Tuesday, March 23, 2021

4 Diskusi Usmar Ismail di YouTube

 Setiap Maret, Usmar Usmail selalu dibahas, khususnya menjelang Hari Film Nasional (30 Maret).

Tahun ini istimewa, karena pada 20 Maret ada perayaan #100TahunUsmarIsmail.

Berikut tautan diskusi saya bersama teman-teman membahas Usmar Ismail.


(1) Usmar Ismail Sutradara Besar Indonesia, 15 Juli 2020 bersama Andibachtiar Yusuf


 

(2) NB#5: Lisabona Rahman;Merayakan "Lewat Djam Malam" di Criterion & Kisah-Kisah Kearsipan Film Lainnya (22 Agustus 2020)  bersama Lisabona Rahman (Berlin) dan Asmayani Kusrini (Brussels)


(3)

 Kultum Ekky-Hikmat: 7 Hal tentang Usmar Ismail (19 Maret 2021) bersama Hikmat Darmawan 


 

(4) Peluncuran dan Diskusi Buku: “Mujahid Film: Usmar Ismail”  (Ekky Imanjaya, 2021). Bersama Putri Ayudya dan Sazkia Noor Anggraini. 20 Maret 2021.



 Selamat Hari Film Nasional!

Saturday, March 20, 2021

Pesan Buku "Mujahid Film: Usmar Ismail"!

Buku “Mujahid Film: Usmar Ismail” (Ekky Imanjaya, 2021, Kineforum-Storial) sudah bisa  dibeli di:

(1)    Shopee: https://shopee.co.id/Mujahid-Film-Usmar-Ismail-i.134996611.8029183334  Rp 65 ribu (pre-order, cetak)

(2)    Storial.co https://www.storial.co/book/mujahid-film-usmar-ismail (e-book, beli utuh Rp 55 ribu; bisa dibeli per bab). Mesti punya akun dan login dulu.

 

Terima kasih

Friday, March 19, 2021

Launching dan Diskusi Buku Terbaru Saya! "Mujahid Film: Usmar Ismail"

Merayakan 100 Tahun Usmar Ismail (20 Maret 1921-2021), Kineforum-DKJ menerbitkan kumpulan tulisan Ekky Imanjaya, Ph.D tentang Usmar Ismail dan film-film yang terkait dengan beliau. Buku yang diterbitkan sebagai kerjasama Kineforum dan Storial.com ini mengangkat tema sosok gelisah Usmar Ismail dan dunia kreatif perfilman Indonesia semasa hidupnya. Pertentangan idealisme dan komersialisme, kompetisi ideologis, isu sensor, dan "film-film piatu" Usmar di negeri tetangga disentuh buku saku ini. 

Peluncuran buku ditandai obrolan Ekky Imanjaya (penulis) dan Putri Ayudya (aktor) dan dimoderatori oleh Sazkia Noor Anggraeni (peneliti).


Sabtu, 20 Maret 2021

Pk. 19.00-21.00 WIB

Youtube (Live) kanal Dewan Kesenian Jakarta


Buku akan terbit versi digital dan cetak. Pemesanan akan dibuka pada saat peluncuran. 


#100TahunUsmarIsmail

#Kineforum #DewanKesenianJakarta

#Storial

Saturday, February 6, 2021

Budaya Film 1980an di Surabaya yang Membentuk Saya

Saat saya TK hingga kelas 6 SD pertengahan, saya ikut orang tua menetap di Surabaya. Secara tak langsung, budaya film yang ada di sana ikut membentuk saya mencintai film.


Salah satu pengalaman pertama tertua saya   menonton di Surabaya adalah Gundala Putra Petir (1981, tapi saya nontonnya beberapa tahun kemudian)  bareng-bareng teman se-kompleks saat kelas 4 atau 5. Beberapa yang tak terlupakan adalah seri Wali Songo, seperti Sunan Kaji Jogo vs Syeikh Siti Jenar (1985).   Tentu saja, tak ada yang mengalahkan pengalaman menonton Pengkhianatan G30S/PKI (1984)  di mana semua murid SD saya wajib untuk menontonnya--bayangkan seorang anak kelas 3 atau 4 SD menonton film yang penuh darah dan penyiksaan itu! Diwajibkan, berbondong-bondong, didampingi oleh guru secara resmi.

Hal lain adalah Surabaya Post, sebuah harian sore yang selalu saya nantikan, untuk dibuka di halaman belakang, yang berisi poster film dan jadwal bioskop. Ini rutin saya tunggu tiap petang, selain menunggi tukang video keliling yang menyewakan video-video dari pintu ke pintu.  Kami bisa beli atau sewa mingguan.

Beberapa video yang saya beli (atau, tepatnya: dibelikan) adalah Gaya Merayu (1980), dan kemudian Untung Ada Saya (1982, ingat Gepeng?)  dari Srimulat. Pilihan ini tentu tak lepas dari pengalaman saya diajak nonton pertunjukan Srimulat di THR--yang sepertinya turut mengasah selera saya di genre horor, mengingat mereka sering memainkan komedi horor.

Yang menarik, saya tak sengaja menyewa sebuah film yang rupanya ada adegan seks. Ini (selain membaca komik The New Teen Titans yang ada kisah Trigon ayah Raven, judulnya seingat saya The Terror of Trigon) adalah pengalaman saya menonton adegan porn seks, dimana sang penjahat menggilir wanita-wanita. Judulnya, kalau tak salah, Shaolin vs Lama (1983). Saat saya menonton dan kebingungan, orang tua saya tiba dan kaget. Saya juga kaget, "Oh ini gak boleh ditonton anak kecil, toh?

Budaya video ini menarik, karena memungkinkan seseorang, termasuk anak kecil seperti saya, bisa merekam acara dari TV, seperti Aneka Ria Safari (termasuk adegan lawak di tengah-tengahnya, sekitar 10-15 menitan), Operet Lebaran Papiko, dan...favorit kami semua: Paguyuban Lawak di setiap hari pertama Idul Fitri! Karena itu kami hapal lagu-lagu dan dialog-dialognya. Khususnya Warkop DKI-Bagito. Dengan budaya video, saya juga bisa mekloning video lain.


Tentu saja, tidak boleh dilupakan juga adalah ritual akhir pekan (selain ke Toko Nam atau Siola) adalah ke Trio Video Tara, toko rental video yang besar di dekat Hotel Hyatt Surabaya, dimana saya juga rutin diajak ke sana. Jauh sebelum ada istilah binge-watch, saya dan keluarga sudah menonton maraton serial silat seperti trilogi Legend of Condor Heroes/Sin Tiaw Eng Hiong (Kwee Ceng-Oey Young), Return of Condor Heroes/Sin Tiaw Hiap Lu (Yoko- Bibi Liong, debutan Andy Lau kalau tak salah), dan Demigods and SemiDevils/To Liong To (Tio Buki-Tio Beng). Di bulan Ramadhan, kami bisa menghabiskan waktu dari setelah shalat Tarawih hingga menjelang Sahur.

Tak lupa seri film-film robot dan tokukatsu seperti Voltus V, Megaloman hingga God Sigma.

Itulah beberapa hal yang secara langsung tak langsug membentuk selera dan kecintaan saya akan medium sinema. Tentu saja, sepertinya ini fenomena budaya pop yang terjadi di seantero Indonesia, khususnya kota-kota besar. Tapi saya mengalaminya saat di Surabaya.

Bagaimana dengan kalian?



 






Saturday, December 12, 2020

Banyak Ayam, Banyak Rezeki: Surreal Comedy + Mockumentary + The Other Side of Madani


Film Banyak Ayam Banyak Rezeki (Riboet Akbar dan Önar Önarsson, 2020)  adalah sebuah film yang jenaka cenderung sarkas, kritis, nakal, subversif, dan mungkin paling berani dalam mengungkapkan isu islam dan gender setelah Para Perintis Kemerdekaan (Asrul Sani, 1977).

Tidak hanya itu, film berdurasi 101 menit ini  menyajikan sebuah hibrid baru bagi genre film di Indonesia, yang sebenarnya cocok untuk mengkrisi isu-isu sensitif. ia adalah campuran antara dark comedy yang bahkan mengarah ke surreal comedy nan absurd ala Monty Python, dengan mockumentary (seolah-olah dokumenter) model Borat. Dan tentu ada banyak referensi yang terlihat di sana sini saat menontonnya, tapi saya akan fokus pada dua hal ini. 

Sependek pengetahuan saya, tidak banyak film Indonesia yang bergenre mockumentary (selain Keramat, apa ya?) dan surreal comedy (mungkin Matt Dower karya Nyak Abbas Akub, yang sayangnya saya hanya lihat cuplikan-cuplikan pendeknya dari koleksi Pak David Hanan). Dan film ini adalah gabungan keduanya. Plus, karena mengangkat isu-isu yang erat dengan masyarakat muslim, kali ini dengan sisi lain dari umat Islam negeri ini, film ini juga saya anggap sebagai gambaran dari The Other Side of Madani Film. Sintesisnya membuat film ini menjadi one of a kind, unik.

Bagi kalangan tertentu, film ini bisa dianggap terlalu berani, subversif dan malah blasphemy. Tapi bagi yang berpikiran terbuka dan punya selera humor yang tinggi, maka akan disadari bahwa ini adalah penggambaran absurd yang cerdas dan dalam tentang sebuah fenomena dalam masyarakat: Poligami.

Ya, Poligami. Tapi sangat berbeda dengan film-film poligami yang pernah ada. Selain dari cerita dan cara bertutur yang unik seperti dibahas di atas (yang sebaiknya disaksikan sendiri), film ini berkisah juga tentang klenik, kejawaan, dan menyinggung fenomena profesi "motivator". Inilah kisah sukses Arjun, seorang guru yang beralih menjadi pengusaha ayam goreng, Kaliurang Fried Chicken alias KFC, yang, menurut klaimnya,  menjadi berhasil justru karena melakukan poligami. Tak hanya itu, Arjun yang menjadi selebriti itu pun mengangkat dirinya menjadi sumber inspirasi dan membuat acara "Poligami Award". 

Olok-olok juga terlihat saat kita dengan sadar dibenturkan dengan dua hal yang ironis (misalnya, sang guru spritual yang awalnya memberikan nasihat untuk nambah istri, malah ikuti jejak Arjun berdagang KFC), atau dengan terang-terangan menyandingkan antara Kaliurang dan sumber aslinya (Kentucy) yang sama-sama disingkat KFC, dan tentu dengan simbol dan ikon Jawa dan Islam (lukisan Nyai Roro Kidul, berjilbab tapi berpakaian seksi, radio "merek" Islam, "Republik Toa" yang punya volume hingga 11 seperti di klip video Black and White). Juga perbenturan   ideologi (mengganti nama Poligami Award dengan Feminis Award). Termasuk antara adengan dengan lagu (saat ada adegan yang memperlihatkan Arjun melakukan hal tak etis dengan lagu berlirik tentang pemimpin sebagai panutan).

Film ini sebaiknya ditonton langsung, masih bisa disaksikan di Festival Film Dokumenter secara gratis hingga 14 Desember di tautan ini.

Sekadar trivia:  Ini adalah film kedua yang saya tonton tahun ini yang punya adegan yang memperdengarkan suara adzannya, setelah  Flowers and Butterfly (film Thailand penutup Madani Film Festival tahun ini). Dan banyak sekali lagu-lagu lawas yang bertebaran di sini. 

Oh,ya, bagi para akademisi film, silahkan perhatikan cameo-cameo yang ada di sini. 

Trailer:

 


Sunday, December 6, 2020

Catatan FFI di Tahun Pandemi

Selamat kepada seluruh pemenang Festival Film Indonesia 2020!

Khususnya kepada Joko Anwar dan "Perempuan Tanah Jahanam" yang meraih 6 Piala Citra, termasuk Sutradara Terbaik dan Film Terbaik.

Catatan saya seputar FFI di kala pandemi:
1. Setuju dengan Joko Anwar dkk yang mengatakan penyelenggaraan FFI kali ini luar biasa, khususnya di kala pandemi tapi masih bisa menghadirkan acara penganugerahan yang bersahaja tapi khikmat dan meriah.
2. Akhirnya film horor menjadi film terbaik FFI, setelah 2 tahun sebelumnya masuk nominasi ("Pengabdi Setan"). Hal yang tak terbayangkan di era Orde Baru dengan bingkai ideologi "Kultural Edukatif" dalam "Film Nasional" versi mereka.
Kurang lebih sepakat dengan mbak Shanty Harmayn saat pidato kemenangan. Janganlah kita merendahkan genre apapun, karena pada akhirnya orang-orang kreatif di balik pembuatannyalah yang menentukan sebuah film bermutu atau tidak. Ingat, banyak sutradara besar membesut film bergenre popular, termasuk horor: Kubrick, Scorsese, Coppola, dll.
Jangan lupa, di FFI 2020 ada "Ratu Ilmu Hitam" (2 Citra dari 6 nominasi) dan "MangkuJiwa" (2 nominasi)
3. Pandemi membuat panitia FFI juga mempertimbangkan film-film yang belum tayang di bioskop: "Mudik", "Guru-Guru Gokil", dll. Sayang "Bidadari Mencari Sayap" tidak ikutan.
Ini menunjukkan bahwa bioskop bukan lagi satu-satunya tolok ukur dan barometer di jalur distribusi/eksibisi, dan mempertimbangkan jalur distribusi dan eksibisi alternatif. Yang penting: filmnya telah bertemu dengan penontonnya.
4. Senafas dengan no 3, jangan lupakan film-film nominee yang bukan dari jalur arusutama: "The Science of Fictions", "Mountain Song", dan "Humba Dreams".
Semoga film Indonesia cepat bangkit kembali!

Monday, November 2, 2020

Kursus Online: Bagaimana Menjadi Kritikus Film Sukses

 Kamu suka nonton film? Suka membuat review dari film yang kamu tonton? Bisa banget nih kamu jadi kritikus film! Naaah di IndonesiaX Premium, Ekky Imanjaya PhD, Pengulas Film dan Dosen Departemen Film Fakultas School of Design Universitas Binus akan berbagi ilmu mengenai dunia kritikus film.

.

Di kursus ini, kemampuan dasar menganalisa film dan kepenulisan kamu akan diasah hingga kamu bisa terjun menjadi kritikus film yang handal dan sukses. Jangan lewatkan kursusnya hanya di IndonesiaX Premium!

Info dan registrasi: https://www.indonesiax.co.id/premium/courses/course-v1:IndonesiaX+EKKY101+2020_Run1/about 





Kisi-kisi: 




.

#indonesiaxpremium #film #kritikfilm #ekkyimanjaya #belajardarirumah #KursusOnline #KursusOnlineGratis #OnlineCourse #MOOC #KursusDaring #IndonesiaX #OnlineEducation #MassiveOpenOnlineCourse #KursusGratis #elearning #CaraBelajarBaru