Thursday, April 1, 2021

The Rough Guide to Indonesian Fantastic Pop Culture: Imagine Film Festival, Amsterdam

 The Rough Guide to Indonesian Fantastic Pop Culture: https://www.imaginefilmfestival.nl/film/talkshow-indonesia/ Imagine Film Festival (known in 2000s by Amsterdam Fantastic Film Festival) , 11 April.





Sunday, March 28, 2021

My newest Book, "Mujahid Film: Usmar Ismail", 5 Articles in English and 6 in Indonesian

My newest book, "Mujahid Film: Usmar Ismail" has 11 articles in it, 5 of them are in English. 

 Here's the table of content: 

 Chapter 1: Usmar Ismail: Sebuah Perkenalan  
  1. Introduction to Usmar Ismail
   2. Sang Mujahid Seni Indonesia

 Chapter 2:Ulasan Film 

 3. Tiga Menguak Usmar 

4. Tukang Obat dan Kampanye Caleg di Sinema Kita, 

 5. Harimau Tjampa: Kelindan Pencak Silat dengan Islam 

 Chapter 3:Lesbumi, Sensor, Politik 

6. Sensor dalam Film 

7. Lesbumi, Dari Jembatan Ulama-Seniman 

Chapter 4 :Warisan, Restorasi, dan Transnasionalisme 

8. Restoration of Lewat Djam Malam: The Importance, the Process, and the Obstacles 

9. Two Orphan Films by Usmar Ismail 

 10. Indonesia’s Three Sisters Movies, Cultural Importance, and the Legacy of Challenging the Society 

11. Revisiting Italian Neorealism: Its influence toward Indonesia and Asian Cinema or There’s No Such Thing Like Pure Neorealist Films 


You can buy the printed version (pre-oder) at Shopee, and the e-book version (you can by per chapter) at Storial.co. 


 BTW, Mujahid means people who are fighting againts/for something. Originally , it is an Islamic term. but I broaden the meaning, not only for Islamic purposes but for cultural/social/political ones as well. My book focuses on Usmar ISmail, considered as The Father of Indonesian Cinema, and his struggles for formulating the concept of "Indonesian cinema". it is important since Indonesia just got its independence in 1945 (and was acknowledged in 1949 by the dutch, the colonizer), and Usmar made his "first" film in 1950. Including his struggles between making his idealistic films and commercial ones, and defending for communist attempts (Paradoxically, he became the chairperson of "Traditional Muslim Cultural Institution", but later he owned the first night club in Indonesia).

Mari Diskusi "Film Madani" Malam Ini

Sejak berkenalan dengan film sebagai cabang seni pertunjukan, dunia Islam termasuk Indonesia dengan aktif ikut memproduksinya. Di tengah kemelut dan pertentangan nilai, apalagi sebagian muslim menganggap film sebagai bagian melekat dari budaya Barat, para sineas muslim terap berkarya dengan sudut pandang dan refleksi khasnya masing-masing mengenai kehidupan umat Islam. Beberapa di antaranya, seperti film-film Iran, mendapatkan sambutan dan pengakuan besar dari masyarakat dunia penikmat film, dan tentu saja kritikus film. Di Indonesia, produksi film juga berjalan dengan konteks di atas. Karena perhatian utamanya (dan bahkan pasarnya) adalah masyarakat muslim, kita menyaksikan pelbagai karya yang berorientasi dakwah tetapi rendah secara estetika, atau bermutu secara sinematografi tetapi sekaligus mengritik dengan telak beberapa praktik muslim sehari-hari. Sebagiannya lagi mencari aman dengan mengangkat isu yang mudah diterima pasar. Pro-kontra lantas terjadi, bersamaan dengan kemunculan film-film baru. Untuk menutup Majelis Bentala Syuhada bulan ini, kami mengundang Ekky Imanjaya, Ph.D., yang merupakan dosen kajian film di Binus University. Ekky malang melintang di dunia kajian film dengan menjadi jurnalis film hingga doktor kajian film. Ia menawarkan konsep "film madani" untuk membaca produksi dan menganalisis wacana film-film dengan nuansa Islami di atas. Kumpulan esainya, "Mencari Film Madani", dapat diunduh gratis di tautan berikut: https://drive.google.com/drive/folders/1FRtP6s_YfFVx1ExyQoFW18K1NDq5qLus

Tuesday, March 23, 2021

4 Diskusi Usmar Ismail di YouTube

 Setiap Maret, Usmar Usmail selalu dibahas, khususnya menjelang Hari Film Nasional (30 Maret).

Tahun ini istimewa, karena pada 20 Maret ada perayaan #100TahunUsmarIsmail.

Berikut tautan diskusi saya bersama teman-teman membahas Usmar Ismail.


(1) Usmar Ismail Sutradara Besar Indonesia, 15 Juli 2020 bersama Andibachtiar Yusuf


 

(2) NB#5: Lisabona Rahman;Merayakan "Lewat Djam Malam" di Criterion & Kisah-Kisah Kearsipan Film Lainnya (22 Agustus 2020)  bersama Lisabona Rahman (Berlin) dan Asmayani Kusrini (Brussels)


(3)

 Kultum Ekky-Hikmat: 7 Hal tentang Usmar Ismail (19 Maret 2021) bersama Hikmat Darmawan 


 

(4) Peluncuran dan Diskusi Buku: “Mujahid Film: Usmar Ismail”  (Ekky Imanjaya, 2021). Bersama Putri Ayudya dan Sazkia Noor Anggraini. 20 Maret 2021.



 Selamat Hari Film Nasional!

Saturday, March 20, 2021

Pesan Buku "Mujahid Film: Usmar Ismail"!

Buku “Mujahid Film: Usmar Ismail” (Ekky Imanjaya, 2021, Kineforum-Storial) sudah bisa  dibeli di:

(1)    Shopee: https://shopee.co.id/Mujahid-Film-Usmar-Ismail-i.134996611.8029183334  Rp 65 ribu (pre-order, cetak)

(2)    Storial.co https://www.storial.co/book/mujahid-film-usmar-ismail (e-book, beli utuh Rp 55 ribu; bisa dibeli per bab). Mesti punya akun dan login dulu.

 

Terima kasih

Friday, March 19, 2021

Launching dan Diskusi Buku Terbaru Saya! "Mujahid Film: Usmar Ismail"

Merayakan 100 Tahun Usmar Ismail (20 Maret 1921-2021), Kineforum-DKJ menerbitkan kumpulan tulisan Ekky Imanjaya, Ph.D tentang Usmar Ismail dan film-film yang terkait dengan beliau. Buku yang diterbitkan sebagai kerjasama Kineforum dan Storial.com ini mengangkat tema sosok gelisah Usmar Ismail dan dunia kreatif perfilman Indonesia semasa hidupnya. Pertentangan idealisme dan komersialisme, kompetisi ideologis, isu sensor, dan "film-film piatu" Usmar di negeri tetangga disentuh buku saku ini. 

Peluncuran buku ditandai obrolan Ekky Imanjaya (penulis) dan Putri Ayudya (aktor) dan dimoderatori oleh Sazkia Noor Anggraeni (peneliti).


Sabtu, 20 Maret 2021

Pk. 19.00-21.00 WIB

Youtube (Live) kanal Dewan Kesenian Jakarta


Buku akan terbit versi digital dan cetak. Pemesanan akan dibuka pada saat peluncuran. 


#100TahunUsmarIsmail

#Kineforum #DewanKesenianJakarta

#Storial

Saturday, February 6, 2021

Budaya Film 1980an di Surabaya yang Membentuk Saya

Saat saya TK hingga kelas 6 SD pertengahan, saya ikut orang tua menetap di Surabaya. Secara tak langsung, budaya film yang ada di sana ikut membentuk saya mencintai film.


Salah satu pengalaman pertama tertua saya   menonton di Surabaya adalah Gundala Putra Petir (1981, tapi saya nontonnya beberapa tahun kemudian)  bareng-bareng teman se-kompleks saat kelas 4 atau 5. Beberapa yang tak terlupakan adalah seri Wali Songo, seperti Sunan Kaji Jogo vs Syeikh Siti Jenar (1985).   Tentu saja, tak ada yang mengalahkan pengalaman menonton Pengkhianatan G30S/PKI (1984)  di mana semua murid SD saya wajib untuk menontonnya--bayangkan seorang anak kelas 3 atau 4 SD menonton film yang penuh darah dan penyiksaan itu! Diwajibkan, berbondong-bondong, didampingi oleh guru secara resmi.

Hal lain adalah Surabaya Post, sebuah harian sore yang selalu saya nantikan, untuk dibuka di halaman belakang, yang berisi poster film dan jadwal bioskop. Ini rutin saya tunggu tiap petang, selain menunggi tukang video keliling yang menyewakan video-video dari pintu ke pintu.  Kami bisa beli atau sewa mingguan.

Beberapa video yang saya beli (atau, tepatnya: dibelikan) adalah Gaya Merayu (1980), dan kemudian Untung Ada Saya (1982, ingat Gepeng?)  dari Srimulat. Pilihan ini tentu tak lepas dari pengalaman saya diajak nonton pertunjukan Srimulat di THR--yang sepertinya turut mengasah selera saya di genre horor, mengingat mereka sering memainkan komedi horor.

Yang menarik, saya tak sengaja menyewa sebuah film yang rupanya ada adegan seks. Ini (selain membaca komik The New Teen Titans yang ada kisah Trigon ayah Raven, judulnya seingat saya The Terror of Trigon) adalah pengalaman saya menonton adegan porn seks, dimana sang penjahat menggilir wanita-wanita. Judulnya, kalau tak salah, Shaolin vs Lama (1983). Saat saya menonton dan kebingungan, orang tua saya tiba dan kaget. Saya juga kaget, "Oh ini gak boleh ditonton anak kecil, toh?

Budaya video ini menarik, karena memungkinkan seseorang, termasuk anak kecil seperti saya, bisa merekam acara dari TV, seperti Aneka Ria Safari (termasuk adegan lawak di tengah-tengahnya, sekitar 10-15 menitan), Operet Lebaran Papiko, dan...favorit kami semua: Paguyuban Lawak di setiap hari pertama Idul Fitri! Karena itu kami hapal lagu-lagu dan dialog-dialognya. Khususnya Warkop DKI-Bagito. Dengan budaya video, saya juga bisa mekloning video lain.


Tentu saja, tidak boleh dilupakan juga adalah ritual akhir pekan (selain ke Toko Nam atau Siola) adalah ke Trio Video Tara, toko rental video yang besar di dekat Hotel Hyatt Surabaya, dimana saya juga rutin diajak ke sana. Jauh sebelum ada istilah binge-watch, saya dan keluarga sudah menonton maraton serial silat seperti trilogi Legend of Condor Heroes/Sin Tiaw Eng Hiong (Kwee Ceng-Oey Young), Return of Condor Heroes/Sin Tiaw Hiap Lu (Yoko- Bibi Liong, debutan Andy Lau kalau tak salah), dan Demigods and SemiDevils/To Liong To (Tio Buki-Tio Beng). Di bulan Ramadhan, kami bisa menghabiskan waktu dari setelah shalat Tarawih hingga menjelang Sahur.

Tak lupa seri film-film robot dan tokukatsu seperti Voltus V, Megaloman hingga God Sigma.

Itulah beberapa hal yang secara langsung tak langsug membentuk selera dan kecintaan saya akan medium sinema. Tentu saja, sepertinya ini fenomena budaya pop yang terjadi di seantero Indonesia, khususnya kota-kota besar. Tapi saya mengalaminya saat di Surabaya.

Bagaimana dengan kalian?