Nana dan Ino duduk santai berdua, mengawasi anak-anak. Mereka sedang piknik di sebuah kawasan di Jawa Barat. Keduanya pun berdialog tentang kebebasan yang mereka inginkan. “Tidak harus menjadi sempurna”, “bisa punya usaha tanpa perlu laki-laki”, “tidak direndahkan”, “tidak dihakimi”. Kemudian Nana bertanya “Bebas, seperti jaman Belanda?”. Mendengar hal itu, Ino tersenyum dan mengajak Nana ke tepi sungai. Lantas, tanpa aba-aba, Ino meloncat dan menceburkan diri. “Nana, loncatlah! Airnya segar”, serunya dari bawah. Dan air sungai yang jernih dan tenang itu untuk kedua kalinya menjadi riak-riak dikejutkan oleh lompatan Nana. “Beginilah rasanya bebas”, kata mereka, sambal bermain air, tak jauh dari air terjun.
Mungkin, itulah perayaan sederhana tentang kebebasan kaum hawa di pertengahan 1960an, dimana mereka bisa menjadi perempuan apa saja yang mereka mau tanpa kungkungan aturan patriarkis.
Air yang tenang dan kemudian beriak-riak karena dibebani sesuatu itu boleh jadi menggambarkan isi hati Nyai Nana, tokoh utama dalam film Before, Now & Then besutan Kamila Andini, yang baru saja dirilis di Prime Video awal Agustus. Dalam adegan sebelumnya juga ditegaskan, kala Nana bercermin dan berkata pada dirinya sendiri: “Harus bisa seperti Air, menyesuaikan dengan sekitar”.
Film ini diadaptasi dari bab pertama (bertajuk Telur) di novel Jais Darga Namaku karya Ahda Imra, yang terinspirasi kisah nyata Raden Nana Sunani, ibu dari sang novelis. Setelah Yuni, sekali lagi Kamila Andini melemparkan problematika personal seorang perempuan dalam karyanya, yang tentu tak lepas dari atmosfir sosial budaya bahkan politik di sekitarnya. Kali ini, Nana secara lahir terlihat tenang, walau berbagai petunjuk (dari mise-en-scene hingga akting yang ciamik) memperlihatkan jiwa yang bergejolak dan perlawanan halus terhadap sistem partiarki di negara yang masih berusia muda itu dan sedang mengalami masa transisi demi transisi.
Nana menjadi saksi sejarah pergolakan-pergolakan itu. Revolusi fisik menjadi revolusi sosial dan berbalut hal-hal politis dan ideologis. Di dalam dialog yang didominasi Bahasa Sunda itu-- sesekali muncul dialog berbahasa Indonesia, misalnya lewat radio—menggambarkan jiwa zaman saat itu: trauma terhadap “Gerombolan” (apakah ini mengarah kepada para aktivis pemberontakan DI/TII, yang memberontak sejak 1949? Tidak dijelaskan dengan gamblang) yang membantai ayahnya, melenyapkan Raden Icang suaminya, dan secara tak langsung membunuh bayinya di era 1950an—dan ancaman bahwa sang komandan akan menikahinya dan memboyongnya ke hutan. Dan juga polarisasi ideologis di awal 1960an yang berujung pada pembasmian orang-orang yang dituduh PKI tanpa pengadilan dan turunnya Presiden Sukarno dari jabatannya.
Ketegangan sekitar dan paska 30 September 1965 begitu diperlihatkan, misalnya dari bisik-bisik tentang seorang warga yang dilaporkan tetangganya dengan tuduhan keterlibatan dalam aktivitas PKI. Dunia sedang gonjang-ganjing. Tapi film ini berfokus pada kecamuk batin seorang Nana beserta semesta kecilnya.
Film ini, berbeda misalnya dengan Sang Penari (2011, karya Ifa Isfansyah yang juga produser film ini), dengan halus dan lembut memperlihatkan pergolakan intrinsik seorang wanita, yang tak lepas dari jiwa zamannya: Ia masih terngiang-ngiang akan masa silam, bahkan maujud dalam mimpi-mimpi buruk yang acap menyambanginya, terkait suami yang dicintainya yang dianggap diculik oleh “gerombolan”. Seperti dialog di pembukaan film ini, keresahan Nana begitu personal: takut akan sirnanya wajah dan bau tubuh suaminya yang tidak jelas nasibnya itu.
Padahal, Nyai Nana sudah menikah lagi, dengan Darga, Kang Lurah yang ningrat dan cukup sepuh, dan bahkan punya empat anak. Kejadian itu sudah 15 tahun berlalu. Tapi rasa bersalah, lenyapnya pria pilihannya itu, masih saja menghantui. Tak ada hari tanpa memikirkan nasib sang suami, walau ia sudah menikah lagi dengan pria terhormat.
Sebenarnya bukan rasa bersalah saja, tapi bahwa Nana tidak bisa keluar dari perangkap sistem partiarkal. Kang Lurah, sosok pejabat desa itu, adalah sosok yang baik dan penyabar. Dialah penyelamat Nana saat dalam pelarian menghindari “gerombolan”. Namun, tetap saja masih diselimuti dengan semangat partiarkal. Barangkali era itu, pertengahan 1960an, atmosfir patriarkis adalah hal lumrah terjadi di masyarakat.
Misalnya saja, urusan dapur-kasur-sumur yang mesti dilakukan oleh seorang istri, seraya ada tugas tambahan yaitu mengurusi kebun. Ratus Vagina, atau prosesi pengasapan ke organ intim perempuan, salah satu misalnya. Termasuk mengurus anak-anak dan berjalannya rumah tangga, dan tak lupa mencatok rambut sang suami. Namun setidaknya, dia ada di wilayah ningrat yang ,makmur dan terjamin di era pancaroba politik tersebut. Tapi tentu saja hatinya jauh dari stabil.
Selain domestifikasi peran perempuan di atas, Nana juga mesti berdandan dan belajar menari, karena Kang Lurah sering mengadakan acara yang mengundang masyarakat. Di sini, juga terlihat bagaimana para penari, yang rata-rata adalah wanita muda bertubuh sintal, menjadi primadona dalam setiap acara tersebut, walau hanya sekadar untuk hiburan biasa.
Semua hal itu dilalui Nana, yang senang merokok dan nanggap sinden berikut perangkat kecapi di rumahnya, dengan tenang. Walau hatinya bergejolak, dan alam bawah sadarnya, mimpi buruknya, juga acap menghantui. Itu juga mungkin yang menyebabkan dirinya beberapa kali keguguran. Rahasia yang disimpannya rapat-rapat makin menggerusnya. Saat ditanya oleh Dais, putrinya, mengapa rambutnya panjang, dan acap digelung dan disanggul, Nana menjawab: “ Setiap rahasia rumah tangga, akan disimpan di belakang rambutnya”.
.Ketenangan seolah-olah ini juga terlihat saat ia pertama kali mengendus adalah keberadaan perempuan lain, bahkan ia bisa akrab dengannya. Berawal dari, perlahan tapi pasti, Nana mencari tahu dan mendapati bahwa Kang Lurah ternyata berhubungan dengan seorang wanita. Nana sendiri sudah mulai jarang dibawa ke acara publik, tanpa alasa yang jelas. Kang Lurah hanya mau ditemani Dais, putri mereka. Dan tentu penonton pun menebak, siapa yang menanti di lokasi.
Sebenarnya Ino, wanita muda yang mengajaknya menceburkan diri dalam sungai kebebasan itu, adalah Wanita Lain, alias sang pelakor. Berbeda dengan era sekarang yang main gerebek ke pelakor, Nana tetap tenang saat berhadapan dengan Ino. Mungkin karena dia berpikir percuma juga berteriak dan memberontak di dalam sistem yang maskulin itu. Jadi, mengutip The Godfather, Nana ingin menjadikan “saingannya” lebih dekat lagi dengan dirinya. Dan toh, dia bisa menitipkan Dais ke Ino, yang sudah dianggap sebagai keponakannya sendiri.
Ino adalah sebuah cerita nasib perempuan yang lain. Dia dengan sengaja, makin lama semakin memperlihatkan dirinya sebagai orang kedua secara terbuka. berawal dari mengirimkan kurir untuk mengundang Kang Lurah makan siang di tempatnya. Namun kemudian dia mengirimkan daging mentah untuk Nana, sebuah isyarat ingin berkontak. Bahkan, dalam sebuah acara, dia dengan sengaja menemui Nana dan membujuknya untuk duduk di kursi VIP, sebagai layaknya ibu pejabat dan tuan rumah.
Uniknya kedua tokoh perempuan ini menjadi akrab, dan berpuncak pada adegan piknik dan mandi di sungai itu. Dimulai sejak mereka bertemu di pesta itu. Tapi khususnya sejak Ino menginap di rumah mereka. Mungkin karena merasa sama-sama korban keadaan dalam labirin patriarkis, maka mereka pun saling mengisi.
Orang masa kiwari mungkin mencap Ino melakukan panjat sosial. Dia adalah satu-satunya tukang daging di pasar, dan tentu berbeda kelas dengan Kang Lurah yang menak. Mungkin agar dianggap terpelajar dan naik kelas sosial, hingga bisa bersanding dengan Kang Lurah, maka si Ino si tukang daging pun rajin mengirimkan, bunga atau surat cinta sekadar mengundang makan siang, dengan kata-kata mesra. Dan, sesekali, sebuah puisi, Lewat Jendela,Taufik karya Taufik Ismail (1960) :
Sebuah jendela meraihkan malam bagiku
Seperti beribu malam yang lain.
Ia berkiut Pada engsel waktu Ia membawa tempias.
Debu dan cahaya bulan persegi Yang jatuh miring ke atas meja tulis.
Di film ini, tidak jelas siapa yang jahat. Semuanya jauh dari hitam putih. Mungkin mereka adalah korban keadaan, korban pancaroba.
Beberapa komentar menyatakan bahwa Sebagian bahasa film yang diterapkan Kamila di film ini mengingatkan pada film-film Wong Kar-wai, khususnya In the Mood for Love (2000). Sinematografi, mise-en-scene, skor musik, gerakan kamera, adegan slow motion dan blocking, bahkan gestur tubuh beberapa aktornya memperlihatkan hal itu (khususnya Ibnu Jamil). Bahkan seorang pengulas film di Variety menjabarkan film gabungan dari gaya Wong Kar-wai dengan gaya penyutradaraan Apichatpong Weerasethakul.
Namun bagi saya, tidak masalah, selama sang sutradari bisa secara audio visual menyampaikan visi misinya. Dan, bukankah In the Mood for Love juga meminjam Bengawan Solo?
Film yang diputar perdana dan berkompetisi di Festival Film Berlinale itu mengantarkan Laura Basuki meraih piala Silver Bear. film berdurasi 103 menit ini juga meraih Jury Prize di Festival Film Brussels.
Media fans are consumers who also produce,
readers who also write, spectators who also participate (Henry Jenkins)
Sebagai seorang yang sedang mendalami film
Cult dan eksploitasi, tentu saya pernah mendengar betapa gokilnya pencinta The Rocky
Horror Picture Show (RHPS, Jim Sharman, 1975) dan bagaimana mereka punya ritual
tersendiri saat menonton.
Ketika mengetahui bahwa film itu akan diputar
di Cinema City, jaringan bioskop art-house
Picture House di Britania Raya, tentu saja saya antusias. Tetapi “membaca” dan “mengalami langsung” adalah dua
hal yang secara signifikan berbeda drastis!
Sebagai gambaran, film
ini beredar di bioskop Amerika pada pertengahan 1970am,. Tepatnya di Westwood,
Los Angeles pada 14 Agustus 1975. Awalnya, saat diputar sore hari, film ini tak
banyak ditonton. Barulah sejak diputar tengah
malam di Waverly Theater, (sebuah bioskop yang sukses memutar midnight
movies sepertiEl Topo dan Night
of The Living Dead)\di New York City pada 1
April 1976, film ini menjadi istimewa, khususnya bagaimana para penonton maniak
bereaksi sepanjang film. Ini terjadi
karena promosi dari mulut ke mulut penggemarnya. Bersama dengan Pink
Flamingos (1972) dan Reefer Madness (1936), RHPS menjadi salah satu midnight
movie terlaris. Dan di pertengahan 1978, film ini sudah diputar secara
rutin setiap malam Jumat dan malam Minggu tengah malam di lebih dari 50 lokasi,
buletin internal diproduksi, dan para fans berkumpul layaknya sebuah konvensi.
Dan di akhir 1979, film ini diputar dua kali sepekan di lebih dari 230 bioskop. Salah satunya adalah the Museum Lichtspiele cinema di Muenchen,
yang memutarkannya tiap pekan sejak 24 Juni 1977.
Jika kita belum
menontonnya langsung di gedung bioskop—walau pun sudah menontonnya online atau
di televisi atau DVD—anda belum sah menjadi pencinta RHPS dan masih
berstatus ”virgin”. Jika dan hanya jika
kita menontonnya dengan ritual-ritual yang ada, barulah sah dianggap sebagai cult
follower-nya.
Saya pernah menonton midnight
movie. kala itu, di Amsterdam Fantastic
Film Festival 2008, saya bersama Joko Anwar menonton lima film
sekaligus, dimulai dari jam 11 malam dan selesai sekitar pukul 7 pagi. Para
penontonnya sangat interaktif, mereka akan berkeluh kesah jika adegan kurang
sadis, bahkan berteriak ”boo”, atau melempar gulungan tisu toilet. Mereka juga
punya perlombaan, seperti pencarian Ratu Jerit dan lomba kostum horor terbaik.
Tetapi RHPS di atas itu semua. Dan di atas ekspetasi saya!
Kami telat sekitar 5
menit menontonnya, karena agak bentrok dengan ajang Norwich Film Festival. Kami
tiba saat adegan Over at the Frankenstein Place, dan pelan-pelan duduk
di agak belakang. Saat itu, suasana sudah menghangat. Mayoritas memakai kostum heboh
a la karakternya, khususnya Magenta, Columbia, dan Dr. Frank N. Furter, lengkap
dengan dandanan, topi khas, dan rambut palsunya. Saat adegan hujan, kami merasakan rintik-rintiknya,
sementara yang lain sudah mengantipasi dengan menutupi kepala dengan koran. Wow
ada apakah ini? Rupanya sebagian penonton memakai pistol air untuk
menyemprot-nyemprot. Semuanya riang
gembira, tak ada yang protes, seakan sudah tahu bahwa ini bagian dari ritual. Saat
lirik lagu ”there’s a light” berkumandang,
para penonton menyalakan lilin, zippo, senter, dan apapun yang menyala.
Dan tentu sambil berdendang bersama. Mirip dengan melihat konser musik rock!
Adegan berikutnya, Sang
Kriminolog muncul dan kembali bercerita. Di sinilah, saya sadar bahwa setiap
nama Janet disebut, semua orang berteriak ”Slut!”, dan kala Brad disebut semua
memaki ”Ass Hole!”. dan ini dilakukan
secara konsisten, berkali-kali, dengan riang gembira.
Tentu saja, adegan
paling ditunggu-tunggu adalah saat lagu Time
Warp dinyanyikan. Tak ayal, sebagian menonton berdiri dan berjingkrak-jingkrak di atas
kursi, dan malah ada yang maju ke depan dan menari, mengikuti gaya di layar
besar. Dan tentu saja, mereka bernyanyi bersama-sama. Seorang penonton cewek di
sebelah saya, tidak berhenti bernyanyi
dari awal sampai akhir. Tidak hanya itu, dia dan puluhan penonton
lainnya, mengikuti dialog-dialognya, jeritannya, hingga dialek dan ke titik koma.
Dan jika penonton sudah mengutip kalimat-kalimat dari film di luar kepala, termasuk
intonasi dan dialeg hingga titik komanya, ini tanda-tanda sebuah film cult yang
hebat, menurut Umberto Eco.
Ketika tokoh utama
muncul, mereka bertepuk tangan, seolah menyambut pahlawan. Dan lagu Sweet Transvestite pun berkumandang,
seperti karaoke massal. Hingga adegan Dr. Frank mengundang kedua tamunya ke laboratoriumnya.
”So come up to the
lab. And see what's on the slab.
I see you shiver with antici (berhenti beberapa detik)... pation!
But maybe the rain
isn't really to blame
So I'll remove the cause, (berhenti sejenak dan tertawa kecil)…but not the
symptom”.
Demikianlah. Tidak hanya bernyanyi dan menari
atau bertepuk tangan menyoraki adegan tertentu, mereka juga ingin masuk ke
dalam cerita dan mengalami hal-hal yang menimpa karakternya. Saat adegan
pernikahan, para penonton menabur kertas-kertas mengkilap (di bioskop lain, beras
yang ditabur). Kala adegan Dr. Frank memakai sarung tangan karet dan
menimbulkan bunyi khasnya, para fans melakukan hal yang sama untuk mempertegas efek suara.
Yang menarik, tak hanya menikmati dan memuja,
mereka juga mengkritik. Ada adegan Brad dan Janet diantar ke kamar terpisah,
penonton berteriak: “kamarnya kok sama persis, sih!”. Dan saat adegan sudah mau
masuk bagian akhir (yang sengaja tidak saya terangkan di sini), ada penonton
memaki: “Nah! Dari sini cerita tidak logis lagi!”, yang disambar oleh
lainnya dengan satu kalimat yang menimbulkan tawa: “lagi?”. Mengomentari
kesalahan (bloopers, dialog murahan, adegan kocak) adalah hal yang biasa, bahkan lazim terjadi,
karena memang lama-lama pasti terlihat, secara ditonton berkali-kali. Bahkan,
tiap daerah dan fans club katanya punya ritual yang berbeda, kecuali yang
beberapa yang wajib hadir. Dan terkadang, sering ada pertunjukan sebelum film
dimulai, apakah itu kuis, teater mini, bahkan konser music yang mereka ulang
dunia reka-percaya RHPS.
Di arena ini, semua hal
diterima, selama saling menghargai dan menghormati. Tidak ada aturan baku,
khususnya dalam mengomentari atau mereka-ulang adegan.
Perayaaan oleh penggemar
semacam ini adalah tanda-tanda sebuah sinema cult. Umumnya, tidak hanya
partisipasi di gedung bioskop, namun juga dalam memproduksi teks seperti forum,
blog, fanzine, dan newsletter berkala.
Kasus Indonesia?
Bagaimana dengan
Indonesia? Sayangnya, kebanyakan kritikus, jurnalis, dan akademisi film masih
didominasi oleh kajian teks, alias isi dan cerita, tetapi tidak terlalu banyak
yang memperlebar penelitian dan penemuannya pada hal-hal yang bersifat analisa
industri, fan studies, dan reception studies.
Mungkin karena usaha menuju ke arah lain ini belum didukung oleh
fenomena di lapangan.
Di Barat, film-film
eksploitasi Indonesia di akhir 1970an hingga awal 1990an dirayakan dalam bentuk
forum online, blog, dan beberapa pemutaran (nobar). Film-film semacam Jaka
Sembung atau Pembalasan Rambu, semua
yang diedarkan lagi oleh distributor luar, dibahas dengan detil oleh fan yang
haus akan adegan yang dianggap eksotis, aneh, dan penuh petualangan yang
berbeda (the other) dan tak diketahui (the unknown) sebelumnya oleh mereka.
Beberapa orang menamakan film kita macam itu dengan sebutan Crazy Indonesia dan
Indonesia Cine-Insanity. Di Indonesia, Saya melihat cukup banyak penggila film
yang juga kolektor DVD, Laser Disc, bahkan VHS film-film jadul. Dan selain dari
rilisan distributor luar, mereka juga mendapatkan akses lewat Layar Tancap dan
VCD murah meriah dari
Bagaimana dengan film
yang lebih mutakhir? Saya termasuk di antara penonton Kantata Takwa yang
berkaraoke berjamaah satu gedung bioskop di Blitz Megaplex, saat film ini
diputar. Dan, cukup banyak orang yang mengambil beberapa dialog dari beberapa film (seperti Warkop dan Ada Apa
dengan Cinta) untuk dijadikan bagian dari percakapan umum.
Namun, memang,
penelitian di luar text utama (film secara internal) belum terlalu banyak
dilakukan. Kalau pun ada, sebagian
adalah karya akademis dan masih di dalam rak perpustakaan kampus-kampus. Dan, berdasarkan pengalaman saya mengerjakan buku
Menjegal Film Indonesia, kesulitan utama untuk kajian industri adalah dalam
pengumpulan data. Tapi untuk kajian fan dan resepsi, sepertinya bisa dilakukan.
Terus salah gue? Salah
temen-temen gue?
Gila lu, ndro!
Box
Kisah Semesta Campur
Sari yang Bikin Candu
Sebenarnya, apa yang
dikisahkan dalam film Rock Horror Picture Show? Ceritanya sederhana: seorang kriminolog menceritakan tetnang sepasang
kekasih yang baru bertunangan (Brad Majors dan Janet Weiss, yang diperankan
Barry Boswich dan Susan Sarandon, mereka aktor Amerika satu-satunya di film
ini, yang lain diperankan oleh aktor Inggris) yang mobilnya mogok di tengah hutan, di malam
bulan November 1974. Mereka mencari
bantuan di kastil terdekat, yang adalah sekelompok orang yang berkumpul untuk Annual Transylvanian Convention, di antaranya Riff Raff (yang mirip Igor di
film Frankenstein) , adiknya Magenta, dan seorang fans bernama Columbia.
Puncak dari acara itu adalah demonstrasi dari Dr. Frank N. Furter (penampilan perdanaTim
Curry), seorang yang dalam kalimatnya
sendiri adalah ” Sweet Transvestite from Transsexual, Transylvania”,
untuk menghidupkan kreasinya: pria berbadan sempurna bernama Rocky
Horror. Dan, setelah itu, plot bergerak, yang
sebaiknya tidak diceritakan di sini tapi dirasakan langsung. Dan Brad dan Janet
terjebak dalam dunia fantasi yang unik, kumpulan makhluk dari planet Transexual di galaksi of Transylvania,
khususnya sang saintis.
Film gaya apakah ini?
Jika dilihat dari adegan awal yang ikonik, bibir merah perempuan menyanyikan
lagu Science Fiction/Double Feature, kita langsung menyadari bahwa ini adalah
gabungan antara sci-fi dan musikal.
Tokoh utama yang ilmuwan, joget-joget diiringi lagu Time Warp tentang
mesin waktu, adalah elemen yang kental dengan fiksi-sains. Dan musik-musiknya,
begitu mudah diingat dan juga untuk membuat badan bergoyang. Tentu saja, tokoh
Riff Raff dan Rocky Horror mengingatkan kita pada kisah Frankenstein, khususnya
filmThe Revenge of Frankenstein. Salah satu lagunya dengan terus terang
menyebutkannya: Over at the
Frankenstein Place.
Awalnya, cerita RHPS
dipentaskan untuk drama panggung, ditulis oleh Richard O’Brien (yang menjadi
Riff Raff), dan pertama kali dipanggunggkan di
the Royal Court Theatre Upstairs, London, pada 19 Juni 1973, dengan
pemain Tim Curry, Julie Covington, Christopher Biggens, Richard O'Brien,
Patricia Quinn, Nell Campbell, Paddie O'Hagan and Rayner Bourton. Sebagian dari
mereka main lagi di filmnya.
Tadi siang, baru dapat kabar, Hilman “Lupus” Hariwijaya wafat hari ini.
Ya Allah, beliau salah satu yang membuatku ingin menjadi penulis.
Karena “Lupus” yang dimuat di Hai 1980an terasa berbeda,pendobrak,pelintas batas. Dari tema,gaya bahasa (ngocol,plesetan,tebak2an), dll.
"Lupus", yang kubaca era SD-SMP, membuatku ngulik Queen dan Duran-Duran.membuatku ingin jd penulis. Dan tentu saya ikuti meet and greet mereka, misalnya di Gramedia Matraman.
Hai kala itu (pimpinan mas Wendo, cmiiw) sangat berpengaruh bagi byk abg. Ada kolom tanya jawab musik,stikeren,cerbung perca (Swara Merah Putih), Balada Si Roy, Lupus dll.
Tapi "Lupus",IMHO, salah satu yang paling menonjol, di antara semua, waktu itu. dari cerpen jadi buku, terus jadi film berseri-seri.
Ilustrasinya juga keren, dari mas Wedha.
Bahas "Lupus" bisa lintas disiplin ilmu: sastra-bahasa-film-musik dll.
Jangan lupakan, di "Lupus" ada kisah2 dia cari uang sendiri dgn menulis.Dan aktivis Mading sekolah.Saya nulis pertama kali kelas 1 SMP, di Mading SMP 1 Cikini (satu2nya tulisan yg diterima lol).mulai rajin nulis,walau selalu ditolak. Tp dr "Lupus" saya jd ingin jd penulis, dan kirim tulisan ke majalah.
Karakter dan tema juga drkat dengan anak muda saat itu. Dunia Lupus adalah dunia yang menerima tokoh-tokoh seaneh dan seganjil apapun, tapi kelihatan mereka hangat, kompak, dan baik hati. Mirip dengan dunia tongkrongan dan sekolah.
Dalam sebuah seminar PhD di University of East Anglia, sekitar 2014, seorang peneliti menyatakan bahwa series zombies belakangan ini sudah bergeser tidak lagi berfokus pada kecemasan dan horor kemungkinan akhir dunia karena wabah virus. Dengan memakai kasus The Walking Dead, akademisi ini--sayangnya saya lupa dan belum nemu nama dan judul papernya--menyatakan bahwa yang lebih ditekankan adalah rasa kesedihan, kehampaan, rasa duka (grief).
Teori ini bisa diterapkan di All of Us are Dead, series 12 episode dari Netflix. Kita bisa melihat sejak dari episode pertama, bagaimana para karakter utama kehilangan satu demi satu orang-orang yang ia sayangi.
Rasa kehilangan adalah hal manusiawi. Demikian pula dengan perubahan karakter. Dilema moral berkali-kali muncul di hampir semua episode. Dunia tidak hitam dan putih. Manusia, apalagi remaja yang masih duduk di kelas 11 dan 12 yang penuh gejolak dan belum stabil, pun diombang-ambingkan dengan keadaan yang selalu genting, sehingga dipaksa untuk bertindak tidak hanya soal benar atau salah, baik atau buruk, tapi juga selamat atau mati. Ada yang mesti bertindak yang bertentangan dengan hati nuraninya. Walau ada pula yang sejak awal memang karakternya jahat, perundung, dan semakin jahat dengan kekuatan baru yang ia dapatkan.
Series ini, seperti sebagian kisah zombie lainnya, tidak hanya tentang bagaimana selamat dari zombie apocalypse. tapi juga mengandung hubungan antar manusia (sahabat, pacar, anak-orang tua, siswa-guru, tentara-sipil) yang kuat dan manusia. Tidak melulu teror dengan nafas terengah-engah.
Dan yang paling saya rasakan, setelah menonton tuntas, adalah rasa sedih, hampa, dan kehilangan. Bukan lagi persoalan seram, apalagi jumpscare belaka.
Sebagai seseorang yang pekerjaan utamanya
adalah akademisi (tidak hanya dosen yang mengajar, tetapi juga riset, pengabdian pada
masyarakat, pengembangan diri), saya sejak dulu tak mau di menara gading.
Saya
ingin ilmu saya bermanfaat dan berkah ke sebanyak mungkin orang. Karena itu,
saya ingin menjadi intelektual publik. Istilahnya: Public Engagement, Beberapa
langkah: Menulis di media massa/medsos, jadi pembicara/juri/kurator, diseminasi
hasil riset dengan pendekatan popular, dll.
Menjadi Ketua Komite Film Dewan Kesenian Jakarta, yang di antaranya meliputi Kineforum, Madani Film Festival. Dan juga membantu Jakarta Film Week edisi perdana.
Oleh:
Ekky Imanjaya (sutradara dokumenter The Tielmans)
Kata Pengantar untuk buku Membaca Indorock, Mendengarkan Nostalgia (Donny Anggoro, 2021), dan memperingati 10 tahun wafatnya Andy Tielman)
Berbicara
soal indorock, mengingatkan saya pada era 2007-2008, saat saya studi master di
Universiteit van Amsterdam. Saya termasuk yang beruntung, dalam waktu setahun
itu, saya berhasil mengeksplorasi genre
musik Indorock, dan budaya Indo/Indisch secara umum. Saat itu, saat itu majalah Rolling Stone membuat artikel tentang
Andy Tielman dan The Tielman Brothers, dan saya yang berada di Belanda merasa wajib untuk
mengejar Andy Tielman, satu dari dua
orang yang tersisa dari band legendaris The Tielman Brothers.
Tapi
justru kejadian tak terduga yang mengantarkan saya pada pertemuan pertama itu.
Di Bintang Theater di Pasar Malam Besar, 31 Mei 2008, Den Haag, saya memisahkan diri dengan rombongan
teman-teman, karena tertarik dengan poster Tjendol Sunrise. Ini adalah band
kekinian saat itu, kumpulan anak muda yang punya semangat menghidupkan kembali
Indorock. Mereka baru merilis album (sayangnya rilisnya hanya berselang
beberapa hari sebelumnya), berkolaborasi dengan Andy Tielman.
Saya hanya kebagian menonton beberapa lagu
terakhir. Tapi setelah itu saya tetap bertahan. Karena setelah itu ada pentas
yang saya tunggu-tunggu, yang tak sengaja saya lihat posternya saat menuju ke
panggung itu: Andy Tielman!
Saya
pun menonton hingga habis, dari pembukaan, si mungil Lorraine Jane memberikan
bunga kepada ayahnya, hingga lagu penutup Rasa Sajange/Glory Halelujah
yang membuat seluruh ruangan bernyanyi Bersama. Semuanya saya abadikan dalam
tulisan yang dimuat di Koran Tempo. Dan dengan pede saya tembak beliau: saya
ingin membuat film dokumenter! Dan saya pun mengikutinya hingga ke kota kecil
Bernama Steinweijk.
Seperti
saya sebut di atas, Indorock adalah bagian dari budaya besar, budaya
Indisch/Indo. Indorock di sini adalah aliran rock kaum Indisch/Indo. Ada tiga
kategori untuk menyebut “indisch”. Pertama, orang Belanda murni atau ‘totok’
yang lahir di tanah jajahannya yaitu Indonesia. Kedua, adalah campuran antara
Indonesia dengan Belanda seperti Alex –Eddie Van Halen bersaudara. Ketiga,
adalah orang-orang murni Indonesia tapi bekerja untuk KNIL atau untuk
pemerintah Belanda pada umumnya, seperti keluarga Tielman. Nah, ketiganya
disebut “indisch” yang di Indonesia mereka juga dianggap sebagai “pengkhianat”,
sedangkan di Belanda mereka dianggap
warga negara kelas dua—tak heran banyak yang hijrah, misalnya ke Los Angeles
dan Australia.
Ketika
mereka terpaksa harus berimigrasi secara besar-besaran pada 1957, saat Presiden Sukarno memberi ultimatum kepada
“warga indisch” ini untuk memilih kewarganegaraan, maka di Belanda pun mereka mempunyai semacam
sub kulturnya sendiri. Mereka ingin diakui sederajat. Karena itulah, menurut
pentolan Tjendol Sunrise, Andy Tielman sangat penting karena bukan hanya
pahlawan musik, tapi juga pahlawan kaum Indo.
Kaum Indisch ini kemudian membuat Pasar Malam, yang menjadi Gerakan budaya untuk
menunjukkan identitas dan mengukuhkan kesejarahan mereka dengan tanah air
keduanya, Indonesia. Saya beruntung mengalami langsung subkultur itu di Belanda.
Pasar Malam ini adalah ajang terbesar di sana selain North Sea Jazz dan
Rotterdam Film Festival. Di Pasar Malam ini, atau juga acap disebut Festival
Tong Tong, berkumpul subkultur kaum Indo lainnya: Bahasa Petjok, Indorock,
Keroncong, dan tentunya berbagai makanan khas nusantara era colonial.
Andy
Tielman, dengan Indorock-nya, dianggap sebagai pahlawan kaum Indisch. Pada
2008, sesaat sebelum pulang ke tanah air, saya berada di tengah persiapan acara
Nederpop, yang rencananya saat itu digelar
Oktober 2008, di mana di situ diperdengarkan
pula lagu “Little Baby Rock of Mine”
(1959) yang dianggap sebagai pelopor “NederPop” alias musik pop Belanda. Dan
tentu pengaruh band sekeluarga itu terhadap skena musik, termasuk kekaguman Jan
Akkerman (salah satu gitar terbaik dunia) dan Golden Earring terhadap mereka.
Akhirnya,
dengan lagu debut mereka itu, The Tielman Brothers diterima publik Negeri
Kincir, setelah sebelumnya mereka pergi keliling Eropa,salah satunya ke Belgia,
mengumandangkan irama “rock n roll”, yang kala itu masih asing dan dianggap
pengaruh buruk. Mereka juga lalu berpetualang ke Hamburg. Masalahnya, yang
sering dibahas jika membicarakan Indorock adalah mitos-mitos seperti The
Beatles terinspirasi dari mereka ketika ke Hamburg. Padahal tidak cukup bukti
soal hal ini, mengingat semua band era itu di Hamburg rata-rata memang punya
aksi panggung gila-gilaan. Dan di Museum the Beatles di Liverpool, khususnya di
bagian Hamburg, tidak ada nama The Tielman Brothers sedikitpun di antara daftar
nama yang berjasa pada The Fab Four di era itu.
Tentu
saja berbicara soal subkultur budaya Indisch, khususnya Indorock, tidak hanya
terhenti pada Andy Tielman dan The Tielman Brothers. Buku ini menarik karena,
selain masih sedikit yang membahas
Indorock, juga membahas tentang band-bang Indorock lainnya. Dengan begitu, buku
ini memperkaya wawasan kita tentang genre rock yang nyaris terlupakan ini. Dan
uniknya, ada pembahasan tentang band Indonesia yang juga turut melestarikan
music aliran ini.
Selamat
kepada Bung Donny Anggoro atas terbitnya buku ini.
Kepada
pembaca, selamat menikmati dan berselancar di semesta Indorock!