Di tengah kekisruhan pemberangkatan delegasi Indonesia ke Berlin, saya sedang menulis draft pertama dari bab terakhir saya, yaitu tentang Prokjatab Prosar (Kelompok Kerja Tetap Promosi dan Pemasaran Film Indonesia di Luar Negeri, 1982-1983), sebuah lembaga resmi pemerintah Orde Baru yang bertugas memasarkan film-film Indonesia ke film market internasional (Manila, Berlin, Cannes, American Film Market, Milan). Organisasi Orba inilah yang menjadi cikal bakal fenomena #crazyindonesia , yaitu beredarnya film-film eksploitasi dan kelas-B di luar negeri yang mendapat banyak penggemar global di era Orba dan 2000an. Pertanyaan dasarnya adalah: "Mengapa dan bagaimana pemerintah Orde Baru secara resmi menjual jenis film-film yang sebenarnya sedang mereka hindari bahkan perangi?". Tulisan ini akan saya presentasikan bulan depan di Montreal di acara SCMS (Society for Cinema and Media Studies), salah satu konperensi terbesar di dunia seputar Kajian Film. Mohon doanya agar tesis dan presentasinya lancar. Amin
--
usia organisasi ini cuma sekitar 1,5 tahun saja (badan ini mulai bekerja akhir 1981). soal kenapanya, lagi menelaah arsip2nya, lumayan banyak. yang jelas, ada protes di media karena yang laku dijual cuma film2 kelas B, sementara film2 "idealis" (yaitu: yang dianggap "mencari wajah indonesia" dan "kultural edukatif") sebagian besar ditolak di seksi kompetisi atau sepi peminat di film market. dan alasan protes lainnya: karena filmnya didubbing dan beberapa aspek diubah untuk disesuaikan dengan pangsa pasarnya, dan itu dianggap merusak cerita dan kandungan kultural di dalamnya, bahkan nama2 filmmaker/kru nya sebagian juga diubah jadi menginggris. tapi alasan utamanya, karena ganti menteri ganti kebijakan. ketika Harmoko naik jadi menteri penerangan, Maret 1983, kebijakannya berubah. secara umum, di era Orba, kita punya macam2 kebijakan soal film yang bahkan saling bertentangan. yang paling benderang adalah quantity/audience approach melawan quality approach. itu pendapat sementara saya sih, belum final karena harus baca arsip2nya dulu sampai tuntas
Showing posts with label prokjatap prosar. Show all posts
Showing posts with label prokjatap prosar. Show all posts
Thursday, February 5, 2015
Indonesian Delegate at Berlinale International Film Festival, 33 Years Ago
”We have come to Berlin International Film Festival to put Indonesia on the international cinema map” stated Rosihan Anwar, in a press conference held in Berlinale Film Festival, February, 1982. He was there with actress Christine Hakim, director Slamet Djarot and Edward Pesta Sirait, and T Djohardin from Ministry of Information. The moderator was Eichenberer, a Swiss reporter. On the trade section, actress Debby Cynthia Dewi dressed in traditional Balinese clothing, promoting the films. Gope Samtani, Raam Punjabi, and L.J.N. Hoffman themselves took turns manning the stand and talking to prospective buyers. Although the 3 films were rejected in competition, but they sold 7 films for global circulation, including Ratu Ilmu Hitam and Primitif. And according to INP (West Germany news agency) and The Indonesian Observer (2 April 1982), this exhibition of "Indonesian Film Panorama" was one of the major highlights of the Berlinale that year. It looks like, related to the recent problems, the Indonesian delegate 33 years ago is somehow better than today's so-called Reformasi and Jokowi era. CMIIW.#jasmerah #tanyakenapa #prokjatabprosar
Wednesday, November 19, 2014
YES! SCMS! See You in Montreal!
I just received a great news.
About 2 months ago, some colleagues asked me to join their panel titled "Global Exploitation Cinemas: Travel, Translation, Taste" for SCMS 2015. And the panel got accepted!
I am going to discuss about Prokjatab Prosar (Kelompok Kerja Tetap Promosi dan Pemasaran Film Indonesia di Luar Negeri , Permanent Working Group of Indonesian Film Promotion and Marketing Abroad), an official body that started the phenomenon of Indonesian transnational exploitation cinema a.k.a. Crazy Indonesia.
See you in Montreal , 25-29 March 2015 !
About 2 months ago, some colleagues asked me to join their panel titled "Global Exploitation Cinemas: Travel, Translation, Taste" for SCMS 2015. And the panel got accepted!
I am going to discuss about Prokjatab Prosar (Kelompok Kerja Tetap Promosi dan Pemasaran Film Indonesia di Luar Negeri , Permanent Working Group of Indonesian Film Promotion and Marketing Abroad), an official body that started the phenomenon of Indonesian transnational exploitation cinema a.k.a. Crazy Indonesia.
See you in Montreal , 25-29 March 2015 !
Subscribe to:
Posts (Atom)