Tuesday, February 1, 2022

All of Us are Dead: Tentang Rasa Duka dan Kehilangan

Spoiler Alert

Dalam sebuah seminar PhD di University of East Anglia, sekitar 2014, seorang peneliti menyatakan bahwa series zombies belakangan ini sudah bergeser tidak lagi berfokus pada kecemasan dan horor kemungkinan akhir dunia karena wabah virus. Dengan memakai kasus The Walking Dead, akademisi ini--sayangnya saya lupa dan belum nemu nama dan judul papernya--menyatakan bahwa yang lebih ditekankan adalah rasa kesedihan, kehampaan, rasa duka (grief).

Teori ini bisa diterapkan di All of Us are Dead, series 12 episode dari Netflix. Kita bisa melihat sejak dari episode pertama, bagaimana para karakter utama kehilangan satu demi satu orang-orang yang ia sayangi.

Rasa kehilangan adalah hal manusiawi. Demikian pula dengan perubahan karakter. Dilema moral berkali-kali muncul di hampir semua episode. Dunia tidak hitam dan putih. Manusia, apalagi remaja yang masih duduk di kelas 11 dan 12 yang penuh gejolak dan belum stabil, pun diombang-ambingkan dengan keadaan yang selalu genting,  sehingga dipaksa untuk bertindak tidak hanya soal benar atau salah, baik atau buruk, tapi juga selamat atau mati. Ada yang mesti bertindak yang bertentangan dengan hati nuraninya. Walau ada pula yang sejak awal memang karakternya jahat, perundung, dan semakin jahat dengan kekuatan baru yang ia dapatkan. 


Series ini, seperti  sebagian kisah zombie lainnya, tidak hanya tentang bagaimana selamat dari zombie apocalypse. tapi juga mengandung hubungan antar manusia (sahabat, pacar, anak-orang tua, siswa-guru, tentara-sipil) yang kuat dan manusia. Tidak melulu teror dengan nafas terengah-engah. 

Dan yang paling saya rasakan, setelah menonton tuntas, adalah rasa sedih, hampa, dan kehilangan. Bukan lagi persoalan seram, apalagi jumpscare belaka.




Monday, January 17, 2022

Sebagai Intelektual Publik di Tahun Pandemi Kedua


Sebagai seseorang yang pekerjaan utamanya adalah akademisi (tidak hanya dosen yang mengajar, tetapi juga riset, pengabdian pada masyarakat, pengembangan diri), saya sejak dulu tak mau di menara gading. 

Saya ingin ilmu saya bermanfaat dan berkah ke sebanyak mungkin orang. Karena itu, saya ingin menjadi intelektual publik. Istilahnya: Public Engagement, Beberapa langkah: Menulis di media massa/medsos, jadi pembicara/juri/kurator, diseminasi hasil riset dengan pendekatan popular, dll.

Berikut upaya saya berbagi ilmu di tahun 2022.

Silahkan klik link birunya untuk menonton.

Terima kasih.


Maret

Peluncuran dan diskusi buku Mujahid Film: Usmar Ismail.

Ada yang Unboxing segala nih


Mei

Webinar diseminasi hasil riset: Three "Ecological Monsters" in Bong Joon Ho's Film


Juni

Webinar Film FLP : Literasi, Ekologi dan Hati

Diseminasi hasil riset terkait isu lingkungan dan film, kali ini 

The (Anti)-Anthropocentric Perspectives in "Tarzan"

Juli

Menjadi Ketua Komite Film Dewan Kesenian Jakarta, yang di antaranya meliputi Kineforum, Madani Film Festival. Dan juga membantu Jakarta Film Week edisi perdana.

Diskusi Publik dilakukan di kanal YouTube DKJ. Di antaranya membahas Gelombang Kedua COVID19 dikaitkan dengan produksi film di era pandemi


Agustus

Darassinema


October

Webinar Indonesian Films (Programming) in Taiwan under New Southbound Policy Era

Oktober

Juri Nominasi FFI

Diwawancarai CNN Indonesia soal Layar Tancap


November

Board Festival Film Madani, salah satunya jadi pembicara 

MIFF 2021 - Discussion Asian Cinema: Sufism, Stories, Humour

Board Jakarta Film Week

Webinar: Teori dan Metodologi dalam Kajian Film di Indonesia: Tantangan dan Harapan


November-Desember

Kurator Dana Bantuan Pemerintah Pra-Produksi

Webinar 80th IRLS x FPCI Chapter BINUS University - Diplomacy Discourse: Film Diplomacy


December

Webinar Southeast Asian and Transnational Cinema bekerja sama dengan ASEACC (Association for Southeast Cinemas Conference).

Lagi-lagi membahas film B dan Eksploitasi Indonesia era Orde Baru. Diundang Universitas Airlangga.

Thursday, November 25, 2021

Indorock sebagai Subkultur Budaya Indisch

Oleh: Ekky Imanjaya (sutradara dokumenter The Tielmans)

Kata Pengantar untuk buku Membaca Indorock, Mendengarkan Nostalgia (Donny Anggoro, 2021), dan memperingati 10 tahun wafatnya Andy Tielman)


Berbicara soal indorock, mengingatkan saya pada era 2007-2008, saat saya studi master di Universiteit van Amsterdam.  Saya  termasuk yang beruntung, dalam waktu setahun itu, saya  berhasil mengeksplorasi genre musik Indorock, dan budaya Indo/Indisch secara umum. Saat itu, saat itu  majalah Rolling Stone membuat artikel tentang Andy Tielman dan The Tielman Brothers, dan  saya yang berada di Belanda merasa wajib untuk  mengejar Andy Tielman, satu dari dua orang yang tersisa dari band legendaris The Tielman Brothers.

Tapi justru kejadian tak terduga yang mengantarkan saya pada pertemuan pertama itu. Di    Bintang Theater di Pasar Malam Besar, 31 Mei  2008, Den Haag,  saya memisahkan diri dengan rombongan teman-teman, karena tertarik dengan poster Tjendol Sunrise. Ini adalah band kekinian saat itu, kumpulan anak muda yang punya semangat menghidupkan kembali Indorock. Mereka baru merilis album (sayangnya rilisnya hanya berselang beberapa hari sebelumnya), berkolaborasi dengan Andy Tielman.

Saya hanya kebagian menonton beberapa lagu terakhir. Tapi setelah itu saya tetap bertahan. Karena setelah itu ada pentas yang saya tunggu-tunggu, yang tak sengaja saya lihat posternya saat menuju ke panggung itu: Andy Tielman!

Saya pun menonton hingga habis, dari pembukaan, si mungil Lorraine Jane memberikan bunga kepada ayahnya, hingga lagu penutup Rasa Sajange/Glory Halelujah yang membuat seluruh ruangan bernyanyi Bersama. Semuanya saya abadikan dalam tulisan yang dimuat di Koran Tempo. Dan dengan pede saya tembak beliau: saya ingin membuat film dokumenter! Dan saya pun mengikutinya hingga ke kota kecil Bernama Steinweijk.

Seperti saya sebut di atas, Indorock adalah bagian dari budaya besar, budaya Indisch/Indo. Indorock di sini adalah aliran rock kaum Indisch/Indo. Ada tiga kategori untuk menyebut “indisch”. Pertama, orang Belanda murni atau ‘totok’ yang lahir di tanah jajahannya yaitu Indonesia. Kedua, adalah campuran antara Indonesia dengan Belanda seperti Alex –Eddie Van Halen bersaudara. Ketiga, adalah orang-orang murni Indonesia tapi bekerja untuk KNIL atau untuk pemerintah Belanda pada umumnya, seperti keluarga Tielman. Nah, ketiganya disebut “indisch” yang di Indonesia mereka juga dianggap sebagai “pengkhianat”, sedangkan  di Belanda mereka dianggap warga negara kelas dua—tak heran banyak yang hijrah, misalnya ke Los Angeles dan Australia.

Ketika mereka terpaksa harus berimigrasi secara besar-besaran pada 1957,  saat Presiden Sukarno memberi ultimatum kepada “warga indisch” ini untuk memilih kewarganegaraan,  maka di Belanda pun mereka mempunyai semacam sub kulturnya sendiri. Mereka ingin diakui sederajat. Karena itulah, menurut pentolan Tjendol Sunrise, Andy Tielman sangat penting karena bukan hanya pahlawan musik, tapi juga pahlawan kaum Indo.

Kaum Indisch ini kemudian membuat Pasar Malam, yang menjadi Gerakan budaya untuk menunjukkan identitas dan mengukuhkan kesejarahan mereka dengan tanah air keduanya, Indonesia. Saya beruntung mengalami langsung subkultur itu di Belanda. Pasar Malam ini adalah ajang terbesar di sana selain North Sea Jazz dan Rotterdam Film Festival. Di Pasar Malam ini, atau juga acap disebut Festival Tong Tong, berkumpul subkultur kaum Indo lainnya: Bahasa Petjok, Indorock, Keroncong, dan tentunya berbagai makanan khas nusantara era colonial.

Andy Tielman, dengan Indorock-nya, dianggap sebagai pahlawan kaum Indisch. Pada 2008, sesaat sebelum pulang ke tanah air, saya berada di tengah persiapan acara Nederpop, yang rencananya saat itu digelar  Oktober 2008,  di mana di situ diperdengarkan pula lagu “Little Baby Rock of  Mine” (1959) yang dianggap sebagai pelopor “NederPop” alias musik pop Belanda. Dan tentu pengaruh band sekeluarga itu terhadap skena musik, termasuk kekaguman Jan Akkerman (salah satu gitar terbaik dunia) dan Golden Earring terhadap mereka.

Akhirnya, dengan lagu debut mereka itu, The Tielman Brothers diterima publik Negeri Kincir, setelah sebelumnya mereka pergi keliling Eropa,salah satunya ke Belgia, mengumandangkan irama “rock n roll”, yang kala itu masih asing dan dianggap pengaruh buruk. Mereka juga lalu berpetualang ke Hamburg. Masalahnya, yang sering dibahas jika membicarakan Indorock adalah mitos-mitos seperti The Beatles terinspirasi dari mereka ketika ke Hamburg. Padahal tidak cukup bukti soal hal ini, mengingat semua band era itu di Hamburg rata-rata memang punya aksi panggung gila-gilaan. Dan di Museum the Beatles di Liverpool, khususnya di bagian Hamburg, tidak ada nama The Tielman Brothers sedikitpun di antara daftar nama yang berjasa pada The Fab Four di era itu.

Tentu saja berbicara soal subkultur budaya Indisch, khususnya Indorock, tidak hanya terhenti pada Andy Tielman dan The Tielman Brothers. Buku ini menarik karena, selain  masih sedikit yang membahas Indorock, juga membahas tentang band-bang Indorock lainnya. Dengan begitu, buku ini memperkaya wawasan kita tentang genre rock yang nyaris terlupakan ini. Dan uniknya, ada pembahasan tentang band Indonesia yang juga turut melestarikan music aliran ini.

 

Selamat kepada Bung Donny Anggoro atas terbitnya buku ini.

Kepada pembaca, selamat menikmati dan berselancar di semesta Indorock!

 Jakarta, 28 Juli 2021,

 

Ekky Imanjaya

 

 



 

Monday, September 20, 2021

darassinema #1: Noda Ranjang Membekas

 Darasinema adalah sebuah program yang tujuannya mengulik,mengulas,

membahas, dan mendiskusikan tentang film. Sebuah kolaborasi Ekky Imanjaya dan Andrianus Oetjoe.


Credit Title: darassinema Episode #1: Ranjang Noda Membekas (Spoiler Alert sedikit) Host/Screenplay : Ekky Imanjaya Producer/editor: Andrianus Oetjoe Film yang Diulas: "Noda Ranjang Membekas" Sutradara: Azzam Fi Rullah & Alzein Merdeka (Amer Bersaudara) Produser: Eric Tiwa dan Kurnia C Putra Executive Producer: Monty Tiwa dan Ricardo Tobing Platform: FlipflopTV Durasi: 38 Menit Judul OST "Matahariku" Karya: Isti Dary Sofia Vocal: Ririen Soedibyo Scoring: Bensound.com : Instinct Graphic: Koolshooter Pexer Works mentioned: Pendakian Berahi (Azzam Fi Rullah, 2017). Pocong Hiu Unleashed (Azzam Fi Rullah, 2017) Kuntilanak PEcah Ketuban (Amer bersaudara, 2018). Goyang Kubur Mandi Darah/ I Dance on Your Grave (Azzam Fi Rullah; 2018); Sebuah Film Karya Setan (Amer bersaudara , 2020). Noda Ranjang Membekas (Amer Bersaudara 2020) Komedi Tengah Malam (Lativi) Footage special courtesy of: Azzam Fi Rullah dan Alzein Merdeka/Kolong Sinema

Re-Fil (Review Film) #1: Usmar Ismail

 Re-Fil (Review Film) #1: Usmar Ismail

Re-Fil edisi perdana ini memperkenalkan sosok Usmar Ismail, Bapak Film Indonesia, dan beberapa karyanya, kepada yang belum (terlalu) kenal.


Tahun 2021 adalah tahun istimewa untuk perfilman Indonesia. Pada 20 Maret 2021, Usmar Ismail--yang dikenal sebagai Bapak Film Indonesia, merayakan 100 tahunnya. Ekky Imanjaya mengulas sekilas tentang Usmar Ismail dalam Re-Fil (Review Film) edisi perdana, Re-Fil adalah singkatan dari Review Film, program yang dibuat oleh Binus University Alam Sutera, kerjasama antara Prodi Film dengan Departemen Marketing. Production team: Host/Writer: Ekky Imanjaya PhD Camera: Ihsanudin (Lab Film Binus Alam Sutera) Editor: Radhia Azzahra Muzairi Co-Produced by: Levin Aldo Meriandi Marcellin Anwari Yuana MF Senjaya Jangan lupa, kulik Usmar Ismail lebih jauh dengan membaca buku: "Mujahid Film: Usmar Ismail" (Kineforum-Storial, 2021). Buku tentang Usmar Ismail, bapak Film Indonesia, yang tahun ini merayakan 100 tahun kelahirannya. Seratus tahun Usmar Ismail hendaknya dilihat pula dari banyak perspektif, mengingat sosoknya punya banyak sisi: sebagai sutradara, produser film, wartawan, tentara/mata-mata, pemain teater, salah satu pegiat ATNI, budayawan Muslim, dan banyak lagi. Ditulis oleh Ekky Imanjaya PhD, dosen jurusan Film Binus University, lulusan doktoral Kajian Film University of East Anglia (Inggris) dan Master Kajian Film Universiteit van Amsterdam. Kunjungi Shopee, Tokopedia, dan Storial, dan ketik kata kunci “Usmar Ismail”. Atau kunjungi situs berikut: (1) Shopee: https://shopee.co.id/Mujahid-Film-Usm... (pre-order, cetak) (2) Tokopedia: https://www.tokopedia.com/tokonubu/mu... (pre-order, cetak) (3) Storial.co https://www.storial.co/book/mujahid-f... (e-book, bisa dibeli per bab). __ Seri Wacana Sinema - Kineforum Seri wacana sinema adalah penerbitan buku-buku bertema kajian film dari Komite Film DKL. Kineforum mengembangkan program ini melalui penerbitan buku-buku saku seri Wacana Sinema-Kineforum

Monday, August 23, 2021

Kumpulan Link Arsip Tulisan Tokoh Film dan Klipping Media

 Link2 yang saya kumpulkan terkait tulisan2 langsung para tokoh film, ataupun arsip/klipping media massa.  Semoga bermanfaat.

Cinema Poetica

Usmar Ismail Works https://cinemapoetica.com/klasik/


Jurnal Footage

DA Peransi’s works: https://jurnalfootage.net/v4/?s=peransi

Armyn Pane: https://jurnalfootage.net/v4/author/armijn-pane/

Basuki Resobowo: https://jurnalfootage.net/v4/author/basukiresobowo/

SM Ardan: https://jurnalfootage.net/v4/author/s-m-chandra/

Rosihan Anwar: https://jurnalfootage.net/v4/author/rosihan-anwar/

Umar Khayam: https://jurnalfootage.net/v4/author/umar-kayam/

Nio Joe Lan: https://jurnalfootage.net/v4/author/nio-joe-lan/

Inoe Perbatasari: https://jurnalfootage.net/v4/author/inoe-perbatasari/ 

Andjar Asmara: https://jurnalfootage.net/v4/author/andjar-asmara/



Web Tokoh Perfilman (particularly Klipping Electronic, Foto, Pandangan Tokoh):

Asrul Sani: http://asrulsani.perfilman.perpusnas.go.id/home/ 

Sofia WD: http://sofiawd.perfilman.perpusnas.go.id/home/index.php

Arifin C Noer: http://arifin.perfilman.perpusnas.go.id/home/

Nyak Abbas Akub: http://abbasakup.perfilman.perpusnas.go.id/home/

Teguh Karya: http://teguhkarya.perfilman.perpusnas.go.id/home/

Usmar Ismail: http://usmar.perfilman.perpusnas.go.id/home/

Other filmmakers: http://kepustakaan-tokoh.perfilman.perpusnas.go.id/

Sunday, April 4, 2021

"Mujahid Film" di Media

 Ada 1 liputan dan 1 ulasan buku "Mujahid Film: Usmar Ismail", sejauh ini  :

1. Memahami Kehidupan Bapak PErfilman Indonesia Usmar Ismail: Cendana News, 21/03/2021

2. Usmar Ismail dan Nahdlatul Ulama: Estetika, Wacana, dan Gerakan oleh Eric Sasono (04/04 2021), Alif.Id