Saturday, August 13, 2016

Sungguh Keterlaluan: Kesan Awal Buku "Sinema di Masa Sukarno"


SUNGGUH KETERLALUAN!




Mengutip film “Badut-Badut Kota”: Sungguh Keterlaluan buku “Sinema Pada Masa Sukarno”, Pak Tanete, Mas Seno, dan segala diskusinya. Sungguh keterlaluan, mengapa buku ini baru beredar sekarang, di tengah-tengah saya sedang dalam tahap akhir penulisan tesis saya. Kenapa tidak dari dulu-dulu?

 

Tentu saja saya belum baca buku ini. Tapi melihat diskusi itu, ada beberapa perasaan yang campur aduk. Pertama, tentu saja sangat bergembira setengah mupeng, ingin sekali membaca dan menelaahnya. Kedua, ingin berucap: Sungguh keterlaluan. Mengapa?

 

  1. Melihat dari diskusi itu, saya melihat bahwa salah satu sumbangan terbesar buku ini adalah dalam hal metodologi dan metode penelitian. Sumber primer dari mana saja, termasuk koran kuning. “tidak ada hirarki teks”, kata mas Seno.  Dan penelitiannya berfokus pada konteks, bukan lagi pada teks atau estetika film.
    Saya harus meraba-raba dari mana mulai, saat awal-awal riset dimulai. Akhirnya saya menemukan istilah “New Cinema History” yang mengupas film dari sisi ekstrinsik, bukan intrinsik. Misalnya, dibahas di buku Maltby (2011). Intinya, pendekatan semacam ini mempertimbangkan sirkulasi dan konsumsi dan untuk menelaah sinema sebagai situs sosial dan pertukaran budaya.
    Buku lainnya ditulis oleh James Chapman, Mark Glancy, and Sue Harper, berjudul The New Film History: Sources, Methods, Approaches.  Yaitu, investigasi empiris yang menganalisa sumber primer yang dikaitkan dengan produksi dan resepsi film.
    INTINYA, bagaimana film dibentuk oleh kombinasi dari proses sejarah.
    Eric Schaefer, misalnya, dalam DaringShockingTrue! A History of Exploitation Films, 1919-1959, mnenyatakan metodenya sebagai  “Empirical Imperative”.

 Sebelumnya, ada juga  Thomas Elsaesser dkk yang mulai membuat metode ini ngetren.

Kini, sudah ada beberapa penelitian dengan pendekatan seperti ini, sebenarnya. Nah, mengapa bukunya pak Tanete penting: Karena (1)  ini ditulis 47 tahun lalu, sebelum gerakan ini terkenal, (2) dan tentang film Indonesia, (3) dan konteksnya adalah saat elit budaya sedang giat-giatnya menghegemoni dengan bingkaian konsep  “film nasional” versi mereka, (4) dan kajiannya (akademis, popular, jurnalistik) didominasi oleh estetika atau sisi intrinsik film.

Saya sendiri, sedang meneliti “Film di Jaman Suharto”, dengan amatan khusus ke film-film eksploitasi/B.  saya juga memakai majalah, koran, buku acara, dll. Dan sedikit banyak, analisa saya melawan arus pemikiran para elit budaya--para pemikir yang karya-karyanya saya baca dan  gemari.  Ini selaras dengan semangat akademis di kampus saya, University of East Anglia, yang menekankan kajian arsip dan juga kajian kepenggemaran dan kepenontonan (politik budaya, ekonomi budaya, dll) selain kajian film-B.

Tapi, buku itu ditulis 47 tahun lalu,  oleh akademisi Indonesia dan mengambil kasus Indonesia.  Sungguh keterlaluan, mengapa buku ini baru terbit sekarang? :)


Jadi, saya kira buku ini sangat relevan dan menjadi pemicu semangat saya. Nah masalah kedua:
2 Hasil akhir buku Pak Tanete, menurut Mas Seno, adalah mengalir lancar dan penting. Juga mengungkap hal-hal baru yang belum dikenal atau melawan pengetahuan umum tentang film.   Saya jadi merenung, bagaimana dengan karya saya? Apakah penelitan saya nantinya akan sepenting ini, dan dampak/manfaatnya bisa seluas itu? Riset saya memang belum selesai, tapi semoga bisa menyumbangkan sesuatu bagi kebijakan publik, kajian film dan sejarah, dan kajian film dan budaya/media pada umumnya.



 

 

https://www.youtube.com/watch?v=30EL5AH5-EI&feature=youtu.be