Sunday, March 28, 2021
Mari Diskusi "Film Madani" Malam Ini
Tuesday, March 23, 2021
4 Diskusi Usmar Ismail di YouTube
Setiap Maret, Usmar Usmail selalu dibahas, khususnya menjelang Hari Film Nasional (30 Maret).
Tahun ini istimewa, karena pada 20 Maret ada perayaan #100TahunUsmarIsmail.
Berikut tautan diskusi saya bersama teman-teman membahas Usmar Ismail.
(1) Usmar Ismail Sutradara Besar Indonesia, 15 Juli 2020 bersama Andibachtiar Yusuf
(2) NB#5: Lisabona
Rahman;Merayakan "Lewat Djam Malam" di Criterion & Kisah-Kisah
Kearsipan Film Lainnya (22 Agustus 2020) bersama Lisabona Rahman (Berlin) dan Asmayani Kusrini
(Brussels)
(3)
Kultum Ekky-Hikmat: 7 Hal
tentang Usmar Ismail (19 Maret 2021) bersama Hikmat Darmawan
(4) Peluncuran dan Diskusi Buku: “Mujahid Film: Usmar Ismail” (Ekky Imanjaya, 2021). Bersama Putri Ayudya dan Sazkia Noor Anggraini. 20 Maret 2021.
Selamat Hari Film Nasional!
Saturday, March 20, 2021
Pesan Buku "Mujahid Film: Usmar Ismail"!
(1)
Shopee: https://shopee.co.id/Mujahid-Film-Usmar-Ismail-i.134996611.8029183334
Rp 65 ribu (pre-order, cetak)
(2)
Storial.co https://www.storial.co/book/mujahid-film-usmar-ismail
(e-book, beli utuh Rp 55 ribu; bisa dibeli per bab). Mesti punya akun dan login
dulu.
Terima kasih
Friday, March 19, 2021
Launching dan Diskusi Buku Terbaru Saya! "Mujahid Film: Usmar Ismail"
Peluncuran buku ditandai obrolan Ekky Imanjaya (penulis) dan Putri Ayudya (aktor) dan dimoderatori oleh Sazkia Noor Anggraeni (peneliti).
Sabtu, 20 Maret 2021
Pk. 19.00-21.00 WIB
Youtube (Live) kanal Dewan Kesenian Jakarta
Buku akan terbit versi digital dan cetak. Pemesanan akan dibuka pada saat peluncuran.
#100TahunUsmarIsmail
#Kineforum #DewanKesenianJakarta
#Storial
Saturday, February 6, 2021
Budaya Film 1980an di Surabaya yang Membentuk Saya
Saat saya TK hingga kelas 6 SD pertengahan, saya ikut orang tua menetap di Surabaya. Secara tak langsung, budaya film yang ada di sana ikut membentuk saya mencintai film.
Salah satu pengalaman pertama tertua saya menonton di Surabaya adalah Gundala Putra Petir (1981, tapi saya nontonnya beberapa tahun kemudian) bareng-bareng teman se-kompleks saat kelas 4 atau 5. Beberapa yang tak terlupakan adalah seri Wali Songo, seperti Sunan Kaji Jogo vs Syeikh Siti Jenar (1985). Tentu saja, tak ada yang mengalahkan pengalaman menonton Pengkhianatan G30S/PKI (1984) di mana semua murid SD saya wajib untuk menontonnya--bayangkan seorang anak kelas 3 atau 4 SD menonton film yang penuh darah dan penyiksaan itu! Diwajibkan, berbondong-bondong, didampingi oleh guru secara resmi.
Beberapa video yang saya beli (atau, tepatnya: dibelikan) adalah Gaya Merayu (1980), dan kemudian Untung Ada Saya (1982, ingat Gepeng?) dari Srimulat. Pilihan ini tentu tak lepas dari pengalaman saya diajak nonton pertunjukan Srimulat di THR--yang sepertinya turut mengasah selera saya di genre horor, mengingat mereka sering memainkan komedi horor.
Yang menarik, saya tak sengaja menyewa sebuah film yang rupanya ada adegan seks. Ini (selain membaca komik The New Teen Titans yang ada kisah Trigon ayah Raven, judulnya seingat saya The Terror of Trigon) adalah pengalaman saya menonton adegan porn seks, dimana sang penjahat menggilir wanita-wanita. Judulnya, kalau tak salah, Shaolin vs Lama (1983). Saat saya menonton dan kebingungan, orang tua saya tiba dan kaget. Saya juga kaget, "Oh ini gak boleh ditonton anak kecil, toh?
Budaya video ini menarik, karena memungkinkan seseorang, termasuk anak kecil seperti saya, bisa merekam acara dari TV, seperti Aneka Ria Safari (termasuk adegan lawak di tengah-tengahnya, sekitar 10-15 menitan), Operet Lebaran Papiko, dan...favorit kami semua: Paguyuban Lawak di setiap hari pertama Idul Fitri! Karena itu kami hapal lagu-lagu dan dialog-dialognya. Khususnya Warkop DKI-Bagito. Dengan budaya video, saya juga bisa mekloning video lain.
Tentu saja, tidak boleh dilupakan juga adalah ritual akhir pekan (selain ke Toko Nam atau Siola) adalah ke Trio Video Tara, toko rental video yang besar di dekat Hotel Hyatt Surabaya, dimana saya juga rutin diajak ke sana. Jauh sebelum ada istilah binge-watch, saya dan keluarga sudah menonton maraton serial silat seperti trilogi Legend of Condor Heroes/Sin Tiaw Eng Hiong (Kwee Ceng-Oey Young), Return of Condor Heroes/Sin Tiaw Hiap Lu (Yoko- Bibi Liong, debutan Andy Lau kalau tak salah), dan Demigods and SemiDevils/To Liong To (Tio Buki-Tio Beng). Di bulan Ramadhan, kami bisa menghabiskan waktu dari setelah shalat Tarawih hingga menjelang Sahur.
Tak lupa seri film-film robot dan tokukatsu seperti Voltus V, Megaloman hingga God Sigma.
Itulah beberapa hal yang secara langsung tak langsug membentuk selera dan kecintaan saya akan medium sinema. Tentu saja, sepertinya ini fenomena budaya pop yang terjadi di seantero Indonesia, khususnya kota-kota besar. Tapi saya mengalaminya saat di Surabaya.
Bagaimana dengan kalian?
Saturday, December 12, 2020
Banyak Ayam, Banyak Rezeki: Surreal Comedy + Mockumentary + The Other Side of Madani
Tidak hanya itu, film berdurasi 101 menit ini menyajikan sebuah hibrid baru bagi genre film di Indonesia, yang sebenarnya cocok untuk mengkrisi isu-isu sensitif. ia adalah campuran antara dark comedy yang bahkan mengarah ke surreal comedy nan absurd ala Monty Python, dengan mockumentary (seolah-olah dokumenter) model Borat. Dan tentu ada banyak referensi yang terlihat di sana sini saat menontonnya, tapi saya akan fokus pada dua hal ini.
Sependek pengetahuan saya, tidak banyak film Indonesia yang bergenre mockumentary (selain Keramat, apa ya?) dan surreal comedy (mungkin Matt Dower karya Nyak Abbas Akub, yang sayangnya saya hanya lihat cuplikan-cuplikan pendeknya dari koleksi Pak David Hanan). Dan film ini adalah gabungan keduanya. Plus, karena mengangkat isu-isu yang erat dengan masyarakat muslim, kali ini dengan sisi lain dari umat Islam negeri ini, film ini juga saya anggap sebagai gambaran dari The Other Side of Madani Film. Sintesisnya membuat film ini menjadi one of a kind, unik.
Bagi kalangan tertentu, film ini bisa dianggap terlalu berani, subversif dan malah blasphemy. Tapi bagi yang berpikiran terbuka dan punya selera humor yang tinggi, maka akan disadari bahwa ini adalah penggambaran absurd yang cerdas dan dalam tentang sebuah fenomena dalam masyarakat: Poligami.
Ya, Poligami. Tapi sangat berbeda dengan film-film poligami yang pernah ada. Selain dari cerita dan cara bertutur yang unik seperti dibahas di atas (yang sebaiknya disaksikan sendiri), film ini berkisah juga tentang klenik, kejawaan, dan menyinggung fenomena profesi "motivator". Inilah kisah sukses Arjun, seorang guru yang beralih menjadi pengusaha ayam goreng, Kaliurang Fried Chicken alias KFC, yang, menurut klaimnya, menjadi berhasil justru karena melakukan poligami. Tak hanya itu, Arjun yang menjadi selebriti itu pun mengangkat dirinya menjadi sumber inspirasi dan membuat acara "Poligami Award".Olok-olok juga terlihat saat kita dengan sadar dibenturkan dengan dua hal yang ironis (misalnya, sang guru spritual yang awalnya memberikan nasihat untuk nambah istri, malah ikuti jejak Arjun berdagang KFC), atau dengan terang-terangan menyandingkan antara Kaliurang dan sumber aslinya (Kentucy) yang sama-sama disingkat KFC, dan tentu dengan simbol dan ikon Jawa dan Islam (lukisan Nyai Roro Kidul, berjilbab tapi berpakaian seksi, radio "merek" Islam, "Republik Toa" yang punya volume hingga 11 seperti di klip video Black and White). Juga perbenturan ideologi (mengganti nama Poligami Award dengan Feminis Award). Termasuk antara adengan dengan lagu (saat ada adegan yang memperlihatkan Arjun melakukan hal tak etis dengan lagu berlirik tentang pemimpin sebagai panutan).
Film ini sebaiknya ditonton langsung, masih bisa disaksikan di Festival Film Dokumenter secara gratis hingga 14 Desember di tautan ini.
Sekadar trivia: Ini adalah film kedua yang saya tonton tahun ini yang punya adegan yang memperdengarkan suara adzannya, setelah Flowers and Butterfly (film Thailand penutup Madani Film Festival tahun ini). Dan banyak sekali lagu-lagu lawas yang bertebaran di sini.
Oh,ya, bagi para akademisi film, silahkan perhatikan cameo-cameo yang ada di sini.
Trailer:
Sunday, December 6, 2020
Catatan FFI di Tahun Pandemi
Selamat kepada seluruh pemenang Festival Film Indonesia 2020!



