dengan Politik Selera Orde Baru atau distributor internasional. Mereka menamai fenomena ini dengan istilah “Crazy Indonesia”.
Ekky Imanjaya, dalam riset S3nya, menganalisa para distributor transnasional ini dan juga aktivitas penggemar global yang asyik berdiskusi di forum online seperti AVManiacs atau di blog dan E-Fanzine semacam Cinema Strikes Back, DVD Verdict, 10k Bullets, Mondo Digital, Monsters At Play, DVD Drive-In, Shocking Images, Box Office Prophets, Eccentric Cinema, DVD Maniacs, Teleport City, dan Cinema Knight Fight.
Di Indonesia, orang pertama dan paling menyuarakan film-film semacam ini adalah Joko Anwar. Ia menulis fenomena ini Bad RI films a big hit overseas di The Jakarta Post (9/12 2001), dan juga Horror flick 'The Black Magic' casts bad spells di The Jakarta Post (23/07 2003), dan mengunggah sampul dan poster film-film versi global ini di blognya, http://jokoanwar.multiply.com/
Kedua pembicara akan membahas seputar fenomena global film-film “ Crazy Indonesia” ini, dari soal distributor hingga fandom,
Tentang Kumpulan Dokumenter dari Boum Production
sutradara Pete Tombs dan Andy Starke, 2001



Fantasy Film From Indonesia
Indonesian Light & Magic: Behind the scenes with FX Guru El Badrun
Interview with Gope Samtani
Interview with Imam Tantowi

Film-film dokumenter pendek dan kumpulan wawancara ini adalah besutan Pete Tombs dan Andy Starke, dua pendiri Mondo Macabro DVD, yang awalnya adalah proyek yang disponsori untuk stasiun televisi Inggris Channel 4 di tahun 2001. Proyek ini adalah bagian dari seri dokumenter tentang film-film cult global, bersama dengan 8 film lainnya, di antaranya dari Argentina, Manila, Meksiko, dan Turki, yang diadaptasi dari buku Macabro: Weird and Beautiful Cinema around the World yang ditayangkan di Inggris. Dokumenter ini dipecah menjadi beberapa bagian dan menjadi bonus special features di beberapa DVD terbitan Mondo Macabro DVD.
Fantasy Film from Indonesia berkisah tentang film-fiilm bergenre laga, mistik, horror, legenda, dan kumpeni yang diproduksi di masa Orde Baru, khususnya film-film yang sudah menjadi ikon klasik “Crazy Indonesia” seperti Lady Terminator dan Mystics in Bali.
Indonesian Light and Magic berfokus pada art directing dari film-film eksploitasi itu, dan menjelaskan teknik yang digunakan El Badrun.
Dokumenter ini dilengkapi dengan wawancara dengan produser Gope Samtani dan juga penulis skenario dan sutradara Imam Tantowi seputar keterlibatan mereka dalam produksi film-film eksploitasi ini.

Tulisan pengantar diskusi:
The Other Side of Indonesia: New Order’s Indonesian Exploitation Cinema as Cult Films oleh Ekky Imanjaya (COLLOQUY text theory critique 18 (2009), Monash University).
http://artsonline.monash.edu.au/colloquy/download/colloquy_issue_eighteen/iminjaya.pdf

Bad RI films a big hit overseas oleh Joko Anwar (The Jakarta Post, 9 Desember 2001)
http://www.thejakartapost.com/news/2001/12/09/bad-ri-films-a-big-hit-overseas.html



Semua acara gratis
POSTS